SAMALANGA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di SMAN 1 Samalanga tahun ini tidak ingin berhenti pada seremoni. Kepala SMAN 1 Samalanga, Zulfadli, S.Pd.I., M.Pd., mendorong momentum tersebut menjadi titik balik pembentukan karakter siswa melalui gagasan “Generasi Ihsan”—generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam akhlak dan kepedulian sosial.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ digelar pada Kamis, 8 Oktober, dengan rangkaian kegiatan berupa pembacaan Samadiah dan doa bersama, santunan anak yatim, kenduri, serta doa penutup.
Di hadapan dewan guru, staf, wali murid, dan para siswa, Zulfadli menegaskan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan menggelar peringatan setiap tahun.
“Peringatan kelahiran Nabi Agung Muhammad ﷺ bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan meneladani seluruh kehidupan beliau di masa kini dan masa depan,” tegasnya.
Menurutnya, Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, nilai-nilai kerahmatan tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.
“Kita sebagai penerus wajib mewujudkan rahmat itu di lingkungan kita sendiri,” ujarnya.
Tak Cukup Cerdas, Harus Berkarakter
Zulfadli menyebut, ukuran keberhasilan pendidikan tidak boleh berhenti pada nilai akademik, penguasaan teknologi, atau prestasi siswa di ruang kelas.
Generasi yang hendak dibangun SMAN 1 Samalanga, kata dia, adalah generasi yang mampu memadukan kecerdasan dengan akhlak.
Generasi Ihsan itu, antara lain, menghormati orang tua dan guru, menyayangi sesama tanpa membeda-bedakan, jujur dalam perkataan maupun perbuatan, sabar menghadapi kesulitan, pemaaf ketika disakiti, bekerja keras dengan niat ibadah, serta mampu menjaga lingkungan dan amanah.
“Itulah akhlak Nabi ﷺ yang harus hidup kembali di setiap hati siswa kita,” katanya.
Konsep Ihsan sendiri ditekankan sebagai kesadaran untuk senantiasa berbuat terbaik karena merasa berada dalam pengawasan Allah SWT.
Dalam hadis Jibril, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak mampu melihat-Nya, seseorang harus menyadari bahwa Allah senantiasa melihatnya.
Bagi Zulfadli, prinsip tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan pelajar.
Siswa yang memiliki kesadaran Ihsan diharapkan tidak berani berbuat buruk meski tidak ada yang melihat, mampu membuat orang lain merasa aman dan bahagia, menggunakan ilmu untuk kemaslahatan, serta menjaga hubungan persaudaraan.
Guru dan Orang Tua Harus Berjalan Seirama
Pesan pembentukan Generasi Ihsan juga diarahkan kepada guru dan staf sekolah.
Zulfadli mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui teori. Keteladanan guru justru menjadi pelajaran yang paling mudah ditangkap siswa.
“Akhlak kita lebih mengajarkan daripada pelajaran di papan tulis. Senyum, sapaan, kesabaran, dan keadilan yang Bapak/Ibu berikan adalah cahaya yang akan membimbing langkah mereka,” pesannya.
Hal serupa disampaikan kepada para wali siswa. Menurutnya, sekolah dan keluarga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam membentuk karakter anak.
“Sekolah membentuk kepala, tetapi keluarga membentuk hati. Rumah adalah madrasah pertama,” tegasnya.
Karena itu, orang tua diminta membiasakan anak berbicara sopan, berani mengakui kesalahan, berlaku jujur, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Ketika pendidikan di sekolah dan pembinaan di rumah berjalan seirama, ia meyakini anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga berguna bagi bangsa.
Kepada Siswa: Jadilah Pemuda yang Bisa Dipercaya
Kepada para siswa, Zulfadli menyampaikan pesan yang lebih personal.
Ia mengajak mereka meneladani Rasulullah ﷺ sejak usia muda, terutama dalam kejujuran, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab.
“Jadilah seperti beliau: tidak menyakiti teman, tidak menyia-nyiakan waktu, dan tidak menyusahkan orang tua,” pesannya.
Ia juga mengajak siswa mengubah orientasi belajar. Pendidikan tidak semata-mata untuk mendapatkan nilai atau mengejar pekerjaan, tetapi harus diniatkan agar ilmu yang diperoleh kelak memberi manfaat bagi agama, orang tua, masyarakat, dan daerah asal.
“Itulah jalan mencintai Nabi ﷺ sesungguhnya,” ujarnya.
Maulid sebagai Titik Awal Perubahan
Rangkaian peringatan Maulid di SMAN 1 Samalanga diawali dengan pembacaan Samadiah dan doa bersama, dilanjutkan santunan kepada anak yatim, kenduri atau makan bersama, kemudian ditutup dengan doa dan harapan.
Namun bagi pihak sekolah, inti peringatan bukan semata-mata pada rangkaian acara tersebut.
Maulid diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah ﷺ dalam perilaku seluruh warga sekolah.
“Semoga peringatan Maulid ini menjadi awal perubahan di SMAN 1 Samalanga,” harap Zulfadli.
Ia berharap sekolah yang dipimpinnya menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang berilmu, berakhlak, peduli terhadap sesama, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.
Sebab, pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertanya seberapa tinggi seorang siswa mampu mencapai prestasi, tetapi juga seberapa besar ilmu dan kehidupannya mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Dari semangat itulah, SMAN 1 Samalanga ingin menanamkan satu cita-cita: melahirkan Generasi Ihsan cerdas pikirannya, bersih hatinya, mulia akhlaknya, dan nyata manfaatnya.
Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin. (Ak)