Menakar Peran Penting Negara Dalam Mewujudkan Sistem Pendidikan Terbaik Bagi Generasi


author photo

4 Jul 2026 - 23.33 WIB



Oleh : Siti Rima Sarinah

Kualitas pendidikan terbaik merupakan indikasi kemajuan sebuah negara. Karena pendidikan adalah tonggak peradaban sebuah negara agar dapat menjadi negara yang maju serta dapat berkompetisi dengan negara yang lain. Dari sektor pendidikanlah, negara dapat mencetak sosok-sosok berilmu yang menjadi aset negara kelak akan melanjutkan estafet perjuangan bangsa di masa yang akan datang. Sebab, tanpa ilmu yang diperoleh dari pendidikan, maka sebuah negara akan mengalami kegelapan, keterbelakangan dan dengan mudah dikuasai/dijajah oleh negara lain.

Pengunduran diri 60 ribu mahasiswa yang telah dinyatakan lulus melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), menuai perhatian publiknya. Pasalnya, pengunduran ini dilakukan karena terbentur dengan biaya uang kegiatan tahunan (UKT) yang sangat mahal, walaupun mereka sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Harapan untuk kuliah di PTN pupus sudah karena biaya UKT yang tidak murah dan tidak ada bedanya dengan kampus swasta.

Fenomena ini memunculkan perdebatan antara Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yang meminta mengadakan penelusuran penyebab 60 ribu mahasiswa tidak memanfaatkan hak kursi kuliah mereka. Ada tiga faktor yang disinyalir pengunduran mahasiswa tersebut antara lain, kesalahan memilih program studi, diterima di kampus yang lebih ideal dan ketidakmampuan finasial akibat tidak terserap dalam skema bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah (suara.com, 28/06/2026)

Potret Buram Pendidikan

Persoalan panjang pendidikan terus mewarnai negeri ini. Padahal pendidikan merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk menjamin terwujudnya akses pendidikan bagi generasi bangsa. Mahalnya biaya pendidikan menjadi persoalan krusial yang mengakibatkan banyak generasi yang harus memupus harapan dan cita-cita untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Pendidikan di negeri ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang berkantong tebal. Walaupun memiliki kecerdasan tidak serta merta memudahkan generasi untuk bisa mengenyam pendidikan hingga ke bangku kuliah. Padahal para siswa sudah berupaya keras dengan belajar dan belajar untuk mempertahankan nilai akademik agar mampu dalam tes masuk PTN. Lulus di PTN bukan berarti perjuangan telah usai, para siswa harus dihadapkan dengan biaya kuliah yang tidak murah dan akhirnya memlih untuk mundur karena ketidakmampuan finansial.

Fakta ini membuktikan modal pintar saja tak cukup tanpa dibarengi modal finansial. Karena pada akhirnya yang mampu menyandang gelar mahasiswa bukanlah orang yang pintar dan tinggi nilai akademiknya. Melainkan orang-orang yang memiliki uang, walaupun tidak memiliki nilai akademik yang tinggi. 

Disisi lain, memang pemerintah menyediakan program beasiswa, tetapi beasiswa itersebut hanya mampu mencover biaya kuliah para siswa yang terkategori miskin dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ditambah administrais dan sulitnya birokrasi untuk mendapatkan beasiswa tersebut, sehingga hanya sebagian “siswa yang beruntung” yang bisa mendapatkannya.

Dukungan Negara Dalam Dunia Pendidikan

Melirik keberhasilan pendidikan di negeri Singapura, walaupun negerinya kecil dan sumber daya alam yang sangat minim tetapi mampu menjadi top dunia di bidang sains dan teknologi. Dengan berpegang pada filosofi “manusia adalah sumber daya yang paling penting”, menjadikan pendidikan sebagai proyek untuk bertahan hidup. Ada 4 pilar keberhasilan dunia pendidikan di Singapura. Pertama, guru, profesi yang paling dihormati dan diseleksi dengan ketat. Rata-rata yang melamar menjadi guru lulusan universitas dengan gaji yang setara dengan insinyur. Gaji guru senior bisa digaji sekitar Rp 50 juta/ bulan. Training dan pelatihan guru diadakan setiap tahun, guru dikirim untuk belajar ke finlandia, Jepang dan negara-negara lain, yang semuanya dibiayai oleh negara.

Kedua, kurikulum STEM (berfikir bukan hafalan). Pelajaran matematikan dan sains menggunakan metode “Singapore Math” yang dipakai hingga 70 lebih negara, yang fokus pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah bukan hanya bergantung pada rumus semata. Coding masuk kurikulum SD-SMP, anak diajarkan berfikir komputasional dari kecil. Dan siswa SMA wajib membuat proyek riset tim, dari melatih riset, presentasi dan kerjasama, sehingga siswa di Singapura terkenal jago debat dan inovasi.

Ketiga, negara memberikan subsidi yang sangat besar untuk dunia pendidikan dari level SD-SMA hampir gratis. Di tingkat universitas juga memberikan subsidi-70-80% yang diberikan negara kepada siswa. Ditambah adanya beasiswa masif yang diberikan negara untuk mengenyam kuliah ke luar negeri, dan wajib pulang dan kerja untuk negara selama 6 tahun. Singapura juga menyediakan bantuan untuk orang miskin yang bernama “Edusave” dan “Financial Assistance Scheme”, sehingga orang miskin tetapi bisa mengenyam pendidikan.

Keberhasilan negara hadir dalam mendukung pendidikan menjadikan Singapura menjadi peringkat pertama dunia dalam bidang Matematika & Sains sejak 2015. Masuk Top 20 Universitas Dunia versi QS 2026 dan mempunyai SDM yang memiliki talenta AI, biotech, enginner chip yang diperebutkan dunia. Kehadiran 100% negara sehingga tidak mengatakan pendidika itu mahal, melainkan kebodohanlah yang lebih mahal. Karena pendidikan merupakan investasi untuk generasi dan negara.

Mengembalikan Peran Negara Sesungguhnya

Singapura hanya salah satu contoh dari negara-negara yang concern terhadap dunia pendidikan dan generasi. Karena memahami pentingnya pendidikan dan ilmu yang menjadi indikiasi kemajuan sebuah negara. Tanpa kehadiran negara, sebuah kemustahilan kemajuan dunia pendidikan akan terwujud. Sehingga negara sebagai pihak yang diamanahi untuk terpenuhi hajat hidup rakyat harus memahami tupoksinya. Dengan mengembalikan perannya dengan ditopang oleh seperangkat sistem yang benar. Agar dapat menampilkan diri sebagai negara yang mandiri, indenpen dan berdaulat tanpa tergantung dengan negara-negara lain.
Bagikan:
KOMENTAR