Gen Z : Mengejar Gaya Hidup, Kehilangan Arah?


author photo

21 Agu 2026 - 14.49 WIB



Oleh AZ ZAHRA MIFTACHURRIZQI (Aktivis Dakwah)

Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Media sosial, tren fashion, gaya hidup, dan budaya populer menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hanya dengan membuka layar ponsel, berbagai gambaran tentang kehidupan yang dianggap ideal dapat dilihat dalam hitungan detik.

Di balik citra generasi yang di anggap paling melek teknologi, paling adaptif, dan paling terbuka pada perubahan. Gen Z justru berdiri di titik paling rapuh dalam lanskap sosial - ekonomi yang penuh tekanan. Mereka lahir di situasi yang tidak ideal, tumbuh di tengah krisis ekonomi dan dewasa dalam lingkungan yang menuntut banyak hal tanpa memberikan pijakan yang benar - benar stabil.

Di balik layar gadget yang menyala, banyak dari mereka sedang berjuang sendiri untuk bernapas. Tekanan itu bisa di rasakan lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial, di tengah tekanan ekonomi kehidupan Gen Z atau Millenial di tuntut untuk bisa berpenghasilan sendiri dan mandiri, ada juga di usia muda yang masih membutuhkan dukungan dana dari orangtua karena ketergantungan finansial.

Penyemangat di usia muda di tengah tekanan ekonomi ternyata alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.

Di satu sisi, perkembangan zaman memberikan banyak kemudahan dan peluang. Namun di sisi lain, muncul persoalan yang perlu diperhatikan, apakah Gen Z sedang membangun kehidupan yang bermakna, atau hanya mengejar kehidupan yang terlihat menarik di mata orang lain?

Fenomena mengejar gaya hidup semakin mudah ditemukan. Barang bermerek, tempat nongkrong populer, liburan, kecantikan, popularitas, hingga jumlah pengikut di media sosial terkadang dijadikan ukuran keberhasilan. Akibatnya, sebagian anak muda dapat merasa tertinggal ketika kehidupan nya tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat di media sosial.

Persoalannya bukan sekadar tentang memiliki barang bagus atau menikmati kehidupan. Masalah muncul ketika gaya hidup menjadi tujuan utama, sementara nilai, tanggung jawab, dan tujuan hidup justru kehilangan tempat.

Berdasarkan survei Deloitte Gen Z dan Millenial serta riset dari lembaga seperti jakpat dan Goodstats sekitar 64% Gen Z di indonesia mengalami stres karena tekanan finansial dan 60% merasa cemas menghadapi masa depan akibat gabungan tekanan biaya hidup, ketidakpastian, karier, dan beban psikologis.

Beberapa faktor tekanan ekonomi menyatakan bahwa Sekitar 53% hingga 57% anak muda mengkhawatirkan kenaikan harga kebutuhan dasar dan masalah finansial sehari-hari, sebanyak 47% Gen Z mengaku pendapatan nya hanya cukup untuk sebulan atau habis tanpa sisa tabungan (paycheck to paycheck), sebanyak 55% Gen Z terpaksa menunda langkah besar seperti menikah, beli rumah, atau punya anak karena merasa tidak aman secara finansial (maybe later generation). 

Kemudian juga tekanan kehidupan ( mental ) mengatakan bahwa mayoritas anak muda merasa overwhelmed atau kewalahan akibat tuntutan sosial, ekspektasi karier, dan kompetisi global dan sebanyak 62% melaporkan sering mengalami perubahan suasana hati ( mood swing ) juga 50% nya mengalami gangguan tidur akibat stres.


Sistem Kapitalisme Hancurkan Generasi

Semua fenomena di atas, tidak mungkin tercipta begitu saja. Melainkan tersistem sehingga tidak ada satu pun yang bisa mengelak, ini lah fakta sistem kapitalisme yang di terapkan di negeri indonesia tercinta ini. Bukan nya menyejahterakan namun justru menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z, biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Sayang nya dalam sistem kapitalisme ini, Negara harus lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. 

Keikutsertaan negara justru akan menghilangkan kemandirian rakyat dan mengurangi ketertarikan investor untuk berinvestasi di negeri ini. Masih dalam pemahaman sistem ini, bahwa tanpa investor negara akan kesulitan membiayai seluruh biaya operasionalnya. Sungguh teori yang sangat absurd, sistem kapitalisme juga sukses memperparah tekanan ekonomi dengan memunculkan gaya hidup sekuler-liberal, pemisahan agama dari kehidupan yang melahirkan bebas tanpa batas. Menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai “solusi” pelarian. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. 
Tak hanya Gen Z, ketika konsumtif mengalahkan kebutuhan maka dari itu kebanyakan orang tak bisa lagi membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. 
 
Lalu, apakah Gen Z kehilangan arah? Tidak semua Gen Z kehilangan arah. Banyak anak muda yang justru memiliki semangat belajar, berkarya, berwirausaha, membantu keluarga, berdakwah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, tantangan zaman membuat arah hidup perlu terus diperkuat. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Islam mengajarkan manusia untuk tidak berlebih-lebihan. Allah Swt. berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A'raf: 31)
Ayat tersebut memberikan prinsip penting. Menikmati rezeki diperbolehkan, tetapi tidak boleh berlebihan.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup miskin atau menolak kemajuan. Islam justru mengajarkan keseimbangan yaitu bekerja, berusaha, menikmati rezeki yang halal, tetapi tetap memiliki kendali terhadap keinginan.
Jika seseorang hanya bertanya:

“Apa yang membuatku terlihat keren?”
Tetapi tidak pernah bertanya:
“Untuk apa aku hidup?”
maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Dalam Islam, manusia tidak diciptakan tanpa tujuan. Allah Swt. berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan fondasi bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar kesenangan dunia, popularitas, kekayaan, atau pengakuan manusia. Kehidupan dunia harus diarahkan untuk beribadah dan mendapatkan ridha Allah.

Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Dalam islam, negara bukan sekedar regulator yang hadir Ketika masalah sudah terjadi, sementara individu di biarkan menyelesaikan seluruh persoalan nya sendiri. Jelas problem ini tidak bisa disebut ringan, konsekuensinya jika tidak diatasi dengan baik, maka negara akan kehilangan para pemuda berkualitas yang siap membangun negara dan bangsa. Maka, tidak ada jalan lain selain kembali kepada pengaturan Islam yaitu dalam bentuk kekhilafahan islam yang akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA yang berlimpah dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. 

Dalam islam negara memiliki tanggung jawab dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat dan mengelola kekayaan yang menjadi kepemilikan umum demi kemaslahatan masyarakat. Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekulerisme – kapitalisme dan turunan nya, media akan di arahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. 

Dalam konstruksi ekonomi islam, sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum tidak semestinya di kuasai segelintir pihak untuk akumulasi keuntungan, tetapi di Kelola untuk kepentingan rakyat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi agar Masyarakat dapat memperoleh penghidupan yang layak, dengan mekanisme tersebut generasi muda tidak semestinya di paksa menghadapi seluruh tekanan kehidupan sendirian hanya dengan mengandalkan kemampuan individual.
Negara juga tidak membiarkan generasi tumbuh tanpa penjagaan nilai. Islam mengajarkan larangan israf dan tabdzir, sehingga kebutuhan tidak boleh berubah menjadi pemuasan hawa nafsu tanpa batas.
Media dan ruang publik pun seharusnya tidak menjadi mesin yang terus – menerus mendorong konsumsi, pornografi, kekerasan, atau nilai – nilai yang merusak akidah dan akhlak, tetapi menjadi sarana pendidikan dan pembentukan kepribadian. Yang paling mendasar yaitu islam mengembalikan manusia kepada tujuan penciptaan nya.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Allah SWT berfirman, “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada ku . “ (QS Adz – Dzariyat : 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memilih visi sebagai pembangun peradaban islam. Generasi tidak lagi melihat diri nya sekedar sebagai konsumen yang harus mengejar tren atau pekerja yang harus mengejar gaji melainkan generasi akan membawa diri nya kepada ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan saling berlomba – lomba beramar ma’ruf nahi munkar.
Mereka akan sadar bahwa diri nya hamba Allah. Generasi memiliki keasadaran bahwa di setiap perbuatan akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak dan memiliki tanggung jawab membangun kehidupan sesuai syariat Allah SWT. 

Wallahu’alam
Bagikan:
KOMENTAR