Oleh : Liana Yulita (Aktivis Muslimah Balikpapan)
“Anak-anak ialah hidup yang kita pinjam dari masa depan” merupakan salah satu quotes dari tokoh dunia Maria Montessori. Dimana hari ini generasi kita mulai kehilangan arah dan tujuan yang jelas. Kian hari problematika terhadap generasi kian banyak dan memprihatinkan. Tidak hanya dalam pergaulan. Namun juga dalam tumbuh kembang anak pun mempengaruhi pembentukkan karakter mereka dalam kehidupannya.. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menjadikan generasi ini berkualitas. Salah satunya yang dilakukan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dalam programnya GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Program ini diharapkan dapat berguna dalam memupuk kepercayaan diri pada anak dan menekan fenomena fatherless yaitu anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat sibuk kerja maupum sebab lain, ucap Kepala Perwakilan Kemendugbangga/BKKBN Kaltim Sunarto. Dalam hal ini Kemendukbangga menggandeng instansi dan pihak terkait baik Tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, seperti pendampingan dan penguatan kapasitas, memperkuat peran tim pendamping keluarga yang berasal dari unsur bidan, kader KB dan PKK. Kemudian memperkuat jejaring melalui kombinasi program GATI dengan program Gerakan Ayah Asuh Cegah Stunting (Genting) dan lainnya, yang melibatkan dunia usaha, kampanye, dan pemahaman tentang pentingnya kasih sayang ayah.
Ilusi sistem sekulerisme
Krisisnya generasi berkualitas di negeri ini sesungguhnya berakar pada sistem pendidikan sekuler kapitalisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini telah menghapus orientasi spiritual dan moral. Karenanya problematika kian terus bertambah dalam keluarga. Program GATI pun di rasa tidak akan mampu menyelesaikannya karena tidak menyentuh akar masalah yang sistemik ini. Fenomena fatherless kian marak terjadi, akibatnya pembentukan karakter pada anak tidak sempurna. Padahal ayah adalah pemimpin, pendidik, dan pelindung keluarga. Sejatinya kualitas generasi dipengaruhi banyak faktor, yang mengiringi perjalanan hidup seorang anak. Oleh karena itu, pembentukan generasi yang berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah yang berkualitas. Mirisnya hari ini, ayah juga menjadi korban sistem yang diterapkan sehingga belum berkualitas. Fenomena fatherless dalam keluarga kini memasuki fase darurat di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat pada hasil Pendataan Keluarga (PK25) oleh Kemendugbangga/BKKBN menunjukkan bahwa 1 dari 4 anak atau 25,8% anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless. Angka ini bukan sekedar statistik, namun potret penting mengenai kualitas pengasuhan dan dinamika keluarga di Indonesia saat ini. Fenomena fatherless kian banyak bukan karena masalah individu semata tapi persoalan struktural. Sistem kehidupan berbasis kapitalistik sekuler yang tidak hanya fatherless tapi juga problem motherless. Ayah tersibukkan dengan pekerjaannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, ibu yang juga bekerja untuk menambah pemasukkan keluarga karena dihadapkan dengan kebutuhan yang kian banyak dan harga2 pokok kebutuhan hidup yang terus tinggi nilainya. Pengasuhan dalam Islam Islam sebagai ideologi yang rahmatan lil’alamiin berperan penuh dalam rangka melejitkan peran para ayah. Sistem Islam senantiasa terdepan dalam membangun ketahanan keluarga dengan strategi utama melejitkan peran ayah serta menjaga peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Sebuah keluarga dikatakan mempunyai ketahanan tatkala seorang ayah yang merupakan kepala dan penanggungjawab utama keluarga mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Kebutuhan disini mencakup naluri, fisik, dan akal. Terpenuhinya kebutuhan tersebut membawa pada suasana kehidupan keluarga yang harmonis, tenang , dan tentram.
Maka disinilah pentingnya Islam hadir dalam tubuh institusi pemerintahan yaitu Negara Islam (Khilafah). Negara yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya, sebagaimana pada era kekhilafahan dulu. Benar, di tangan para ibulah letak kunci ketahanan keluarga, Namun di tangan para ayahlah terletak pintu gerbang menuju tercapainya ketahanan tersebut. Dalam sekian abad tegaknya sistem Islam di muka bumi, dari keluargalah lahir tokoh-tokoh besar. Islam menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, ayah dan ibu. Namun juga disertai dengan supporting sistem, termasuk peran masyarakat dan negara dengan segala kebijakannya dalam berbagai bidang. Penerapan Islam Kaffah meniscayakan terbentuk generasi pelopor perubahan penerus risalah Islam. Wallahualam bissawab