Setiap hari media massa sibuk memberitakan angka pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. Bagi para pengamat, itu mungkin sekadar grafik dan angka statistik. Namun bagi kami, masyarakat biasa dan pelaku usaha kecil, angka-angka yang memerah itu langsung menjelma menjadi hantaman nyata di atas meja makan dan meja dagangan.
Efek domino dari anjloknya rupiah ini sudah melompat dari berita TV langsung ke pasar tradisional. Sebagai contoh paling sederhana, harga bahan baku pangan yang masih bergantung pada impor—seperti kedelai dan terigu—langsung merangkak naik. Akibatnya, para pedagang makanan dan UMKM berada di posisi buah simalakama. Mau menaikkan harga jual, takut ditinggal pembeli yang daya belinya juga sedang merosot. Tapi kalau harga tetap, mereka harus memutar otak memperkecil ukuran dagangan demi bertahan hidup.
Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen harus menghadapi kenyataan pahit: pendapatan tidak naik, namun nilai belanja bulanan terus membengkak. Ibu rumah tangga kini harus menyusun strategi super ketat hanya untuk memastikan kebutuhan pokok keluarga tetap terpenuhi.
Kita tentu tidak butuh narasi penenang bahwa "ekonomi makro kita masih relatif aman" jika kenyataan di akar rumput justru sebaliknya. Melalui surat pembaca ini, kami berharap Pemerintah dan Bank Indonesia tidak hanya fokus pada intervensi pasar uang, tetapi juga menaruh perhatian besar pada stabilisasi harga barang pokok di tingkat bawah. Jangan biarkan rakyat kecil berjuang sendirian di tengah badai ekonomi yang tidak mereka pahami ini.
Jangan biarkan rakyat kecil berjuang sendirian di tengah badai ekonomi ini. Dalam perspektif Islam, ketahanan ekonomi sejati tidak diukur dari angka makro yang semu, melainkan dari meratanya distribusi kekayaan agar tidak hanya berputar di lingkaran orang kaya saja. Pemerintah sebagai pemegang amanah harus hadir memastikan kebutuhan pokok rakyat terjamin harganya. Di saat yang sama, mari kita perkuat kembali semangat ta’awun (saling menolong) dan zakat-sedekah di tingkat lingkungan kita, agar tidak ada tetangga yang kelaparan di tengah himpitan rupiah yang kian mencekik.
Krisis yang terus berulang ini sejatinya menjadi alarm keras bagi kita. Sudah saatnya pemerintah beralih dari ketergantungan pada sistem keuangan yang rapuh dan mulai menerapkan prinsip ekonomi Islam yang menekankan pada sektor riil dan kemandirian pangan. Islam melarang penimbunan barang dan spekulasi mata uang yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Mengembalikan ekonomi pada sektor produksi nyata dan pengelolaan sumber daya alam yang amanah untuk rakyat adalah jalan keluar hakiki agar bangsa ini tidak terus-menerus didikte oleh naik-turunnya mata uang asing.
Ummu Aribah
Bogor, Jawa Barat