BIREUEN — Proyek lanjutan pembangunan bilik Dayah Darul Ulum Aziziah di Gampong Matang Jareung, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, dengan nilai anggaran Rp190 juta, menuai sorotan. Bangunan yang disebut baru selesai dikerjakan itu dilaporkan mengalami keretakan dan sejumlah bagian betonnya terlihat keropos serta rontok. Jumat (14 Agu 2026).
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai mutu pekerjaan, kesesuaian material dengan spesifikasi teknis, hingga efektivitas pengawasan Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen selaku instansi terkait.
Pantauan dan informasi yang dihimpun dari sekitar lokasi menyebutkan, kerusakan terlihat pada sejumlah bagian bangunan. Beton pada bagian tertentu tampak berongga dan tidak padat, sementara retakan ditemukan pada beberapa bagian dinding maupun elemen bangunan.
Kondisi bangunan yang mengalami kerusakan sejak awal ini dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan para santri apabila tidak segera diperiksa dan ditangani secara teknis.
“Baru selesai dibangun, tetapi betonnya sudah rontok dan retak-retak. Kami khawatir kalau hujan deras atau angin kencang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar seorang warga sekitar yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Mutu Pekerjaan Dipertanyakan
Sorotan tidak hanya tertuju pada kondisi fisik bangunan, tetapi juga pada proses pengawasan pekerjaan.
Muncul pertanyaan apakah pekerjaan tersebut telah melalui pemeriksaan teknis secara menyeluruh sebelum dinyatakan selesai dan diterima. Termasuk apakah material yang digunakan telah memenuhi spesifikasi sebagaimana tercantum dalam dokumen perencanaan dan kontrak pekerjaan.
Keroposnya beton pada bangunan yang relatif baru selesai dikerjakan, menurut warga, semestinya menjadi alasan dilakukan pemeriksaan teknis lebih lanjut, bukan dibiarkan begitu saja.
“Kalau memang pekerjaan sudah sesuai standar, silakan dibuktikan melalui pemeriksaan teknis. Jangan sampai bangunan dinyatakan selesai, tetapi kualitasnya justru dipertanyakan masyarakat,” kata warga lainnya.
Masyarakat juga mempertanyakan siapa pihak yang melakukan pengawasan di lapangan, siapa yang memeriksa hasil akhir pekerjaan, serta siapa yang menandatangani dokumen administrasi terkait penyelesaian proyek tersebut.
Kajari Bireuen Didesak Turun Tangan
Atas kondisi tersebut, masyarakat meminta Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen melakukan penelusuran terhadap proyek pembangunan tersebut apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam pelaksanaannya.
Pemeriksaan dinilai penting untuk memastikan apakah pelaksanaan proyek telah sesuai dengan perencanaan, spesifikasi teknis, volume pekerjaan, serta nilai anggaran Rp190 juta.
Beberapa aspek yang dinilai perlu diperiksa antara lain dokumen perencanaan dan spesifikasi teknis, kualitas serta volume material, metode pelaksanaan pekerjaan, proses pengawasan, hingga dokumen pemeriksaan dan serah terima pekerjaan.
Jika diperlukan, pemeriksaan fisik juga semestinya melibatkan tenaga ahli konstruksi untuk memastikan apakah keretakan dan beton keropos tersebut hanya merupakan persoalan pekerjaan finishing atau berkaitan dengan kualitas struktur bangunan.
“Jangan hanya melihat administrasinya. Periksa bangunannya secara langsung. Kalau memang ada pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, harus ada tindakan tegas,” ujar sumber masyarakat.
Keselamatan Santri Jangan Dipertaruhkan
Persoalan ini dinilai tidak semata-mata menyangkut penggunaan anggaran pemerintah, tetapi juga menyangkut keselamatan santri yang nantinya menggunakan bangunan tersebut.
Bangunan fasilitas pendidikan keagamaan semestinya dibangun dengan memperhatikan standar keselamatan dan kualitas konstruksi. Karena itu, apabila terdapat kerusakan pada bangunan yang baru selesai, pemeriksaan teknis secara independen menjadi penting sebelum bangunan digunakan secara penuh.
Masyarakat berharap instansi terkait tidak mengabaikan keluhan tersebut. Bila ditemukan kekurangan pekerjaan, pelaksana harus diminta melakukan perbaikan sesuai ketentuan dan spesifikasi yang dipersyaratkan.
Sebaliknya, jika hasil pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran atau kerugian keuangan negara, masyarakat meminta persoalan tersebut ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Disdik Dayah Bireuen Belum Memberikan Penjelasan
Sementara itu, saat tim liputan melakukan konfirmasi kepada Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen melalui pesan WhatsApp terkait kondisi bangunan, hingga berita ini ditayangkan belum diperoleh jawaban substantif.
Konfirmasi masih dilakukan untuk mendapatkan penjelasan mengenai status pekerjaan, proses pengawasan, pihak pelaksana, serta langkah yang akan dilakukan pemerintah daerah terhadap kondisi bangunan tersebut.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen maupun pihak pelaksana proyek untuk memberikan penjelasan terkait pemberitaan ini.(Ak)