Santri, Kader Ulama Pembangun Peradaban Islam


author photo

25 Okt 2026 - 18.53 WIB




Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia menggelar acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) berdasarkan Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Dan pada tahun ini, peringatan Hari Santri kembali digelar dengan mengusung tema: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Kementerian Agama mengambil tema ini dengan menekankan pada peran strategis santri dalam pembangunan bangsa terutama pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kemandirian ekonomi. (rri.co.id, 18/10/2026)

Tersebarnya santri di banyak pesantren di beberapa wilayah Indonesia mendorong kementerian agama mengambil momentum HSN untuk mengingatkan santri agar tidak hanya menjadi pewaris keilmuan Islam dan berdaya saing, namun juga sebagai unsur utama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Hal ini sejalan dengan resolusi jihad yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagai pendahulunya.

Peringatan Hari Santri sejatinya bukan hanya sekedar persoalan sejarah. Para ulama terdahulu memang sangat memberikan fokus besar kepada santri dan pesantren. Karena Santri inilah yang diharapkan mampu menjadi tonggak peradaban Islam. Dari pesantrenlah lahir para ulama pejuang Islam. Oleh karena itu, para ulama membimbing para santri dengan pemikiran Islam. Namun sayangnya, peringatan Hari Santri saat ini rawan terjebak pada seremonial belaka bahkan mereduksi tujuan utamanya, yakni membentuk kader ulama yang tidak hanya mahir dalam ilmu namun juga mampu memecahkan berbagai persoalan umat. Kini santri lebih dituntut untuk menjadi pribadi yang produktif demi kepentingan dan identitas kebangsaan.

Inilah yang dikehendaki oleh sistem sekularisme. Kontribusi santri hanya difokuskan pada pembangunan bangsa dan negara. Mereka diajari soal teknologi dan ekonomi, penguatan karakter dan integritas serta persatuan bangsa. Kecintaan mereka kepada tanah air membuat mereka lengah terhadap kemunduran umat saat ini yang mengakibatkan pada munculnya berbagai problematika kehidupan. Mereka dicekoki dengan paham nasionalisme dan dijauhkan dari kesadaran politik Islam.

Padahal di dalam Islam, paham nasionalisme jelaslah batil. Paham ini adalah warisan penjajah yang sengaja ditanamkan di benak generasi muslim untuk memecah belah persatuan. Nasionalisme adalah penyakit yang membuat generasi muslim memandang penderitaan umat Islam di belahan bumi lain tidak ada hubungannya dengan mereka dan bukan tanggung jawab mereka. Sistem kapitalisme terus merawat paham nasionalisme ini agar terus mengkristal dalam diri kaum muslim.

Oleh karena itu peringatan Hari Santri seharusnya menjadi momentum penyadaran umat Islam terutama santri untuk menjadi pemimpin umat menegakkan aturan Allah secara menyeluruh (kaffah) serta membangun peradaban Islam. Sementara itu negara di dalam Islam, yakni khilafah berperan menyatukan umat dalam satu kesatuan yang dipimpin oleh seorang khalifah sebagai kepala negara untuk menembus batas-batas nasionalisme sehingga Islam bisa diterapkan di seluruh penjuru dunia sebagai rahmatan lil alamin di bawah institusi khilafah.
Bagikan:
KOMENTAR