‎ ‎
‎ ‎

Generasi Muslim di Ruang Digital yang Tak Netral


author photo

17 Jan 2026 - 07.52 WIB



Oleh Rina Rahmi

Ketergantungan generasi muda terhadap ruang digital hari ini bukan lagi sekadar fenomena tambahan, melainkan telah menjadi realitas utama kehidupan. Gawai dan internet hadir sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Proses belajar, hiburan, interaksi sosial, bahkan pembentukan jati diri banyak berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi rujukan utama dalam menentukan standar kebahagiaan, kesuksesan, dan eksistensi diri. Algoritma platform digital mengatur apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan generasi muda, sering kali tanpa mereka sadari.

Masalahnya, ruang digital bukan ruang yang netral nilai. Ia dikendalikan oleh kepentingan ekonomi dan ideologi tertentu yang menjadikan manusia sebagai komoditas. Perhatian, emosi, dan waktu generasi muda dieksploitasi demi keuntungan. Konten yang viral sering kali bukan yang mendidik, melainkan yang sensasional, provokatif, dan merusak akhlak. Ketergantungan ini melahirkan generasi yang mudah terdistraksi, dangkal dalam berpikir, serta terbiasa dengan budaya instan. Tanpa filter akidah yang kuat, ruang digital justru menjadi pintu masuk berbagai kerusakan pemikiran dan moral yang sulit dibendung.

 *Generasi Muda Harapan Umat* 

Generasi muda sejatinya adalah harapan umat dan calon pemimpin masa depan. Di tangan merekalah estafet kepemimpinan umat Islam akan diteruskan. Namun realitas yang dihadapi generasi hari ini jauh dari ideal. Mereka bergulat dengan berbagai persoalan serius yang belum terselesaikan, seperti maraknya bullying di sekolah dan media sosial, krisis kepemimpinan, degradasi akhlak, hingga meningkatnya kasus pelecehan dan kekerasan. Tekanan mental, kecemasan, dan kebingungan identitas menjadi masalah yang semakin umum di kalangan generasi muda.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi persoalan ini, mulai dari kampanye digital, konseling daring, hingga regulasi platform. Namun solusi-solusi tersebut sering kali hanya menyentuh permukaan. Tidak sampai pada akar masalah sesungguhnya yang terletak pada pandangan hidup generasi yang semakin sekuler dan kapitalistik. Dimana hidup dipahami semata untuk mengejar materi, popularitas, dan kepuasan diri. Nilai agama tersisih menjadi urusan privat, tidak lagi menjadi landasan berpikir dan bersikap. Dengan pandangan hidup seperti ini, wajar jika berbagai masalah generasi tidak bisa diselesaikan, karena yang rusak bukan sekadar perilaku, tetapi cara pandang terhadap kehidupan itu sendiri.

 *Generasi Tangguh dalam Pembinaan Rasulullah SAW* 

Sejarah Islam memberikan gambaran jelas tentang bagaimana membentuk generasi tangguh. Rasulullah SAW melakukan pembinaan yang sistematis dan mendalam kepada para sahabat dengan menanamkan akidah Islam sebagai fondasi utama. Pembinaan ini tidak hanya mengajarkan ritual ibadah, tetapi membentuk pola pikir dan pola sikap Islami dalam seluruh aspek kehidupan. Para sahabat dididik untuk memandang hidup berdasarkan wahyu, menjadikan ridha Allah sebagai tujuan, dan menilai segala sesuatu dengan standar halal-haram.

Hasil dari pembinaan ini adalah lahirnya generasi luar biasa yang kokoh kepribadiannya, kuat mentalnya, dan jernih pemikirannya. Mereka mampu membentengi diri dari berbagai kerusakan yang datang dari luar Islam, meskipun hidup di tengah masyarakat jahiliah yang sarat penyimpangan. Jika pembinaan Rasulullah SAW diteladani hari ini, maka generasi Muslim tidak hanya mampu bertahan dari arus kerusakan di ruang digital, tetapi juga mampu menguasainya. Dengan kemudahan teknologi, generasi yang memiliki kepribadian Islam justru akan memanfaatkannya untuk dakwah, penyebaran ilmu, serta kebangkitan dan kemuliaan Islam, bukan menjadi korban dari sistem digital yang merusak.

 *Islam Kaffah dalam Naungan Khilafah* 

Kekuatan iman yang diperoleh dari pembinaan tentunya akan menghasilkan ketakwaan, dimana setiap perbuatan seseorang akan senantiasa terikat dengan Syariat Islam.

Namun ketakwaan ini sendiri tidak cukup menjaga individu bahkan masyarakat dari kerusakan jika tidak dibarengi dengan adanya aturan yang mengamankan ketakwaan individu dan masyarakat tersebut hingga tidak terkotori oleh hal2 yang merusak. Dan aturan ini berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Sempurna. 
Dalam hal ini, negara berperan besar dalam menjaga informasi dengan menerapkan kedaulatan digital yaitu melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap media massa, baik media cetak maupun digital sesuai dengan prinsip-prinsip Islam sebagai satu-satunya aturan yang diridhoi Allah Sang Pencipta.
Dengan kata lain, negara menjaga generasi muda untuk memiliki kemampuan mengakses, menggunakan, dan mengembangkan teknologi digital sesuai dengan cara yang disyariatkan ajaran Islam. Umat menggunakan medsos dalam rangka kataatan kepada Allah Swt.
Dengan kedaulatan digital yang sesuai dengan syariat kaffah, dan penerapan sanksi yang tegas, maka kita bisa mewujudkan perlindungan terhadap generasi muda dan membangun peradaban Islam yang lebih baik. Hanya penerapan Islam kafah yang mampu melindungi dan menyelamatkan generasi muda dari kerusakan sistem kapitalisme yang hari ini membentuk pola pikir, gaya hidup, dan perilaku di ruang digital. Karena itu, penerapan Islam kafah harus diperjuangkan secara sadar dan kolektif. 
Wallahu a'lam
Bagikan:
KOMENTAR