Oleh: A Tenri Sarwan, S. M
Penderitaan yang terus berlangsung, satu pertanyaan semakin menggema: di mana kemanusiaan ketika anak-anak menjadi korban? Ketika suara tangis mereka seakan tenggelam di tengah hiruk-pikuk dunia, sudah seharusnya kita kembali bertanya, masihkah nilai kemanusiaan benar-benar hidup? Atau justru telah mati?
Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Hannan Sulieman, antara Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur—"lebih dari satu anak setiap minggunya,"
Lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya terluka akibat peluru tajam. Dalam periode yang sama, 3 anak Israel tewas dan 15 lainnya terluka. 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel—"jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir." (News.republika.co.id, 12/08/2026)
Setiap anak seharusnya mengenal dunia melalui tawa, permainan, dan kasih sayang. Namun, bagi anak-anak Palestina, masa kecil justru dipenuhi ketakutan, kehilangan, dan luka yang tak seharusnya mereka tanggung. Apa sebenarnya yang harus dilakukan? Saat segala upaya telah dilakukan mengapa derita Palestina kian menganga?
Akar Masalah Yang Kabur
Umat masih belum juga sadar. Derita Palestina tak kunjung selesai sebab sejak awal umat lagi-lagi salah kaprah terhadap akar masalah persoalan yang terjadi di Palestina. Sehingga derita saudara muslim kita tak kunjung menunjukkan jalan keluar yang berarti.
Realitas Palestina adalah tentang aqidah Islam, tentang kehormatan dan tanggung jawab seluruh kaum muslim. Ini bukan tentang isu kemanusiaan ataupun konflik geopolitik belaka. Ini tentang ujian keimanan. Ini tentang ukhuwah Islamiyyah yang terkubur.
Maka, empati tidak cukup bahkan perasaan ini bukan milik kaum muslim dalam memandang masalah Palestina. Melainkan dibutuhkan kesadaran yang konsisten, terarah dan berkelanjutan sebab ini berbicara soal aqidah kaum muslim. Selama aqidah Islam bersemayam dalam diri kaum muslim maka selama itu juga masalah Palestina akan terus menuntun mereka menemukan solusi hakiki. Bukan berupa respons reaktif dan parsial yang berujung pada simpati, kecaman, atau aksi-aksi sesaat tanpa menyentuh akar persoalan sebenarnya.
Lebih lagi jika dalam hati dan pikiran umat Islam terbersit setitik harapan pada sistem rusak dan merusak sekuler kapitalisme hari ini agar mampu menyelesaikan masalah Palestina. Padahal telah nyata bahwa sistem hari ini adalah akar yang melanggengkan penjajahan dan genosida di Palestina.
Masalah Palestina telah menampakkan kebohongan narasi Barat, tentang perdamaian, anti penjajahan, HAM dsb. Inilah kegagalan yang telah nampak di depan wajah umat Islam. Lantas, mengapa umat masih mencukupkan diri dengan narasi-narasi kosong yang bersumber dari Barat? Tentang organisasi-organisasi, tentang lembaga-lembaga, tentang konferensi demi konferensi nyatanya semuanya mandul dan tak berguna. Mereka semua hanya hadir dan turut mengukuhkan keberlangsungan penjajahan terhadap Palestina. Masihkah umat menikmati lakon di panggung dunia dan menyaksikan anak-anak yang tak berdosa menjadi korban kebiadaban? Memandang semua yang berasal dari Barat adalah dewa penolong bagi Palestina? Padahal sejatinya semuanya hanyalah tipuan belaka. Bagi mereka Palestina hanya komoditas demi kepentingan hegemoni mereka. Sampai kapan umat menikmati ketertipuan ini?
Mengembalikan Junnah Hakiki
Islam agama sempurna dan paripurna yang bersumber dari Sang Pencipta yang hadirnya adalah rahmat bagi seluruh alam. Kesempurnaan Islam hadir sebab dia memiliki aturan lengkap dan menyeluruh. Bukan hanya tentang aturan antara manusia dengan Rabb-Nya, manusia dengan dirinya sendiri tetapi yang terkadang terlupa padahal inilah titik krusial yaitu aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya.
Masalah Palestina akan terus berlanjut, anak-anak akan terus menjadi korban kebiadaban dan hanya akan selesai ketika akarnya dicabut, tidak lain dengan menghilangkan sistem yang mendukungnya. Dan ini membutuhkan kekuatan yang berasal dari umat itu sendiri, berupa tegaknya institusi yang juga adidaya. Sebab, hari ini hegemoni Baratlah yang menguatkan para Zionis laknatullah.
Masa depan Palestina adalah masa depan seluruh kaum muslim dunia. Pembebasannya adalah kabar gembira langsung dari Rasulullah SAW. Hanya dalam kepemimpinan Islam Palestina terjaga dan terlindungi. Umar Bin Khattab telah menerima kuncinya langsung, Shalahuddin telah membebaskannya kembali saat dirampas pasukan Salib. Sultan Abdul Hamid II lebih rela tubuhnya terkoyak daripada melihat sejengkal tanah Palestina dijual ke musuh.
Hari ini, umat telah kehilangan pelindung dan junnah hakiki dan Rasulullah SAW. Telah ingatkan dengan lisannya yang mulia, “Imam/khalifah adalah perisai, di belakangnya umat berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR Bukhari dan Muslim).
Umat kehilangan perisai dan pelindung, inilah yang menyebabkan umat Islam tercerai-berai. Maka, mengembalikan junnah hakiki inilah tugas utama umat hari ini. Institusi Daulah Islam, masa depan kaum muslim yang akan memimpin umat menuju pembebasan bukan hanya Palestina tapi seluruh negeri-negeri muslim.
Karena hanya dengan tegaknya Daulah Islam hegemoni kaum kuffar akan berakhir. Alhasil, wajib bagi kaum muslim dengan iman yang bersemayam di dalam hatinya untuk terlibat aktif dalam upaya mengembalikan junnah hakiki ini. Yang merupakan satu-satunya solusi menyolusi yang mampu melenyapkan sumber kezaliman hingga akarnya.
Tentu tak dapat dilakukan sendirian melainkan bersama-sama/berjamaah dengan umat itu sendiri. Menjadi jamaah dakwah yang fokus, jujur, tulus, ikhlas mencontoh metode dakwah Rasulullah SAW. Saat menegakkan Daulah Islam pertama kali di Madinah. Maka, siapkah umat ikut berpartisipasi merealisasikan junnah hakiki ini?
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
(QS. An-Nur 24: Ayat 55)
Wallahu 'alam bishowwab.