‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Ayah, Bebanmu Berat Butuh Sandaran Islam Kaffah


author photo

31 Jul 2026 - 20.07 WIB




Oleh: Dinnar Fitriani Susanti
Aktivis Muslimah Balikpapan 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional di Kabupaten Berau mengusung tema "Ayah Wajib Hadir" baik saat mengantar anak sekolah maupun dalam kehidupan di rumah, guna membangun kedekatan emosional dan menghilangkan kesan fatherless.
"Tema 'Ayah Wajib Hadir' memiliki makna mendalam. Sosok ayah yang membersamai tumbuh kembang anak akan meningkatkan kepercayaan diri anak," ujar Gubernur Kaltim  Rudy Mas'ud saat Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Kaltim di Tanjung Redeb, Berau, Kamis

Keharmonisan keluarga juga merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga ia mengajak tiap keluarga menumbuhkan semangat anak melalui pendampingan yang menyenangkan.
Ia juga mengatakan bahwa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar berbagai program pembangunan keluarga dapat berjalan optimal, termasuk upaya percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas pengasuhan anak.

Sekuler Kapitalis Rapuh Mendukung Ayah

Benar bahwa keharmonisan keluarga adalah satu bagian dari pentingnya tumbuh kembang anak dan kehidupan keluarga. Dan ini memiliki peran yang sangat besar di fase awal kehidupan generasi dalam keluarga.

Termasuk dalam tema yang di usung pada kegiatan tahunan hari keluarga dan anak tahun ini. Namun perlu melihatnya dengan lebih meluas dan mendalam, harapan nya peringatan ini tidak sekedar seremonial semata di setiap tahunnya. Peran ayah yang di harapkan dalam keluarga, menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan keharmonisan keluarga. Tantangan kesejahteraan, kesehatan, keamanan, keimanan dan pendidikan. 

Dan negeri ini masih memiliki tantangan besar untuk mewujudkan generasi emas untuk mewujudkan visi Indonesia emas 2045. 

Dengan begitu kompleksnya tantangan yang di hadapi oleh kepala rumah tangga, yaitu ayah. Maka himbauan edukasi agar ayah wajib hadir di rasakan belum cukup. Karena tantangan yang di hadapi oleh keluarga bersifat sistemik.

Ada arus besar kapitalis sekuler yang membuat beban keluarga semakin berat saat ini.

Kapitalis sekuler yang lebih mengukur keharmonisan bersifat materi, akan berbenturan dengan realitas manusia secara utuh. 

Ayah di tuntut agar memenuhi seluruh tantangan kebutuhan keluarga, yang sebenarnya hal itu tidak semuanya menjadi tanggung jawab ayah. 

Ada peran yang itu adalah harus di penuhi oleh negara semisal akses lapangan kerja karena ini kaitannya dengan kewajiban peran ayah. Kemudian pendidikan, kesehatan, keamanan dan sosial ini adalah peran negara yang jika di berikan kepada ayah atau keluarga akan memberatkan. 

Inilah kondisi realita negeri ini yang masih menjalankan sistem Kapitalis Sekuler. Sehingga akan sangat sulit jika hanya sekedar edukasi namun tidak di dukung oleh support sistem yang kuat menopang kehidupan keluarga yaitu negara.

Ayah Butuh Islam Kaffah

Ayat Ar-Rijalu Qawwamuna 'Ala An-Nisa' (An-Nisa: 34), Ayat ini berbicara tentang tanggung jawab laki-laki dalam memimpin dan mengelola keluarga (Kepemimpinan Laki-laki atas Perempuan).

Selain itu, ayat ini juga menjelaskan kewajiban suami dan istri terhadap satu sama lain, seperti kewajiban suami untuk menanggung kebutuhan hidup keluarga dan kewajiban istri untuk menjaga harta serta kehormatan suami.

Islam telah 14 Abad yang lalu telah jelas memberikan kedudukan yang jelas bagi laki-laki yang itu adalah melekat pada fitrahnya. Sebagai pencari nafkah, pelindung keluarga dan menjaga keluarga. 

Allah yang menciptakan seluruh manusia ini, telah memberikan peran ini tidak hanya sekedar kehidupan duniawi semata. Namun ini melekat dengan konsep ibadal. Dan inilah Islam merupakan Mabda (ideologi). Aturan kehidupan yang Kaffah (menyeluruh). 

Islam mewajibkan agar konsep ibadah ini menjadi pondasi dalam kehidupan. Ketika manusia mendapatkan amanah sebagai ayah, ibu, anak, kepala negara, rakyat semuanya harus menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan. 

Ketika Islam sebagai Mabda ini diterapkan dalam kehidupan maka rahmatan Lil alamin pasti akan terwujud.

Peran ayah sebagai kepala keluarga tidak sekedar mencari nafkah, namun Ayah juga sebagai imam atau teladan dalam pelaksanaan kehidupan keluarga. Hal ini akan sangat mudah terlaksana karena negara memberikan suasana yang kondusif sebagai support sistem untuk ayah. 

Lapangan pekerjaan wajib negara sediakan, dengan tugas negara mengambil peran untuk memetakan kepemilikan umat, seperti sumber daya alam negeri ini yang begitu melimpah, minyak bumi, batu bara, emas, nikel, hutan, laut dan sebagainya. Jika ini di miliki oleh negara maka peluang lapangan kerja untuk ayah semakin luas. 

Tidak hanya itu, peran ayah juga semakin ringan. Karena kebutuhan publik seperti kesehatan, pendidikan, keamanan dan sosial di terapkan oleh negara dengan melaksanakan aturan Islam. 

Inilah sistem Islam yang sangat dibutuhkan oleh Ayah, agar perannya bisa maksimal mewujudkan keluarga harmonis dan generasi emas.
Bagikan:
KOMENTAR