Kebakaran Hutan Berulang, Nyawa Manusia pun Hilang


author photo

25 Okt 2026 - 03.53 WIB




Oleh: Yurike Wulandari 

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia berulang bahkan nyawa pun hilang akibatnya. Hal itu jadi sorotan aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo Dicaprio.

Di sisi lain, Leonardo Dicaprio dalam unggahan terbaru di Instagram, menyoroti Karhutla Indonesia. Dalam takarir ia sebut "lebih dari lima juta orang telah terdampak asap Karhutla".

Indeks kualitas udara sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan akibat Karhutla dilaporkan pada fase "membahayakan" yang berdampak pada kesehatan warga secara serius. Kondisi mata pedih seperti disiram pasir, hidung dan tenggorokan terus berlendir atau kering gatal, kondisi yang hampir dialami seluruh warga terdampak.

Kondisi tersebut bagi kelompok rentan yang punya penyakit bawaan seperti asma menjadi sangat berbahaya. Kasus-kasus warga kehilangan nyawa diduga akibat asap terus bermunculan. Di antaranya pengemudi ojol di Sumsel, guru di Kalsel, dan bayi di Kaltim. Gejalanya sama, sesak nafas dan akhirnya meninggal.

Kegagalan penyelesaian Karhutla disebabkan pemerintah hanya berfokus pada upaya pemadaman, sedangkan akar masalah terjadinya Karhutla tidak terselesaikan. Hal ini berpangkal pada paradigma kapitalistik yang ada pada penguasa menganggap sebagai komoditas, bukan ekosistem yang harus dijaga kelestariannya. 

Paradigma ini menjauhkan penguasa dari sosok pengurus/ pelayan urusan rakyat. Penguasa bertindak sekadar sebagai regulator, bahkan mereka bersikap sebagai pebisnis yang selalu mengedepankan keuntungan pribadi dalam setiap kebijakan kehutanan.

Penguasa bersikap lemah di hadapan korporasi, buktinya tidak bergigi menindak dalang pembukaan lahan yang begitu luas meski sudah mengantongi datanya. Sikap lemah ini merupakan akibat sistem yang meniscayakan jalinan kerja sama politik antara penguasa dan pengusaha. 

Oleh karena itu, penyelesaian Karhutla hanya bisa efektif melalui perubahan tata kelola hutan secara mendasar, yaitu dengan mengubah tatanan sekuler kapitalistik menjadi Islam. Dalam sistem Islam, pemimpin negara adalah raa’in (pengurus rakyat). Negara wajib mengurusi rakyat dengan sebaik-baiknya. Ri’ayah (pengurusan) negara terkait Karhutla meliputi pencegahan, pengawasan, pemadaman jika terjadi Karhutla, pemulihan setelah terjadi karhutla, dan pemberian sanksi bagi pelaku.

Pencegahan Karhutla dilakukan dengan menempatkan hutan sebagai harta milik umum yang tidak boleh dikuasai individu maupun korporasi (diprivatisasi). Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Manusia memiliki hak bersama (berserikat) dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah).

Hanya dalam sistem Islam, hutan akan terjaga dengan baik dan lestari sehingga membawa kebaikan bagi seluruh makhluk. Sebaliknya jika tidak akan menimbulkan kerusakan di mana-mana.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR