Kenapa Aku Sendiri?


author photo

7 Okt 2026 - 07.07 WIB



Oleh: Dwi Nanda 

Fenomena sendiri di tengah keramaian ibarat paradox kehidupan di mana kita merasa tidak menyatu, feeling lose and alone padahal suasana atau lingkungan sedang ramainya. Jauh dari kata sepi. Tentu saja ini bukan kejadian yang bisa diartikan secara harfiah. Rasa sendiri di tengah keramaian merupakan perasaan psikologis dari ketimpangan antara hubungan emosional kita sebagai manusia akan koneksi yang sejati dan realitas lingkungan sosial yang semakin transaksional. Dan mau diakui atau tidak, banyak manusia modern yang mengalaminya.

Perasaan terasing atau alienasi bukan perasaan melankolis biasa. Jika tidak diatasi maka bisa memunculkan dampak fatal. Karena para aloneness yang tidak mampu atau kuat mengatasi 'kesendiriannya' bisa mengambil tindakan-tindakan aneh yang tidak diketahui banyak orang. Ia terkesan ingin menyembunyikan semuanya.

Maka tak heran jika aloneness ada yang nekad melakukan percobaan penghilangan nyawa di saat dia merasa sulit 'berteman' dengan kondisinya sekarang. Karena dia tidak punya tempat pula untuk bercerita dan berbagai keluh kesah.

Namun perasaan terasing ini bukan berarti dia tidak punya teman atau menjauh dari lingkungan sosialnya. Justru sebaliknya, dia punya teman, punya koneksi di tempatnya hidup. Hanya saja, menghadapi manusia yang berbeda-beda cukup melelahkan. Maka tak heran jika mereka terpaksa memakai topeng sosial untuk membuat orang-orang menerimanya. Menjadi apa yang orang mau, menyenangkan orang-orang agar tidak dikucilkan yang akhirnya membebani pikiran sendiri.

[Jangan Individualistik]
Malangnya, di sistem sekarang, orang-orang seperti harus mengandalkan individu lain untuk bergerak secara alami sesuai apa yang dia pahami. Karena sistem kapitalis sekarang mengukur nilai manusia dari sejauh mana ada keuntungan dari berteman dengannya. Hubungan emosional yang tulus berubah menjadi hubungan kaki transaksional.

Parahnya, dunia yang serba kompetitif ini memaksa rekan kita tidak lagi dipandang sebagai 'teman seperjuangan' namun sebagai kompetitor, rival yang harus dikalahkan. Sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi, mereka tidak saling peduli. Setiap orang sibuk memikirkan nasibnya masing-masing dan seakan tidak punya waktu untuk orang lain.

[Allah Say: Ya 'Ibadi]
Di tengah masyarakat yang saling mementingkan diri sendiri, berharap kepada mereka mungkin suatu kekeliruan. Benar apa yang pernah dikatakan sayyidina Ali: "Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." Berharap diperlakukan setara baik kepada manusia dan saat yang didapat justru sebaliknya merupakan patah hati yang cukup berbekas. Kendati kita memang tidak bisa hidup sendirian. Hanya saja di sistem sekarang, memunculkan rasa persaudaraan memang sedikit sukar.

Karena itu hendaknya setiap manusia menggantungkan harapan pada Allah. Karena Allah itu dekat dan selalu mendengar hamba-Nya.

Islam pun memberi arahan bahwa masyarakat yang islami, yang berpegang pada keimanan, tidak akan membiarkan seseorang merasa kesepian di tengah keramaian. Tidak akan membiarkan mereka menanggung beban berat. Karena firman Allah:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi orang-orang yang bersaudara..."

Islam menawarkan ikatan (ukhuwah) yang menyelamatkan. Rasulullah Saw. menggambarkan ikatan mukmin bagaikan satu tubuh—ketika satu bagian merasa sakit dan sepi, bagian lain ikut merasakannya. Ikatan keimanan inilah yang seharusnya menjadi support system sejati: yang merangkul saat kita terasing, dan mau mendengarkan saat dunia di sekitar kita terlalu bising oleh tuntutan.

Ikatan dari aqidah ini tidak lahir secara instan. Melainkan dibangun dengan edukasi sejak dini. Karena bagaimanapun pendidikan dalam Islam bukan sekedar transfer of knowledge tapi juga transfer of character.

Negara yang melegalisasi hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan juga tidak akan membiarkan rakyat berjuang sendiri dengan menjamin kebutuhan hidup. Masyarakat dipastikan hidup sejahtera. Ekonomi mudah, pendidikan mudah, kesehatan mudah, sesuai dengan amanah yang diembannya sebagai pemimpin. Namun ini hanya bisa terjadi dalam naungan Islam.

Wallahu alam
Bagikan:
KOMENTAR