Oleh: Milda, S.Pd
Aktivis Muslimah
Angka stunting di Balikpapan kembali naik. Ketua Tim Penggerak PKK Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, menyampaikan hal ini setelah melakukan peninjauan langsung ke lapangan.
Padahal sebelumnya ada tren penurunan yang cukup signifikan. Dari 23-24 persen di tahun lalu, sempat turun ke 17 persen. Bahkan di awal 2026 sempat menyentuh 15 persen. "Sebenarnya kami menargetkan bisa sampai 11 persen. Tapi setelah dicek lagi ke lapangan, ternyata angkanya meningkat kembali,” jelas Nurlena.
Saat ini, berdasarkan data Tim Konvergensi Stunting, angka stunting Balikpapan berada di 22,2%. Dari total 39.137 balita, sebanyak 20.041 balita masuk dalam kategori yang harus mendapat intervensi ketat.
*Akar Masalahnya Bukan Sekadar Gizi*
Stunting adalah persoalan serius yang berdampak pada masa depan generasi. Ia tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah asupan gizi untuk anak dan ibu hamil. Ada 3 pilar yang harus jalan bareng: pemenuhan gizi, pola asuh, dan lingkungan yang sehat. Tanpa edukasi untuk para pengasuh, orang tua tetap kesulitan memahami pentingnya nutrisi yang tepat.
Namun jujur saja, semua itu akan sulit terwujud jika sistemnya tidak berpihak pada rakyat. Hari ini kita melihat sistem kapitalisme abai terhadap pemenuhan kebutuhan dasar.
Buktinya, angka kemiskinan masih tinggi. Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan karena PHK. Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok seperti telur, ikan, daging, sayur, dan buah terus melambung. Bagaimana orang tua bisa memenuhi gizi anak jika untuk makan sehari-hari saja sudah berat?
Ini ironis. Balikpapan dan Kalimantan Timur sohor memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tapi justru di daerah kaya inilah stunting meningkat. Ini menunjukkan adanya kegagalan negara dalam mengelola SDA untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Selama sistem kapitalisme masih dipertahankan, dan selama negara masih menggantungkan diri pada kerja sama serta perjanjian dengan pihak asing, maka dipastikan masalah stunting akan terus menjadi lingkaran polemik.
*Solusi Sistemis ala Islam*
Islam datang sebagai sistem kehidupan yang komprehensif. Islam memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan seluruh problematika umat, termasuk stunting.
Dalam sistem Islam, Khalifah berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Negara wajib menyediakan infrastruktur kesehatan yang mudah diakses, baik oleh si kaya maupun si miskin, agar setiap pasien bisa mendapatkan perawatan intensif tanpa hambatan biaya.
Negara juga wajib menjamin lapangan kerja. Dengan begitu setiap kepala keluarga bisa menafkahi keluarganya secara layak, tanpa harus cemas atau sampai mengemis di jalan.
Selain itu, penguasa wajib memberikan edukasi kesehatan secara masif. Rakyat diedukasi untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang: protein, vitamin, dan mineral. Masyarakat juga didorong untuk rutin berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Di era teknologi sekarang, akses informasi kesehatan seharusnya semakin mudah.
Lebih dari itu, dalam Islam seluruh komponen masyarakat dilibatkan dalam kontrol kebijakan agar setiap aturan berpijak pada hukum syara’.
Rasulullah SAW bersabda:
_“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka permudahlah ia.”_ HR. Muslim
Stunting bukan hanya soal kurang makan. Ia adalah cermin gagalnya sistem dalam mengurus rakyat. Saatnya kita berani berpikir dan bertindak sistemis. Wallahu a’lam bishshawab.