Petaka AI Tanpa Syariat


author photo

7 Okt 2026 - 11.26 WIB




Peringatan para peneliti global mengenai bahaya ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) harus menjadi perhatian serius. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan lompatan besar dalam dunia medis dan efisiensi industri. Namun di sisi lain, ledakan kecerdasan tanpa kendali membawa tiga risiko fatal: ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali manusia, hingga potensi memicu perang antarnegara.

Kemajuan teknologi buatan manusia ini ibarat pisau bermata dua yang dapat membawa kemudahan sekaligus kehancuran. Dalam pandangan Islam, bentuk fisik teknologi merupakan bagian dari madaniyah yang bernilai netral. Akan tetapi, AI beroperasi dengan mengolah jutaan informasi, pemikiran, dan pola pikir yang membentuk satu keputusan. Hal inilah yang menjadikan AI sangat terpengaruh oleh aspek hadharah atau ideologi pengembangnya. Tanpa arah yang benar, AI sangat mungkin dimanfaatkan untuk kejahatan dan dominasi pemodal.

Manusia pada hakikatnya dianugerahi kemuliaan akal untuk memahami tanda kekuasaan Allah serta menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi. AI yang dikembangkan di tangan manusia yang memiliki akidah kokoh dan tunduk pada syariat akan mendatangkan kemaslahatan masif. Sebaliknya, jika AI dikuasai oleh pandangan hidup yang mengabaikan aturan agama, teknologi tersebut justru mendatangkan bahaya dan kerusakan bagi kehidupan.

Oleh karena itu, penyelamatan peradaban dari ancaman kecerdasan buatan yang tak terkendali membutuhkan pijakan yang mendasar. Seluruh sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar perkembangan sains dan teknologi senantiasa membawa keselamatan serta keberkahan bagi seluruh alam.
Bagikan:
KOMENTAR