Oleh: Ummu Jabir
Persoalan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus memanas kembali diwarnai oleh narasi diplomatik yang menyesatkan dan penuh tipu daya. Di bawah intrik global yang digalang oleh Amerika Serikat (AS) dan entitas zionis Israel, isu perlucutan senjata bagi kelompok perlawanan Palestina khususnya Hamas dinarasikan secara masif ke panggung dunia. Skema ini dikemas rapi melalui instrumen diplomatik seperti Board of Peace (BoP) atau dewan-dewan perundingan internasional yang diklaim beritikad baik demi tercapainya 'kedamaian dan stabilitas kawasan'. Namun, di balik jargon kemanusiaan dan perdamaian tersebut, tersembunyi siasat jahat yang dirancang secara sistematis untuk melucuti benteng pertahanan terakhir rakyat Palestina dan melanggengkan penjajahan zionis di bumi yang diberkahi.
Terlihat bahwa, arah dan muslihat di balik proyek perlucutan senjata ini, umat Islam dan publik internasional perlu melihat beberapa fakta-fakta yang terjadi di panggung diplomasi global maupun realitas berdarah di lapangan:
1. Adanya pengumuman Trump dan Wacana Perlucutan Senjata: Dilansir oleh kantor berita internasional AFP (31/7/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengumumkan pelucutan senjata Hamas dan seluruh kelompok bersenjata lainnya di Jalur Gaza. Trump mengklaim bahwa langkah dramatis ini merupakan 'langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng' di Timur Tengah. Narasi ini secara sengaja diposisikan sebagai syarat mutlak bagi penghentian konflik.
2. Skema Pengambilalihan Gaza oleh Pasukan Internasional: Berdasarkan skema kompromi yang ditawarkan, setelah proses pelucutan senjata selesai, tentara zionis Israel diminta untuk mundur secara bertahap dari Gaza. Posisi kontrol keamanan di Gaza kemudian direncanakan untuk diserahkan kepada Pasukan Stabilitas Internasional yang bekerja sama dengan aparat kepolisian Palestina yang baru. Skema ini dirancang untuk menggantikan pemerintahan lokal yang memiliki basis perlawanan dengan rezim boneka yang tunduk pada arahan Barat.
3. Pengkhianatan Janji dan Agresi yang Tanpa Henti: Sekalipun narasi perlucutan senjata terus ditekan dan Hamas dalam dinamika perundingan sempat mengisyaratkan persetujuan atas penghentian pertempuran dengan syarat penarikan penuh militer Israel, realitas di lapangan menunjukkan pengkhianatan yang nyata. Serangan militer dan pembantaian oleh zionis Israel tetap berlangsung tanpa henti. Entitas zionis secara tegas enggan menarik pasukannya secara penuh dari Gaza, ini membuktikan bahwa janji manis diplomasi Barat hanyalah jebakan Batman untuk melumpuhkan daya perlawanan fisik kaum muslimin di Gaza. "Pelucutan senjata bukanlah jalan menuju perdamaian, melainkan penyerahan total leher kaum muslimin kepada Zionis yang tidak pernah mengenal kata belas kasih."
Apabila fakta-fakta tersebut dianalisis melalui kacamata geopolitik yang mendalam, nampak jelas bahwa perlucutan senjata Hamas dan kelompok perlawanan lainnya merupakan siasat strategis AS dan zionis Israel untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:
1. BoP Sebagai Instrumen Penyerahan Gaza ke Mulut Harimau
Dewasa ini, kesadaran dan daya kritis umat Islam terhadap bahaya Board of Peace (BoP) serta berbagai forum perdamaian bentukan AS mulai memudar. Banyak pihak terbuai oleh narasi 'gencatan senjata' dan 'bantuan rekonstruksi'. Umat harus diingatkan kembali secara tegas bahwa bergabung atau tunduk pada skema BoP sama halnya dengan menyerahkan Gaza secara sukarela ke dalam mulut harimau—yakni persekutuan jahat antara zionis Israel dan AS. Ketika Hamas dan kelompok bersenjata berhasil dilucuti, benteng pertahanan fisik Palestina rubuh total, sehingga zionis dapat menentukan nasib rakyat Gaza tanpa ada hambatan militer sedikit pun.
2. Ilusi Perdamaian dan Kepentingan Kapitalis 'New Gaza'
Pelucutan senjata sama sekali bukan solusi bagi perdamaian, keamanan, apalagi pembebasan Gaza. Sejarah telah membuktikan bahwa perampasan tanah, penjajahan, pemukiman ilegal, dan genosida atas rakyat Palestina akan terus berlanjut dengan atau tanpa adanya perlawanan bersenjata. Faktanya, proyek pembangunan 'New Gaza' yang digadang-gadang oleh AS dan sekutunya terus berjalan di atas darah rakyat Gaza, dengan memanfaatkan aktor-aktor lokal boneka agar proyek ini dapat diterima publik. Propaganda yang disuarakan selalu berdalih 'demi penyelamatan dan kesejahteraan penduduk Gaza'. Namun timbul pertanyaan kritis: Mengapa kepedulian dan narasi 'penyelamatan' itu tidak pernah dimunculkan sejak puluhan tahun lalu ketika pemukiman ilegal terus digusur dan rakyat dibantai? Jawabannya jelas: ini adalah penguasaan lahan dan demografi baru atas nama kapitalisme global.
3. Watak Sejati Pasukan Stabilitas Internasional
Kehadiran Pasukan Stabilitas Internasional atau pasukan penjaga perdamaian PBB sama sekali tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel. Fungsi utama pasukan internasional dalam sejarah konflik global adalah untuk menjaga 'status quo' yang menguntungkan kekuatan imperialis, mengawasi kaum tertindas agar tidak mengangkat senjata, serta memproteksi batas-batas keamanan entitas zionis Israel dari ancaman mujahidin.
Solusi Hakiki Pembebasan Palestina
Dalam pandangan hukum Islam (Fiqh Siyasah dan Fiqh Jihad), konflik di Palestina bukanlah sekadar sengketa perbatasan atau krisis kemanusiaan biasa yang dapat diselesaikan melalui kompromi politik dan perundingandi atas meja yang diatur oleh kafir penjajah. Islam memberikan konstruksi hukum dan pandangan yang tegas terkait penanganan tanah al-Quds dan negeri-negeri muslim yang terjajah.
Secara syari, Al-Qur'an telah mengingatkan watak dasar dari kekuatan kafir penjajah yang tidak akan pernah berhenti melakukan tipu daya untuk memadamkan cahaya Islam dan melumpuhkan kekuatan kaum muslimin. Allah SWT berfirman dalam (QS: Al-Baqarah ayat 120), yang artinya:
'Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.
Menyetujui perlucutan senjata dengan musuh yang nyata-nyata sedang melakukan genosida merupakan pelanggaran berat terhadap hukum syariat, dan larangan menyerahkan urusan keamanan kaum muslimin kepada pihak kafir harbi.
Islam juga mewajibkan umatIslam untuk melakukan aktivitas (muhasabah 'alal hukkam) koreksi terhadap para pemimpin di negeri-negeri muslim. Banyak rezim penguasa muslim hari ini yang terikat kerja sama strategis dengan AS dan BoP, atau bersikap pasif menyaksikan pembantaian di Gaza. Sikap kompromi dan normalisasi hubungan dengan zionis Israel merupakan bentuk pengkhianatan besar terhadap Allah, Rasul-Nya, dan seluruh mukminin. Islam melarang keras persekutuan politik-militer yang merugikan dan menindas kaum muslimin.
Penyebab utama dari keberanian zionis Israel dan AS melucuti serta menindas Palestina adalah sekat-sekat nasionalisme (nation-state) yang memecah belah kaum muslimin menjadi puluhan negara kecil yang lemah. Dalam hukum Islam, persatuan umat di bawah satu kepemimpinan politik global yakni Khilafah Islamiyyah adalah kewajiban syar'i yang utama (tajul furud).
Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di belakangnya kaum muslimin berperang dan kepadanya mereka berlindung' (HR. Muslim). Tanpa adanya institusi Khilafah, umat Islam akan terus menjadi mangsa empuk bagi konspirasi geostrategis Barat.
Hukum Islam menetapkan bahwa apabila tanah kaum muslim diserang dan dijajah oleh musuh, maka hukum berjihad mempertahankan diri dan membebaskan tanah tersebut menjadi fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu) yang dimulai dari penduduk setempat, lalu meluas ke wilayah sekitarnya hingga seluruh kaum muslimin di dunia. Palestina baru akan benar-benar bebas dari cengkeraman zionis ketika tentara-tentara reguler dari negeri-negeri muslim digerakkan secara masif di bawah komando seorang Khalifah untuk melakukan jihad fi sabilillah menumbangkan entitas penjajah.
Oleh karena itu, Wacana perlucutan senjata Hamas melalui skema BoP dan pengawasan internasional tidak boleh diterima oleh umat Islam. Ini adalah skenario pengkerdilan dan penyerahan kedaulatan yang dibungkus dengan bahasa diplomasi yang halus. Umat Islam harus bangkit dari ilusi perdamaian buatan Barat dan kembali meniti jalan shahih yang diridhai Allah SWT.
Kebebasan Palestina dan al-Quds tidak akan pernah lahir dari pena meja perundingan AS, melainkan dari derap langkah dan kibaran panji militer kaum muslimin yang bersatu. Tugas umat saat ini adalah membongkar setiap siasat jahat zionis, mengoreksi para penguasa yang berkhianat, dan berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang akan membebaskan seluruh tanah dari penindasan. Waulahuaklam bissawab