Gaza Berdarah, Jurnalis Dibungkam


author photo

9 Sep 2025 - 11.57 WIB


Oleh: Sarah Ainun

Adegan memilukan kembali terpampang di layar kaca dunia. Serangan drone Zionis Israel menghantam jurnalis dan paramedis yang tengah bertugas. Lebih ironis lagi, pembantaian itu terjadi ketika kamera masih menyala, saat siaran langsung berlangsung. 

Darah para pejuang informasi itu mengalir deras di tengah reruntuhan Gaza, menyampaikan pesan yang jauh lebih lantang dari kata-kata: Zionis tak sekadar membunuh tubuh, tetapi ingin membungkam suara kebenaran.

Jurnalis-jurnalis Gaza yang tersisa tak menyerah. Mereka, dengan keberanian yang nyaris tak tersentuh nalar, menyeru kepada rekan-rekan sejawatnya di dunia internasional: datanglah ke Gaza, saksikan sendiri, dan tunjukkan pada dunia apa yang sebenarnya terjadi. 

Mereka tahu risiko itu nyawa, tetapi tetap memilih melawan. Sebab bagi mereka, memberitakan Gaza bukan sekadar profesi—itu adalah jihad informasi. Namun, pertanyaan yang menyesakkan dada kembali menggema: sampai kapan dunia hanya menjadi penonton?

Dunia Menyaksikan, Dunia Bungkam

Fakta bahwa Zionis menarget jurnalis dan paramedis bukanlah cerita baru. Dunia internasional mengetahuinya. Laporan-laporan lembaga HAM sudah menumpuk, resolusi-resolusi PBB sudah berulang kali diketok. Tetapi hasilnya nihil. Dunia hanya mengirimkan kecaman, seruan gencatan senjata, dan bantuan kemanusiaan seadanya.

Padahal, data nyawa yang tewas tidak sekadar dramatis. Menurut Committee to Protect Journalists (CPJ), sedikitnya 189 jurnalis dan pekerja media Palestina telah tewas sejak perang di Gaza pecah Oktober 2023. Lembaga PBB OHCHR bahkan mencatat angka lebih tinggi: 211 jurnalis, termasuk 28 di antaranya perempuan. Sementara Serikat Jurnalis Palestina menyebut jumlah korban lebih dari 240 jurnalis. Semua ini menegaskan bahwa Gaza adalah tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis.

Tak ada tempat yang aman di Gaza, bahkan bagi mereka yang hanya membawa kamera dan pena. Kebiadaban itu mencapai babak baru yang lebih kelam pada Agustus 2025. Serangan udara Israel mengguncang Rumah Sakit Nasser, ruang yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, dan merenggut sedikitnya 20 nyawa, termasuk lima jurnalis yang bekerja di media internasional. 

Di antara korban adalah Hussam al-Masri, juru kamera sekaligus kontraktor Reuters, yang tewas dalam serangan pertama. Nyawanya terenggut justru ketika ia berusaha merekam kebenaran yang tak ingin dilihat oleh dunia.

Lebih tragis lagi, dalam serangan "double tap" ke Rumah Sakit Nasser, Khan Younis (selatan jalur Gaza), empat tenaga medis—pihak yang seharusnya dilindungi—juga tewas dijadikan target serangan brutal zionis Israel.

Apakah darah yang mengalir di Gaza terlalu murah di mata dunia? Atau memang tatanan internasional hari ini dibangun di atas standar ganda yang busuk—di mana nyawa warga Palestina tak pernah dianggap berharga?

Fakta yang pahit: kekejian Zionis tak akan pernah berhenti, selama ia terus mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutunya. Veto demi veto di Dewan Keamanan PBB menjadi benteng pelindung Israel dari setiap bentuk pertanggungjawaban. Dunia menyaksikan, dunia bungkam.

Dua Milyar Muslim, Tapi Tak Berdaya

Di sisi lain, umat Islam hari ini berjumlah lebih dari dua milyar jiwa. Angka yang jika digabungkan, mampu menjadi kekuatan terbesar di muka bumi. Tetapi kenyataannya, umat ini tercerai-berai.

Darah saudara mereka tumpah setiap hari di Gaza, namun penguasa negeri-negeri muslim hanya sanggup mengirim bantuan kemanusiaan, menggelar konferensi, atau sekadar mengucapkan doa bersama. Tak ada satupun yang benar-benar menurunkan pasukan militer untuk menghentikan kebiadaban Zionis.

Ironis, ketika negara-negara muslim memiliki persenjataan canggih, armada militer besar, dan sumber daya melimpah, tetapi semuanya dikurung oleh batas-batas nasionalisme sempit. Padahal, Palestina bukan hanya urusan bangsa Palestina. Itu adalah tanah kaum muslimin. Luka Palestina adalah luka seluruh umat Islam.

Sayangnya, kesadaran ini belum menjadi opini mayoritas. Sebagian besar umat masih puas dengan donasi, boikot produk, atau sekadar unggahan di media sosial. Semua itu tentu baik, tetapi jelas tidak cukup untuk menghentikan mesin pembantaian Zionis yang tak pernah kehabisan peluru.

Palestina: Tanah yang Dirampas, Bukan Sekadar Isu Kemanusiaan

Kita perlu jujur menyebut persoalan ini apa adanya. Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, bukan pula sekadar konflik politik. Ini adalah masalah penjajahan dan akidah. Tanah Palestina adalah tanah kaum muslim yang dirampas Zionis Yahudi dengan dukungan kolonial Barat sejak awal abad ke-20.

Maka membebaskannya bukan sekadar pilihan moral, melainkan kewajiban syar’i. Allah SWT telah menegaskan: 

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sungguh, Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’...” (QS. Al-Hajj: 39-40).

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah ayat pertama yang menurunkan izin jihad setelah kaum muslimin dizalimi dan diusir dari kampung halamannya. Allah mengizinkan mereka untuk melawan penindasan dan mengangkat senjata demi mempertahankan agama, kehormatan, dan tanah airnya. Dengan kata lain, ayat ini menjadi dalil syar’i bahwa melawan penjajahan adalah kewajiban yang tak bisa ditawar.
 
Sejarah pun menjadi saksi: penjajahan tidak pernah berakhir dengan konferensi meja bundar, tetapi dengan perlawanan bersenjata yang terorganisir. Perang Salib bisa dihentikan hanya karena kebangkitan kekuatan Islam di bawah Salahuddin al-Ayyubi. Begitu pula penjajahan kolonial Barat di negeri-negeri muslim bisa diusir hanya dengan perjuangan fisik, bukan diplomasi kosong.

Maka hari ini, logika sejarah dan syariat sama-sama berbicara: solusi hakiki bagi Palestina adalah jihad pembebasan, bukan sekadar kecaman.

Menggaungkan Solusi Hakiki

Sayangnya, ide jihad dan persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan masih dianggap asing bagi banyak orang. Bahkan sebagian penguasa muslim menganggapnya ancaman bagi stabilitas politik mereka sendiri. Padahal, tanpa kesadaran itu, penderitaan Palestina akan terus berulang.

Allah SWT berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu...” (QS. Al-Anfal: 60).

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam wajib mempersiapkan kekuatan, termasuk kekuatan militer, untuk menghadapi musuh yang terus merampas tanah dan menumpahkan darah kaum muslim. Tanpa kekuatan, penderitaan hanya akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Di sinilah pentingnya Kaum muslim harus terus disadarkan bahwa solusi hakiki bukanlah bantuan kemanusiaan semata, melainkan pembebasan total. Bukan sekadar doa, tetapi tuntutan kepada para penguasa muslim agar mengerahkan kekuatan militer mereka.

Kesadaran umat harus dibangun dari mimbar masjid, ruang kelas, media sosial, hingga opini media massa. Umat Islam harus menjadikan isu Palestina sebagai isu utama, bukan isu musiman. 

Opini publik harus diarahkan agar bersatu menuntut penguasa mereka untuk berhenti menormalisasi hubungan dengan Israel, berhenti tunduk pada tekanan Barat, dan segera mengirimkan pasukan demi membebaskan Gaza.

Jangan Hanya Jadi Saksi

Kebrutalan Zionis tak akan pernah berhenti dengan kecaman-kecaman hampa. Setiap hari yang berlalu tanpa solusi hakiki hanya akan berarti lebih banyak nyawa tak berdosa yang melayang.

Angka-angka yang dirilis organisasi internasional bukan sekadar statistik. Mereka adalah nyawa—suara yang dipadamkan sebelum dunia sempat mendengarnya. Setiap jurnalis yang terbunuh adalah saksi yang dibungkam. Setiap paramedis yang ditembak adalah harapan hidup yang dipadamkan.

Kita tidak bisa terus menjadi saksi pasif atas tragedi ini. Umat Islam harus bergerak, menyuarakan solusi syar’i dengan lantang, mendesak para pemimpin mereka untuk mengambil sikap nyata. Persatuan umat dan jihad pembebasan bukan utopia, melainkan kewajiban yang sudah terbukti di sepanjang sejarah.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita rela terus hidup dalam posisi sebagai penonton, sementara darah saudara kita tumpah setiap hari? Atau kita akan menjadi bagian dari kebangkitan umat yang menegakkan solusi hakiki demi membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis?
Sejarah akan mencatat pilihan kita. Dan Gaza hari ini menanti jawabannya.
Bagikan:
KOMENTAR