‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

KKN Unimal Kelompok 51 Tanamkan Keberanian Lawan Bullying di Meunasah Kulam: “Berani Bilang Tidak, Berani Bilang Tolong”


author photo

25 Agu 2026 - 00.16 WIB



MEUNASAH KULAM — Upaya membangun lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan terus digaungkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh (Unimal) Kelompok 51. Melalui program psikoedukasi bertajuk “Berani Bilang Tidak, Berani Bilang Tolong”, mahasiswa mengajak anak-anak di Desa Meunasah Kulam memahami bahaya bullying sekaligus membangun keberanian untuk menolak dan melaporkan tindakan perundungan. Senin (24 Agu 2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang penyampaian materi, tetapi juga menjadi momentum menanamkan nilai keberanian, empati, kepedulian, dan saling menghargai sejak dini.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa KKN memperkenalkan berbagai bentuk bullying yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perundungan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ejekan, penghinaan, pemberian julukan yang merendahkan, hingga tindakan mengucilkan seseorang dari lingkungan pertemanan.

Para siswa diberikan pemahaman bahwa tindakan yang dianggap sebagai “candaan” sekalipun dapat menimbulkan dampak serius apabila membuat orang lain merasa terhina, takut, tertekan, atau kehilangan kepercayaan diri.

Pesan utama kegiatan dirangkum melalui dua keberanian sederhana: berani mengatakan “tidak” dan berani mengatakan “tolong”.

Mahasiswa KKN menekankan bahwa menolak ketika menjadi sasaran perundungan bukanlah bentuk kelemahan. Sebaliknya, keberanian meminta bantuan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya merupakan langkah tepat untuk menghentikan perundungan dan melindungi diri maupun orang lain.

Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar mudah dipahami anak-anak. Mahasiswa mengajak siswa berdiskusi, menjawab pertanyaan, serta mengenali berbagai contoh perilaku yang termasuk bullying dan perilaku yang mencerminkan pertemanan sehat.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif memberikan jawaban, menyampaikan pendapat, dan mengikuti berbagai arahan yang diberikan mahasiswa. Interaksi tersebut membuat materi tentang bullying tidak terasa sebagai pembelajaran yang kaku, melainkan menjadi pengalaman edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa juga mengingatkan siswa agar tidak menjadi pelaku, korban, maupun sekadar penonton pasif ketika melihat perundungan. Anak-anak didorong untuk memberikan dukungan kepada teman yang menjadi korban dan segera mencari bantuan dari orang dewasa yang dapat dipercaya.

Lebih jauh, kegiatan ini menanamkan pemahaman bahwa perbedaan karakter, kemampuan, penampilan, maupun latar belakang bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Lingkungan pertemanan yang sehat justru dibangun melalui sikap saling menghormati dan menerima perbedaan.

Mahasiswa KKN Unimal Kelompok 51 berharap edukasi tersebut tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Nilai yang disampaikan diharapkan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.

“Berani Bilang Tidak, Berani Bilang Tolong” pada akhirnya bukan sekadar slogan. Pesan tersebut menjadi ajakan agar anak-anak memiliki keberanian untuk melindungi diri, kepedulian untuk melindungi teman, serta kesadaran bahwa bullying bukan perilaku yang layak dinormalisasi.

Melalui kegiatan ini, KKN Unimal Kelompok 51 menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya berkutat pada program pembangunan fisik, tetapi juga dapat menyentuh persoalan sosial dan pembentukan karakter generasi muda.

Desa Meunasah Kulam pun menjadi ruang pembelajaran bersama bagi mahasiswa untuk mengabdi dan bagi anak-anak untuk memahami bahwa menciptakan lingkungan yang aman dari bullying membutuhkan keberanian, kepedulian, serta keberanian untuk saling membantu.(**)
Bagikan:
KOMENTAR