IPP Aceh Tinggi, Tapi Pemuda Aktif Berorganisasi Cuma 6 Persen: GEN-A Dorong Anak Muda Naik Kelas


author photo

5 Okt 2026 - 00.37 WIB


BANDA ACEH — Aceh boleh mencatat skor Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024 sebesar 58,00 dan masuk jajaran 10 provinsi dengan capaian tertinggi secara nasional. Namun, di balik angka tersebut terselip persoalan yang tak kalah penting: partisipasi dan kepemimpinan pemuda Aceh masih tertinggal.

Data IPP Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencatat skor domain partisipasi dan kepemimpinan pemuda Aceh berada di angka 46,67, di bawah capaian nasional sebesar 50. Lebih mencolok lagi, persentase pemuda Aceh yang aktif dalam organisasi hanya sekitar 6 persen.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan pentingnya ruang pembelajaran yang tidak sekadar mengajak anak muda aktif, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan untuk berkomunikasi, mengedukasi, berkolaborasi, hingga mengubah gagasan menjadi proyek nyata.

Persoalan tersebut coba dijawab Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) melalui Training Calon Anggota Muda yang digelar di Sekretariat GEN-A, Banda Aceh, Minggu (4/10/2026).

Training yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WIB itu diikuti 15 calon anggota sebagai bagian dari rangkaian Open Recruitment GEN-A.

Bukan sekadar pengenalan organisasi, peserta dibekali tiga materi utama, yakni Teknik Edukasi Berbasis Komunikasi Antarpribadi (KAP), GEN-A 101, dan Basic Project Management.

Tak Cukup Pandai Bicara

Kemampuan menyampaikan gagasan menjadi salah satu fondasi yang ditekankan dalam training tersebut.

Melalui materi Teknik Edukasi Berbasis Komunikasi Antarpribadi (KAP), peserta diajak memahami bahwa edukasi tidak berhenti pada kemampuan menguasai materi. Cara membangun hubungan dengan audiens turut menentukan apakah pesan yang disampaikan dapat diterima atau justru berhenti sebagai informasi satu arah.

Fasilitator training, Imam Maulana, mengatakan kedekatan dan kenyamanan audiens menjadi bagian penting dalam proses edukasi.

«“Audiens akan lebih terbuka ketika merasa familiar dan nyaman dengan pembicara. Karena itu, prinsip KAP penting diterapkan dalam setiap sesi training,” ujar Imam.»

Menurutnya, kemampuan komunikasi interpersonal dapat membantu pemuda menyampaikan pengetahuan secara lebih mudah dipahami sekaligus membuka ruang dialog dan keterlibatan audiens.

Keterampilan tersebut dinilai relevan bagi pemuda yang nantinya terlibat sebagai educator, peer educator, fasilitator, maupun penggerak kegiatan di masyarakat.

Mengenal Organisasi, Menentukan Ruang Kontribusi

Training kemudian berlanjut pada materi GEN-A 101.

Materi ini diarahkan untuk memperkenalkan organisasi, nilai-nilai yang dibangun, sekaligus posisi dan peran anggota dalam mendukung visi GEN-A.

Bagi GEN-A, proses tersebut merupakan bagian dari kaderisasi. Peserta tidak hanya dituntut mengetahui organisasi, tetapi juga memahami bagaimana mereka dapat mengambil peran di dalamnya.

Pemateri GEN-A 101, Mina Shafira, mengatakan GEN-A ingin menjadi ruang tumbuh bagi anak muda Aceh.

«“GEN-A hadir bukan sekadar sebagai pelaksana kegiatan, tetapi sebagai katalisator pembangunan generasi muda Aceh yang berintegritas, berkarakter, berdaya, dan peduli terhadap sosial serta lingkungan,” kata Mina.»

Ia mengatakan program GEN-A diarahkan pada pengembangan solusi berbasis riset, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas generasi muda, serta penciptaan dampak yang berkelanjutan bagi Aceh.

Dari Ide ke Proyek, Bukan Berhenti di Wacana

Satu persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan mengubah ide menjadi aksi.

Karena itu, peserta juga mendapat materi Basic Project Management. Mereka diperkenalkan pada dasar pengelolaan proyek, mulai dari merumuskan ide dan tujuan hingga menyusun rancangan proyek menggunakan Project Model Canvas.

Keterampilan tersebut dibutuhkan agar gagasan tidak berhenti pada diskusi atau rencana, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang memiliki tujuan, pembagian peran, sumber daya, serta ukuran keberhasilan yang jelas.

Pemateri Basic Project Management, Farah Novilianti Irawan, mengatakan kreativitas harus berjalan beriringan dengan kemampuan merancang dan mengeksekusi gagasan.

«“Ide kreatif perlu diterjemahkan menjadi rancangan yang jelas agar dapat dilaksanakan dan mencapai tujuan. Karena itu, Project Model Canvas membantu peserta mengubah ide menjadi sebuah proyek yang lebih terarah,” ujar Farah.»

Kemampuan tersebut sejalan dengan kerangka IPP yang menempatkan pendidikan dan pelatihan serta partisipasi dan kepemimpinan sebagai bagian penting dalam pembangunan pemuda.

80 Persen Lebih Peserta Naik Pengetahuan

Training tersebut kemudian dievaluasi melalui pre-test dan post-test.

Hasil evaluasi internal menunjukkan lebih dari 80 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti tiga modul yang diberikan.

Angka tersebut menjadi indikator awal bagi GEN-A untuk melihat efektivitas pembekalan yang diberikan kepada calon anggota sebelum mereka memasuki tahapan kaderisasi berikutnya.

Bagi GEN-A, kaderisasi tidak semata-mata bertujuan menambah jumlah anggota. Lebih jauh, proses tersebut diarahkan untuk membentuk pemuda yang mampu berkomunikasi, mengedukasi, bekerja sama, mengorganisasi kegiatan, dan mengelola proyek.

Training calon anggota muda menjadi salah satu pintu awal menuju tujuan tersebut.

Di tengah capaian IPP Aceh yang relatif tinggi, tetapi masih rendahnya partisipasi pemuda dalam organisasi, tantangannya kini bukan sekadar bagaimana membuat anak muda hadir dalam kegiatan.

Tantangan yang lebih besar adalah memastikan mereka punya kapasitas untuk mengambil peran, mengelola gagasan, dan mengubahnya menjadi aksi yang memberi dampak bagi masyarakat.(A1)
Bagikan:
KOMENTAR