Ada yang begitu bersemangat membicarakan kedatangan Imam Mahdi. Tanda-tanda kemunculannya dibahas, berbagai peristiwa akhir zaman diperbincangkan, dan masa depan umat Islam menjadi bahan renungan. Namun, ketika pembicaraan beralih pada perjuangan menegakkan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, semangat itu justru meredup. Ada yang memilih menunggu Imam Mahdi. Ada pula yang khawatir, jika Khilafah tegak, berarti Kiamat sudah semakin dekat.
Di sinilah kita perlu bertanya: sejak kapan kabar tentang akhir zaman menjadi alasan untuk menunda perjuangan?
Apakah umat Islam hanya ditakdirkan menjadi penonton sejarah, menunggu tokoh yang dijanjikan datang, sementara tanggung jawab hari ini dibiarkan terbengkalai? Apakah keyakinan terhadap pertolongan Allah seharusnya membuat kita pasif, atau justru menguatkan langkah untuk terus berjuang?
Imam Mahdi memang menjadi bagian dari kabar yang disampaikan Rasulullah ﷺ. Namun, penantian terhadap beliau tidak semestinya menggeser perhatian kita dari kewajiban yang ada di hadapan mata. Kita tidak mengetahui kapan beliau muncul. Yang kita miliki hari ini adalah kesempatan untuk belajar, berdakwah, membina umat, dan memperjuangkan kehidupan yang diatur dengan syariat Allah.
Imam Mahdi dinanti, Khilafah diperjuangkan. Keduanya tidak semestinya dipertentangkan.
Islam Kaffah: Cita-Cita yang Menuntut Perjuangan
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al-Baqarah [2]: 208)
Seruan ini mengingatkan kita bahwa Islam bukan ajaran yang boleh dipilih sebagian lalu ditinggalkan sebagian lainnya. Islam membimbing manusia dalam ibadah, akhlak, keluarga, kehidupan sosial, ekonomi, dan urusan kemasyarakatan. Karena itu, perjuangan Islam kaffah tidak cukup berhenti pada kesalehan individu, tetapi juga menuntut kesungguhan untuk menghadirkan nilai dan hukum Islam dalam kehidupan bersama.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan dalam menjalankan perjuangan. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab [33]: 21)
Beliau membina para sahabat, menyampaikan dakwah, menghadapi penentangan, membangun masyarakat Islam di Madinah, dan memimpin kehidupan umat. Teladan ini mengajarkan bahwa perubahan bukan sekadar harapan yang ditunggu, melainkan jalan yang harus ditempuh dengan kesungguhan dan petunjuk Allah.
Maka, bagi umat yang bercita-cita menyaksikan tegaknya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, tugas hari ini bukan sekadar membicarakan masa depan. Kita perlu memperdalam pemahaman Islam, membangun kesadaran umat, dan menjalankan dakwah dengan meneladani metode Rasulullah ﷺ. Perjuangan itu harus terikat pada syariat, bukan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Kabar Akhir Zaman, Bukan Alasan untuk Berhenti
Dalam hadis tentang perselisihan tiga orang yang masing-masing merupakan putra seorang khalifah, Rasulullah ﷺ mengabarkan perseteruan terkait harta simpanan, kemudian disebutkan kemunculan Imam Mahdi dan pembaiatan kepadanya. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ibnu Majah.
Kabar tentang Imam Mahdi dan peristiwa akhir zaman memang mengundang perhatian. Namun, jangan sampai perhatian itu membuat kita lupa pada tanggung jawab yang sedang kita pikul. Membicarakan masa depan umat semestinya menambah kesadaran, bukan menjadikan penantian sebagai tempat bersembunyi dari kewajiban.
Rasulullah ﷺ juga mengabarkan fase-fase kepemimpinan umat, termasuk kembalinya Khilafah di atas manhaj kenabian, dalam hadis Nu‘man bin Basyir yang diriwayatkan oleh Ahmad. Kabar ini menjadi bagian dari harapan umat tentang masa depan kepemimpinan Islam.
Kita tidak perlu mengaku mengetahui secara pasti kapan setiap peristiwa itu akan terjadi. Yang perlu kita pastikan ialah bahwa ketidakpastian waktu tidak boleh mematikan ikhtiar. Sebab, tugas seorang Muslim bukan meramal seluruh urutan sejarah, melainkan menjalankan amanah Allah dengan sungguh-sungguh.
Jika Kiamat Sudah Dekat, Mengapa Kita Masih Harus Berjuang?
Sebagian orang mungkin berpikir, untuk apa bersusah payah memperjuangkan perubahan jika Kiamat sudah semakin dekat? Bukankah lebih baik menunggu saja?
Cara berpikir ini justru bertentangan dengan semangat amal yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika Kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada tunas kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum Kiamat itu terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR Ahmad)
Renungkan pesan hadis ini. Bahkan ketika Kiamat telah tiba, selama masih ada kesempatan untuk menanam, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kesempatan itu tidak disia-siakan.
Menanam tunas kurma adalah gambaran tentang amal yang tetap dilakukan meskipun hasilnya mungkin tidak sempat dinikmati. Seorang Muslim tidak menggantungkan seluruh amalnya pada kepastian bahwa ia akan menyaksikan hasilnya. Ia beramal karena itulah tanggung jawabnya di hadapan Allah.
Jika menanam tunas kurma saja tetap diperintahkan ketika Kiamat tiba, bagaimana mungkin dugaan bahwa akhir zaman sudah dekat dijadikan alasan untuk menghentikan perjuangan menegakkan kehidupan Islam?
Kapan Kiamat terjadi hanya Allah yang mengetahui. Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي
“Katakanlah, sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku.” (QS Al-A‘raf [7]: 187)
Kita tidak mengetahui waktunya. Karena itu, tidak semestinya kita menghabiskan energi untuk berspekulasi tentang kedekatan Kiamat, sementara kesempatan untuk beramal masih terbuka. Kesadaran tentang akhir zaman seharusnya membuat kita lebih serius mempertanggungjawabkan hidup, bukan kehilangan arah dalam menjalaninya.
Jangan Hanya Menunggu Puncak Sejarah
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR Muslim)
Inilah sikap yang semestinya tumbuh dalam diri umat: bersungguh-sungguh, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah hanya karena jalan yang ditempuh panjang.
Perjuangan menegakkan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah tidak cukup menjadi slogan atau bahan perbincangan. Ia menuntut ilmu, pembinaan, dakwah, kesabaran, dan kesediaan untuk terus menyadarkan umat. Perubahan harus diupayakan melalui jalan yang sesuai dengan syariat, bukan melalui kekerasan atau tindakan yang melanggar ketentuan Allah.
Kita mungkin tidak mengetahui kapan perubahan besar itu terwujud. Kita mungkin tidak sempat menyaksikan hasil dari seluruh ikhtiar yang dilakukan. Namun, ketidakpastian itu bukan alasan untuk menyerah. Setiap generasi memiliki tanggung jawabnya sendiri, dan setiap kesempatan untuk beramal adalah amanah.
Jangan jadikan penantian terhadap Imam Mahdi sebagai alasan untuk menunda dakwah. Jangan pula menjadikan ketakutan terhadap Kiamat sebagai alasan untuk kehilangan semangat. Kita tidak diperintahkan untuk mengetahui seluruh rahasia masa depan. Kita diperintahkan untuk menaati Allah dan bersungguh-sungguh menjalankan amanah hari ini.
Imam Mahdi dinanti, Khilafah diperjuangkan.
Menanti bukan berarti berpangku tangan. Berharap bukan berarti berhenti berusaha. Jika kita mendambakan tegaknya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, maka harapan itu harus melahirkan kesungguhan: memperdalam Islam, membina diri, membangun kesadaran umat, dan memperjuangkan Islam kaffah dengan cara yang diridai Allah.
Kita tidak tahu kapan pertolongan Allah datang. Tetapi selama kesempatan untuk beramal masih ada, tidak ada alasan untuk menyerah.
Jangan hanya menanti puncak sejarah. Jadilah bagian dari ikhtiar menuju ke sana.