Oleh:Lusiana
Berbagai peristiwa tragis yg melibatkan generasi , pada awal 2026 di Ganjar Baru Kalimantan seorang siswa SMA berusia 16 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena kena mental akibat tekanan sekolah. Pada September kembali terjadi pada mahasiswa fakultas kedokteran universitas brawijaya (UB) yg berinisial RR (19) mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari ketinggian lantai 16.
Fenomena ini bukan lagi sekedar berita yang lewat dilayar gawai, melainkan sinyal keras bahwa ada sesuatu yang sedang rapuh dalam bangunan generasi saat ini. Bukan hanya urusan keluarga, satu sekolah, atau satu daerah melainkan cerminan yang memantulkan wajah pendidikan, pola asuh arah kemana generasi ini akan dibawa, dan apa sistem yang berlaku saat ini di dunia.
Kalau di ibaratkan sistem pendidikan sekularisme bagaikan minuman, maka rasanya seperti es teh yang isinya air hangat dan gula gosong. Manisnya tidak terasa, pahitnya nempel terus. Generasi terus belajar bertahun-tahun tetapi mereka lupa sedang hidup buat apa.
Sistem sekularisme menghasilkan generasi berpendidikan tetapi hilang arah hidup. Lulus sekolah seperti keluar dari escape room. Bebas tapi bingung harus jalan kemana. Alhasil, jadilah generasi yang punya ijazah tapi tidak punya kompas ruhiyah. Hafal gravitasi Newton namun hatinya sendri sering jatuh tanpa tahu cara bangkit.
Masalahnya, sekularisme memperlakukan agama seperti aplikasi tambahan yang boleh dipakai kalau mau tetapi tidak wajib. Iman di anggap pelengkap bukan pondasi. Padahal rumah yang tanpa pondasi gampang roboh, apalagi ditempa badai hidup bebas.
Syaikh taqiyuddin an Nabhani menjelaskan, generasi tidak akan kokoh jika hnya dibentuk oleh keluarga atau sekolah tanpa sistem negara yang menjadikan akidah Islam sebagai dasarnya pendidikan. Menurut beliau pendidikan Islam bukan cuma soal materi, pelajaran agama. Tetapi soal membangun pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam. Kalau negara cuek sistemnya netral kurikulumnya sekuler maka generasi akan tumbuh dalam kabut kebingungan. Artinya dalam Islam kurikulum disusun bukan hanya agar anak pintar, tetapi agar mereka paham bahwa sains adalah jalan mengenal Allah bukan jalan menjauh dari Allah.
Pendidikan sekuler bisa mencetak anak cerdas , tetapi hanya pendidikan Islam yang mampu mencetak anak beriman. Generasi sekuler mudah galau dikarenakan hidupnya kehilangan tujuan. Perlu dipahami bersama, solusi atas segala problem yg menimpa generasi saat ini harus bersumber dari zat yang maha benar yaitu Allah Ta'ala. Dalam hal ini Islam hadir untuk menjadi panduan hidup yang mngatur seluruh aktivitas kehidupan. Islam memandang kehidupan manusia sebagai amanah mulia yang harus dijaga.
Allah SWT berfirman "Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sungguh Allah Maha penyayang kepadamu( QS.an -nisa :29) ayat ini bukan sekedar larangan melainkan penegasan bahwa setiap jiwa berharga dan layak dijaga.
Kenapa sistem Islam bisa membuat mental generasi kuat ? ada beberapa alasan diantaranya: Pertama: sistem pendidikan Islam fokus membina akidah bukan cuma angka, sehingga dari penerapan pendidikan Islam ini akan lahir generasi berkepribadian Islam. Kedua: keluarga menjadi benteng pertama, orang tua diarahkan untuk jadi teladan iman dan akhlak bukan hanya jadi ATM berjalan. Rasulullah Saw bersabda"setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yg di pimpin''(HR. Bukhari dan muslim). Ketiga:negara wajib menjadi pengurus bukan penonton. Negara dalam Islam (khilafah) wajib menjamin pendidikan gratis, layanan kesehatan mental berkualitas dan kontrol media biar tidak menjadi racun. Negara juga harus mengelola kekayaan alam buat rakyat bukan buat konglomerat. Keempat:kontrol sosial yang kuat, masyarakat saling menasehati dalam kebaikan kalau ada yang salah arah di ingatkan dengan cara yang makruf bukan malah di bully.
Kebangkitan generasi adalah keniscayaan, ketika generasi menemukan jati dirinya sebagai seorang muslim dan bertanggung jawab atas setiap yang dilakukannya, serta negara hadir melindungi dan menerapkan aturan Islam secara kaffah. Wallahu alam bissawab