‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Penyerahan Excavator Dan Peusijuek : Bentuk Penggarapan Pemulihan Ekonomi Pesisir Pidie Jaya Pasca Bencana


author photo

30 Jul 2026 - 22.49 WIB



PIDIE JAYA — Di tengah hamparan tambak yang rusak dan saluran air yang tersumbat lumpur akibat bencana hidrometeorologi, sebuah secercah harapan—atau lebih tepatnya, seunit alat berat—akhirnya mendarat di Kabupaten Pidie Jaya. Tidak tanggung-tanggung, bantuan berupa 1 (satu) unit excavator Komatsu PC135F hibah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia diserahkan secara resmi oleh Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA., S.Sos., M.Si.

Namun, penyerahan mesin pengeruk ini tidak berlangsung biasa. Sebelum mengarungi medan berat pesisir, sang ekskavator terlebih dahulu menjalani ritual sakral Peusijuek (tepung tawar) yang dipimpin langsung oleh ulama kharismatik, Abya Dr. H. Anwar Usman, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pidie Jaya. Sebuah prosesi spiritual yang paripurna: menegaskan bahwa alat berat besi kuning ini kini tidak hanya dibekali tenaga mesin Komatsu dan bahan bakar solar, melainkan juga restu langit untuk memikul beban raksasa pemulihan ekonomi di wilayah pesisir.

Matematisasi Harapan: 1 Mesin Melawan 8 Kecamatan
Yang paling memikat dari narasi pemulihan ini adalah kalkulasi ekonomis dan geografisnya. Ekskavator Komatsu PC135F tunggal ini diproyeksikan menjadi "pahlawan utama" yang menopang percepatan pemulihan sektor kelautan dan perikanan di delapan kecamatan sekaligus.
Bila dihitung secara matematis, jika satu kecamatan memiliki puluhan hektar tambak produktif yang rusak beserta jaringan saluran air yang hancur, maka sang Komatsu harus bekerja tanpa lelah. Operatornya mungkin perlu menyusun alokasi jam kerja yang presisi tinggi: membagi jatah pengerukan per jam atau per meter kubik tanah secara adil, agar tiap kecamatan sempat merasakan sentuhan pengerukan sebelum berganti bulan.

"Kita masih memiliki pekerjaan besar untuk memulihkan sektor perikanan pascabencana. Bantuan ini menjadi tambahan kekuatan bagi pemerintah daerah agar pekerjaan di lapangan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Yang paling penting, manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat kita di delapan kecamatan," ujar Bupati H. Sibral Malasyi penuh optimisme.

Optimisme Bupati Sibral Malasyi memang luar biasa. Beliau dengan tegas mengingatkan bahwa pemulihan tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik semata, melainkan harus menjamin masyarakat kembali beraktivitas ekonomi. Tambak harus produktif kembali, dan nelayan harus kembali melaut. Kehadiran satu unit ekskavator ini pun diposisikan sebagai amunisi krusial untuk menggerakkan kembali seluruh roda perekonomian pesisir Pidie Jaya.

"Bertahap dan Proporsional": Seni Diplomatik Membagi Yang Tunggal
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pidie Jaya, Fajri, S.Pi., mengemban tugas manajerial yang tak kalah pelik: mengatur antrean delapan kecamatan yang sama-sama mendesak membutuhkan jasa sang pengeruk tanah.

Fajri menjelaskan bahwa selama masa pemulihan, DKP terus melakukan pendataan, identifikasi masalah, dan koordinasi. Masalah di lapangan memang sangat kompleks, mulai dari tambak yang terendam, tanggul jebol, hingga saluran pendukung yang dangkal.

"Permasalahan yang dihadapi masyarakat kita cukup beragam, mulai dari kondisi tambak, saluran hingga sarana pendukung kegiatan perikanan. Dengan adanya alat ini, kemampuan kita untuk mendukung pekerjaan di lapangan menjadi lebih besar. Pemanfaatannya akan diarahkan secara bertahap dan proporsional sesuai kebutuhan di delapan kecamatan, dengan tetap memperhatikan prioritas masyarakat yang terdampak," ungka Kadis DKP.

Frasa "bertahap dan proporsional" di sini menjadi formula sihir birokrasi. Secara praktis, petambak di Kecamatan A harus melatih tingkat kesabaran yang tinggi sementara sang Komatsu sedang merayap menyelesaikan tugasnya di Kecamatan B, C, hingga H. Sebuah manifestasi keadilan yang dibagi secara bergiliran.

Harapan Besar Pada Pusat dan Pahlawan Tunggal Pesisir
Kadis DKP juga menegaskan komitmennya untuk menjaga dan mengelola bantuan ini secara optimal agar menjadi aset produktif daerah. Namun, di balik itu, DKP menyimpan harapan tersirat agar Pemerintah Pusat tidak berhenti di sini. Memulihkan kerusakan ekosistem pesisir pascabencana hidrometeorologi di delapan kecamatan hanya dengan satu unit ekskavator ibarat memadamkan kebakaran lahan dengan satu timba air—sangat heroik dan patut dipuji, namun tentu akan jauh lebih bertenaga bila disusul oleh armada-armada berikutnya.

Kendati demikian, prosesi peusijuek dan penyerahan excavator Komatsu PC135F ini tetaplah sebuah tonggak sejarah kecil yang patut dirayakan. Kini, para nelayan dan petambak Pidie Jaya setidaknya dapat menatap masa depan dengan secercah kelegaan: jika minggu ini tambak mereka belum tersentuh pengerukan, mereka tahu pahlawan tunggal beroda rantai itu sedang berjuang mati-matian di kecamatan tetangga.(Gg)


(Sumber Rujukan Resmi: Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan / Prokopim Setdakab Pidie Jaya)
Bagikan:
KOMENTAR