Anak dalam Intaian TPPO, Butuh Solusi Sistemik


author photo

14 Agu 2026 - 11.00 WIB



Oleh : Widiawati, S. Pd 
Aktivis Muslimah 

Majunya teknologi saat ini tentu memberi kemudahan untuk dalam setiap aktivitas khususnya dalam berkomunikasi. Namun sayangnya, kemajuan teknologi tidak selalu digunakan dalam hal positif, justru menjadi alat untuk melakukan tindak kejahatan. 

Salah satunya fakta miris yang berulangkali terjadi diberbagai daerah yaitu TPPO. Bahkan semakin masif dengan memanfaatkan media sosial dan ruang digital sebagai sarana utama merekrut para korban. Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menegaskan keselamatan generasi muda tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak karena perlindungan anak harus menjadi komitmen kolektif dari lingkup terkecil hingga masyarakat luas.

Ia mengungkapkan modus operandi sindikat TPPO kini bertransformasi menjadi jauh lebih lihai. Mereka aktif menjebak anak-anak di dunia maya lewat berbagai kedok, mulai dari tawaran pekerjaan palsu dengan gaji menggiurkan hingga manipulasi psikologis melalui bujuk rayu pertemanan di media sosial.  

Kurangnya keamanan ditengah masyarakat akibat maraknya tindak kejahatan seperti TPPO tentu sangat menguatirkan. Berbagai upaya dan program yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah saat ini, salah satu pemberantasan TPPO pun sebenarnya tidak akan mampu menyelesaikan dan melindungi generasi hari ini, karena sejatinya akar masalahnya belum terselesaikan, yaitu bahwa TPPO tumbuh subur karena sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Selain itu, sistem ekonomi kapitalis juga memicu ketimpangan sosial meski negeri ini memiliki sumber daya alam melimpah ruah, nyatanya banyak masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan. 

Orientasi materi juga kerap menjadi salah satu penyebab pelaku kejahatan kerap kali mengambil jalan pintas demi meraup keuntungan materi demi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian hari makin sulit. Kesalahan sistemik ini juga mengikis moralitas masyarakat, sehingga banyak menjadi pelaku kejahatan, tanpa rasa takut dan peduli dengan kondisi korbannya. 

Oleh karena itu, terulangnya kasus TPPO tentu banyak faktor penyebab mulai dari kurangnya lapangan kerja, terjadinya PHK dimana-mana, serta rendahnya edukasi di masyarakat, ditambah lagi maraknya sindikat dan diperparah adanya dugaan keterlibatan aparat. Meski ada sanksi berupa penjara, namun faktanya tidak mampu memberi efek jera bagi pelaku kejahatan, maka wajar jika kasus TPPO tidak bisa diatasi. 

Sementara penguasa dalam sistem kapitalis sekuler hanya sebagai regulator bukan sebagai periayah. Jika demikian, maka dibutuhkan sistem kehidupan yang mampu menyolusi setiap problematika umat secara sistemik sehingga bisa memutus mata rantai kejahatan sampai ke akarnya. 

Solusi Islam Atasi TPPO

Berbeda dengan sistem Islam kaffah, dengan penerapan strategi politik ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat orang per orang, menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya, mendorong para ayah untuk bekerja, dengan demikian, terpenuhinya sandang pangan dan papan, kesehatan, pendidikan secara gratis, maka dengan kesejahteraan inilah yang akan mencegah terjadinya TPPO, sebab tidak alasan lagi untuk melakukan hal tersebut dengan dalih himpitan ekonomi. 
 
Pendidikan yang berbasis akidah Islam juga akan mencetak individu yang bertakwa, yang mencegah untuk melakukan kejahatan. Sebab dengan ketakwaan individu akan menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak. Dengan ketakwaan pula, individu, masyarakat dan negara akan saling bersinergi untuk melakukan amar makruf nahi mungkar serta menjaga keamanan di tengah masyarakat. 

Oleh karena itu, pentingnya penerapan sistem Islam kaffah, sebab dukungan sistem hukum dalam Islam bersifat tegas tanpa pandang bulu, dan polugri oleh negara yang menerapkan Islam akan efektif dalam mencegah terjadinya TPPO yang mana dalam sistem kapitalis para korban TPPO sering kali diperjualbelikan ke luar negeri dengan berbagai modus, bahkan tidak sedikit yang kehilangan nyawa. Dengan demikian hanya dengan syariah keamanan jiwa pun terjaga. 

Wallahualam.
Bagikan:
KOMENTAR