‎ ‎
‎ ‎

Kekerasan Psikis Pada Perempuan, Buah Penerapan Sekulerisme Liberal


author photo

17 Jan 2026 - 07.55 WIB



Oleh : Suryani Rahmah, A.Md Far (Pemerhati Masyarakat)
 Kekerasan psikis menjadi ancaman paling serius bagi perempuan di Kabupaten Paser sepanjang 2025. Tekanan emosional yang berkepanjangan tak hanya berdampak pada kondisi kejiwaan, tetapi juga berisiko memicu gangguan kesehatan fisik hingga berujung fatal jika tidak ditangani secara tepat.
        Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Paser, total laporan kekerasan terhadap perempuan selama 2025 mencapai 29 kasus. Dari jumlah tersebut, kekerasan psikis mendominasi dengan 18 kasus. Sementara kekerasan fisik tercatat sebanyak 5 kasus, kekerasan seksual 3 kasus, dan jenis kekerasan lainnya sebanyak 3 kasus.
       Kepala DP2KBP3A Kabupaten Paser berpendapat kekerasan psikis sering luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat berbahaya. Meski angka laporan kekerasan tergolong tinggi, Amir menilai hal tersebut bukan sebagai kegagalan. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran dan keberanian perempuan di Paser untuk melaporkan kekerasan yang dialami. Menurutnya, perempuan kini semakin memahami hak-haknya serta mengetahui jalur pelaporan yang tersedia, baik untuk kekerasan fisik maupun psikis.
 *Sekulerisme Liberal Akar kekerasan terhadap Perempuan*
        Kekerasan perempuan khususnya psikis terjadi menandakan betapa kehidupan saat ini keras. Tuntutan kehidupan membuat perempuan jadi korban. Tidak hanya persoalan personal/ keluarga tapi sistemik yang memaksa berlaku keras kepada mereka perempuan.
        Semakin banyaknya kasus kekerasan khususnya kekerasan psikis perempuan semakin membuktikan bahwa kondisi saat ini tidak bisa memberikan perlindungan terhadap perempuan. Tidak ada ruang aman bagi perempuan di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Semua mengancam perempuan bahkan orang terdekat dan di rumah sekalipun.
       Tingginya kekerasan menunjukkan kegagalan perlindungan negara. Angka yang terlapor pun sebenarnya masih tak seberapa. Artinya statetmen terkait dengan tingginya laporan kekerasan bukan sebagai kegagalan tapi dilihat sebagai sinyal positif wajar dalam sistem kapitalis sekuler yang selalu melihat masalah hanya dipermukaan. Padahal ada hal yang mendasar yang harus diselesaikan bagaimana perempuan mendapatkan perlindungan dari semua kehidupan dan terbebas dari kasus kekerasan.
     Selain itu adopsi nilai-nilai dan gaya hidup barat merupakan salah satu pemicu kekerasan terhadap keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga pun menjadi ancaman bagi keutuhan keluarga. Inilah dampak kehidupan sekuler dan liberal yang telah mendesain kehancuran keluarga muslim dengan ide liberal dan kesetaraan gender.
 *Islam Memuliakan Perempuan*
        Kekerasan perempuan khususnya psikis mendera perempuan karena jauh dari Islam. Islam menyelematkan perempuan dari kekerasan. Dalam Islam Rasulullah bersabda : “Wahai Aisyah sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan, Allah memberikan pada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan pada kekerasan dan sifat-sifat lainnya” (HR. Muslim, No. 2593) dan inilah teladan bagaimana sikap Rasulullah terhadap perempuan.
       Selain itu, tiga pilar negara Islam dan support sistem Islam juga akan melindungi perempuan. Perempuan akan dimuliakan bahkan perannya sebagai tonggak peradaban yang melahirkan generasi emas masa depan. Dengan sistem hukum Islam akan memberikan sanksi tegas oleh Khalifah, jika berlaku buruk terhadap perempuan.
        Oleh karena itu satu-satunya kehidupan yang menjaga kemuliaan perempuan adalah Islam. Penerapan syariat Islam kaffah, akan memuliakan kaum perempuan. Mengembalikan peran utama perempuan sebagai ibu dan pendidik generasi. Wallahu ‘alam bis showab.
Bagikan:
KOMENTAR