Oleh: Nana Juwita, S.Si.
Masyarakat sempat terkejut dengan adanya peristiwa terbunuhnya seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya, terlebih yang menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut adalah anak kandungnya sendiri yang umurnya masih 12 Tahun. Kasus ini sempat menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat, ada yang berpendapat bagaimana mungkin seorang anak tega membunuh ibunya?
Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan bahwa AL ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan tersebut, ada pun alasan yang mendorong AL membunuh korban (ibu kandungnya) diantaranya: Pertama, AL sering melihat kekerasan yang dilakukan ibunya terhadap kakak, dengan ancaman menggunakan pisau terhadap ayah. Kedua, sakit hati akibat game online dihapus oleh ibunya, karena AL kerap kali memainkan game yang mengandung unsur kekerasan. (regional.kompas.com, 29/12/2025)
Kondisi generasi hari ini memang memprihatinkan karena kasus-kasus semisal bukan malah berkurang, namun makin menjamur. Belum lama ini kita juga dikejutkan oleh kasus pengeboman sekolah yang dilakukan siswa SMAN 72 Jakarta Utara yang berinisial FN. Ia membuat bom rakitan yang sengaja diletakkan di sekolahnya sendiri. Empat diantaranya berhasil meledak dan menyebabkan 96 warga sekolah luka-luka. Namun kasus pembunuhan yang dilakukan anak terhadap ibunya ini sungguh sangat memprihatinkan.
Tidak dapat dimungkiri bahwa game online mengandung kekerasan sangat mudah diakses anak-anak sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental. Inilah salah satu faktor penyebab mengapa generasi saat ini sampai mampu melakukan hal-hal yang jauh dari aturan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Platform digital hari ini tidak netral, banyak nilai dan ajaran yang merusak dikemas dalam bentuk game yang menarik. Sehingga memotivasi pengguna game online untuk mengikuti apa yang mereka lihat.
Itu semua disebabkan oleh paradigma sistem kapitalisme yang menjadikan fokus penggunaan ruang digital hanya untuk meraup keuntungan tanpa mempedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia. Negara gagal melindung generasi dari bahaya kerusakan akibat game online dengan konten kekerasan.
Islam mewajibkan negara menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan. Selain konten kekerasan dalam bentuk game online, film, juga ide-ide sekularisme yang beredar bebas di dunia maya semakin membuat kondisi generasi hari ini jauh dari Islam. Sistem pendidikan sekularisme terbukti tidak mampu melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam, mereka bertingkah laku sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Sebagai contoh pergaulan bebas, aborsi, judol,pinjol, tidak jarang pelakunya adalah generasi muda. Selain itu kondisi keluarga yang juga tidak harmonis merupakan salah satu faktor yang juga menjadi penyebab terdorongnya generasi melakukan hal-hal di luar nalar.
Oleh karena itu, hegemoni ruang digital oleh Kapitalisme global harus dilawan dengan kekuatan kedaulatan digital. Hal ini hanya mungkin terwujud ketika Islam dijadikan aturan untuk mengatur kehidupan individu, masyarakat bahkan negara. Karena kerusakan generasi bisa ditangkal dengan 3 pilar (ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan perlindungan negara) jika diterapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial dan budaya Islam. Sudah saatnya umat juga menyadari bahwa kapitalisme sekularisme terbukti gagal mewujudkan pendidikan yang Islam, maka untuk menyelamat generasi saat ini baik orang tua,guru dan masyarakat haruslah memberikan dukungan terhadap penerapan Islam kafah.