‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Hutan Menjadi Abu: Rakyat Menghirup Racun, Korporasi Menumpuk Untung


author photo

27 Agu 2026 - 08.58 WIB




Oleh: Fina Siliyya, S.TPn.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang setiap tahun dan membahayakan warga. Sampai Agustus 2026, lahan yang terbakar di Sumatera dan Kalimantan sudah mencapai lebih dari 48 ribu hektar. Asap tebal tidak hanya membuat udara tidak sehat, tetapi juga menyebar hingga ke negara tetangga. Sayangnya, pemerintah masih fokus memadamkan api dengan satgas darat dan helikopter pengebom air. Padahal, petugas di lapangan menemukan bukti bahwa hutan sengaja dibakar untuk membuka lahan kebun baru.

Masalah ini terus terjadi karena sistem ekonomi saat ini menganggap hutan hanya sebagai barang dagangan demi keuntungan bisnis. Perusahaan besar diizinkan menguasai lahan yang sangat luas. Membakar lahan menjadi cara paling murah dan cepat bagi mereka untuk memperluas usaha tanpa peduli kerusakan lingkungan. Akhirnya, hutan yang seharusnya dijaga bersama malah dirusak demi memperkaya segelintir pengusaha.

Pemerintah terkesan lepas tangan dan hanya sibuk saat api sudah membesar, tanpa berani mencabut izin penguasaan lahan yang menjadi sumber masalah. Warga dipaksa menanggung sesak napas dan udara kotor, sementara perusahaan yang mengambil untung jarang dihukum berat. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa keselamatan warga sering kali kalah penting dibandingkan kepentingan bisnis pengusaha besar.

Hal ini terjadi karena pemimpin saat ini sering memisahkan urusan negara dari tanggung jawab moral dan agama. Jabatan sering dianggap sebagai jalan mencari keuntungan materi, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan rakyat. Akibatnya, fungsi pemkelas sebagai pelayan dan pelindung warga dari bahaya bencana menjadi hilang.

Islam memberikan aturan yang jelas bahwa hutan adalah milik bersama seluruh rakyat dan tidak boleh diserahkan kepada perusahaan swasta. Negaralah yang wajib mengelolanya langsung untuk kesejahteraan umum. Warga boleh memanfaatkan hasil hutan secukupnya tanpa merusak lingkungan atau masuk ke kawasan lindung. Siapa pun yang sengaja membakar hutan harus dihukum dengan tegas. Hanya dengan pemimpin yang benar-benar peduli dan bertanggung jawab, keselamatan rakyat akan diutamakan dan bencana asap bisa dihentikan.
Bagikan:
KOMENTAR