Aktivis Muslimah Balikpapan
Polrestabes Medan mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya, AL (12), di Kota Medan. Yang salah satu sebabnya adalah anak tersebut terpicu Ibunya menghapus game online miliknya.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana, S.Psi, Psikolog menjelaskan, dalam banyak kasus, kekerasan berat yang dilakukan anak bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Perilaku tersebut umumnya merupakan puncak dari rangkaian masalah emosional dan lingkungan yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada banyak kasus, kekerasan ekstrem yang dilakukan anak merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan atau penanganan dini,” jelas Vera saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.
Game Online Inspirasi Kekerasan & Pembunuhan
Publik seakan tidak sanggup membaca bahkan berbagai opini bergulir terkait kejadian pembunuhan oleh generasi seperti fakta yang di ungkap.
Hal ini tidak terlepas dari kemudahan akses game online sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental. Kecepatan akses media sosial tanpa di barengi dengan kematangan tsaqafah, tanpa di sadari oleh generasi menjadi pola pikir yang sangat praktis.
Realita ini menunjukkan bahwa platform digital tidak netral, banyak nilai dan ajaran yang merusak dalam bentuk game yang menarik.
Kapitalisme Global Meraup Keuntungan dan Negara Gagal Melindungi Generasi
Industri itulah mindset adanya game online saat ini. Paradigma yang wajar dalam sistem Kapitalisme. Kerapuhan generasi dan kehancuran generasi tidak menjadi asas mendasar dalam kebijakan.
Keuntungan dari game online dalam mata uang Rupiah di Indonesia mencakup beberapa aspek ekonomi, hiburan, dan sosial:
Keuntungan Ekonomi
Peluang Penghasilan Langsung: Banyak pemain sukses mendapatkan penghasilan signifikan melalui turnamen esports dengan hadiah uang tunai, sponsor, dan gaji tim profesional.
Monetisasi Konten: Pemain dan pembuat konten dapat menghasilkan Rupiah dengan melakukan streaming langsung di platform seperti YouTube Gaming, Twitch, dan Nimo TV melalui iklan, donasi, dan langganan berbayar.
Industri Terkait: Ekosistem game menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor, termasuk pengembangan game lokal, jurnalisme game, manajemen acara esports, dan penjualan perangkat keras.
Perdagangan Dalam Game: Meskipun seringkali melibatkan risiko, ada pasar untuk perdagangan item virtual, akun, dan mata uang dalam game yang dapat diuangkan menjadi Rupiah.
Keuntungan Sosial dan Personal
Hiburan dan Relaksasi: Game online menyediakan sarana hiburan yang dapat diakses dengan biaya yang relatif rendah, membantu menghilangkan stres dan kebosanan.
Peningkatan Keterampilan Kognitif: Game tertentu dapat membantu meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, koordinasi tangan-mata, pemikiran strategis, dan kerja tim.
Komunitas dan Jaringan Sosial: Pemain dapat terhubung dan bersosialisasi dengan orang-orang baru, membangun komunitas berdasarkan minat yang sama, dan memperluas jaringan pertemanan mereka.
Peluang Internasional: Sukses di tingkat global dapat membawa pengakuan dan peluang untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional, meningkatkan reputasi negara di kancah esports.
Secara keseluruhan, industri game online telah berevolusi dari sekadar hobi menjadi sektor ekonomi yang sah dan berkembang di Indonesia, menawarkan berbagai keuntungan baik secara finansial maupun sosial.
Inilah paradigma yang muncul dari sistem kapitalisme, sistem ini mengukurnya sebatas manfaat, sehingga masih terlihat ada "peluang positif" dari industri game online.
Kalaupun ada pelaku dan korban dari dampak adanya game online ini, itu tidak dilihat sebagai problem sistem, namun ini perkara individu.
Upaya pemerintah berkaitan dengan dampak ini secara hukum dengan hadir nya PP Tunas pun ternyata tidak mampu untuk mengakhiri dampak dari rusaknya industri Kapitalisme.
Islam Mewajibkan Negara Menjaga dan Melindungi Generasi dari Segala Bentuk Kerusakan
Lihatlah Kondisi pelajar saat ini yang terjerumus dalam perbuatan kriminalitas, merupakan buah dari penerapan sistem sekuler kapitalis. Akibatnya remaja hidup dipahami sebatas mengejar kesenangan, pengakuan, dan pelampiasan emosi. Ketika keinginan terhalang, kemarahan meledak tanpa kendali.
Hal ini pun tidak bisa di lepaskan dari Kegagalan sistem pendidikan. Pendidikan lebih menekankan capaian akademik dan kompetisi, bukan pembentukan kepribadian. Remaja tidak dibekali cara berpikir benar, mengelola emosi, atau menyelesaikan konflik dengan baik.
Keluarga kehilangan fungsi pengasuhan, lingkungan yang rusak seperti normalisasi kekerasan di medsos, budaya hidup bebas, lemahnya kontrol dari masyarakat. Serta Abainya negara dalam menjaga jiwa generasi.
Umat Islam membutuhkan seorang pemimpin yang tidak sekedar retorika, namun bukti nyata melindungi dan menjaga generasi. Pemimpin atau Khalifah adalah garda terdepan pelindung generasi.
Islam memandang kriminalitas pada remaja secara menyeluruh (kaffah), bukan parsial. Solusinya pun mencakup individu, keluarga, masyarakat, dan negara.
Pembinaan Individu, dengan menanamkan akidah Islam sebagai fondasi keimanan dan ketakwaan terhadap Allah swt. Memberikan pemahaman bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Menanamkan konsep qiyadah fikriyah (kepemimpina berfikir berdasarkan Islam).
Mengembalikan fungsi keluarga sebagai Madrasah Pertama. Islam menempatkan orang tua sebagai pendidik utama. Membangun komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang. Memberi teladan akhlak, bukan hanya nasihat. Menciptakan rumah sebagai tempat aman, bukan tekanan.
Masyarakat aktif mengontrol dan amar ma’ruf nahi munkar
Negara melindungi jiwa dengan menyediakan sistem pendidikan berbasis aqidah dan akhlak, menutup akses terhadap konten dan budaya perusak, menjamin kebutuhan ekonomi setiap individu agar keluarga tidak terbebani, menerapkan hukum yang tegas (jawabir) dan pencegah (zawajir) (QS. Al Baqoroh: 179).