‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Metode Islam Mencetak Kepribadian Saleh Dan Unggul


author photo

22 Jul 2026 - 15.34 WIB



Oleh : Siti Nur Ainun Ajijah (Pemerhati Masalah Umat)
Berawal dari balapan liar berujung aksi penusukan, itulah yang terjadi di Kota Samarinda pada Selasa (14/7/2026) dini hari. Dua remaja harus dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis setelah menjadi korban serangan senjata tajam yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang di kawasan Jalan Sirad Salman, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu.

Berdasarkan informasi di lokasi, peristiwa tersebut berawal saat kedua kelompok remaja diduga sepakat bertemu di sebuah lokasi pencucian motor di kawasan Siraj Salman untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Namun pertemuan tersebut justru berujung aksi pengeroyokan dan penusukan. Ada sekitar 6 anak yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.

Setelah insiden terjadi, para pelaku langsung melarikan diri. Dua remaja mengalami luka akibat senjata tajam, satu orang mengalami luka sayatan di bagian tangan sementara satu remaja lagi mengalami luka tusuk di bagian pinggang belakang.
  https://kaltimetam.id/diduga-dipicu-perselisihan-balap-liar-dua-remaja-alami-luka-senjata-tajam-dalam-penyerangan-di-samarinda/

Aksi penusukan yang menimpa dua remaja di Jalan Sirad Salman Samarinda dini hari itu kembali memperlihatkan bahwa kekerasan di kalangan remaja bukan lagi kasus yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari krisis yang mendasar, yaitu krisis kepribadian.

Kekerasan yang dilakukan remaja tidak lahir dalam ruang hampa. Mereka tumbuh di tengah arus kehidupan yang setiap hari menyuguhkan tontonan kekerasan, budaya permisif, dan kebebasan tanpa batas. Media digital dipenuhi konten yang mengglorifikasi aksi brutal, sementara ukuran benar dan salah semakin kabur. Akibatnya kekerasan perlahan kehilangan daya kejutnya dan diangap sebagai cara yang lumrah untuk menyelesaikan masalah. 

Ketika standar hidup tidak lagi dibangun atas halal-haram, melainkan sekedar mengikuti trend dan kebebasan berekspesi, maka perlahan rasa empati akan terkikis. Akibatnya, kekerasan bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, tetapi perlahan menjadi suatu hal yang biasa.

Lebih memprihatinkan, sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan Islam dipersempit hanya menjadi urusan ibadah ritual. Sementara cara berpikir dan bersikap dibentuk oleh tren, lingkungan, dan media sosial. 

Ketika akidah tidak lagi menjadi landasan berpikir, emosi menjadi pengendali utama. Perselisihan kecil dapat berubah menjadi dendam, pengeroyokan, bahkan penusukan. Padahal, Islam menjelaskan bahwa manusia memiliki gharizah baqā’, yaitu naluri mempertahankan diri. Naluri ini merupakan fitrah yang harus diarahkan oleh syariat, bukan dibiarkan mengikuti hawa nafsu. 

Tanpa bimbingan Islam, naluri tersebut dapat berubah menjadi perilaku agresif dan destruktif. Karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada razia balap liar, penegakan hukum, atau imbauan moral sesaat. Semua itu hanya menyentuh gejala, bukan akar persoalan. 

Saat ini yang dibutuhkan adalah pembentukan kepribadian Islam sejak dini. Akidah Islam harus menjadi pondasi cara berpikir dan bersikap sehingga setiap tindakan diukur dengan halal dan haram, bukan sekadar untung-rugi atau menang-kalah. 

Keluarga menjadi madrasah pertama yang menanamkan keimanan dan akhlak. Lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membentuk karakter yang berlandaskan syariat. Para ulama, pendidik, dan pegiat dakwah memiliki peran penting membimbing generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap umat serta menjauhi perilaku maksiat dan kekerasan.

 Di era digital, dakwah juga harus hadir menguasai ruang media. Generasi muda perlu dibina menjadi penyebar konten yang menguatkan akidah, akhlak, dan semangat kebaikan. Ruang digital tidak boleh terus dibiarkan didominasi konten yang merusak pola pikir dan perilaku generasi. Pemuda membutuhkan komunitas yang menjaga mereka dalam kebaikan, figur yang layak dicontoh. Serta aktivitas dakwah yang membentuk karakter dan kepedulian terhadap umat.

Remaja sejatinya adalah aset peradaban. Di tangan merekalah masa depan masyarakat ditentukan. Apabila mereka dibina dengan akidah Islam yang benar, akan lahir pribadi-pribadi yang sholeh, unggul, berani membela kebenaran, sekaligus mampu mengendalikan hawa nafsunya. Namun, jika mereka terus dibesarkan dalam sistem yang menjauhkan Islam dari kehidupan, maka berbagai bentuk kenakalan dan kekerasan hanya akan terus berulang dengan korban yang silih berganti. 

Peristiwa di Samarinda semestinya menjadi alarm bagi semua pihak. Sudah saatnya perhatian terhadap generasi tidak hanya diarahkan pada pencegahan kejahatan, tetapi juga pada pembentukan kepribadian yang benar. Sebab hanya dengan kepribadian Islam yang kokoh akan lahir generasi yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu menjadi penjaga keamanan serta kemuliaan masyarakat. Wallahu a’lam bishawwab
Bagikan:
KOMENTAR