‎ ‎
‎ ‎

Mengapa Isra Mi’raj Belum Mengubah Kehidupan Umat?


author photo

15 Jan 2026 - 10.34 WIB


Oleh: Rohimah Arsyifa (Aktivis Dakwah Muslimah)

Fenomena peringatan Isra Mi'raj di masyarakat saat ini adalah menampilkan ceramah dengan pendekatan humor yang ringan dan komunikatif. Di satu sisi, metode ini efektif menarik perhatian jamaah. Namun di sisi lain, secara tidak langsung menyingkap masalah mendasar umat Islam hari ini, yaitu terputusnya pemahaman ibadah dari sistem kehidupan.

Isra Mi’raj sering diperingati secara seremonial, bahkan penuh canda, tetapi pesan intinya shalat sebagai pilar kehidupan dan hukum Allah sebagai pengatur umat tidak benar-benar terinternalisasi. Akibatnya, muncul paradoks peringatan Isra Mi’raj ramai, tetapi shalat masih bolong-bolong, dan kehidupan umat tetap jauh dari nilai Islam.

Masalah utama bukan terletak pada gaya ceramah yang lucu, melainkan pada cara pandang umat terhadap Islam itu sendiri. Islam hari ini lebih banyak dipahami sebatas
ibadah individual, akhlak personal, dan simbol-simbol seremonial.

Padahal, Isra Mi’raj justru menegaskan bahwa shalat adalah fondasi peradaban, bukan sekadar kewajiban spiritual. Rasulullah saw menerima perintah shalat langsung dari Allah, di luar mekanisme wahyu biasa, sebagai isyarat bahwa hubungan dengan Allah adalah pusat pengaturan seluruh aspek kehidupan.

Ketika shalat dipisahkan dari sistem ekonomi, politik, hukum, dan pendidikan, maka ibadah kehilangan daya ubah sosial. Inilah dampak dari sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan publik.


Dalam sistem yang ada saat ini,shalat diwajibkan, tetapi riba dilegalkan, aurat diperintahkan, tetapi pornografi dilindungi, kejujuran diajarkan, tetapi korupsi menjadi sistemik.

Ini menyebabkan umat berada dalam kondisi kontradiktif shalat dilakukan, tetapi dosa struktural terus diproduksi oleh negara. Akhirnya, Islam kehilangan perannya sebagai solusi kehidupan, dan hanya berfungsi sebagai pelipur lara spiritual.

Islam tidak cukup diterapkan secara parsial. Allah SWT berfirman yang artinya “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)” (QS. Al-Baqarah: 208)

Isra Mi’raj tidak hanya melahirkan perintah shalat, tetapi juga menegaskan otoritas hukum Allah atas manusia. Karena itu, solusi hakiki dari krisis ibadah dan moral umat adalah penerapan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, yang dalam sejarah Islam diwujudkan melalui institusi khilafah.

Khilafah bukan sekadar simbol politik, melainkan penjaga penerapan syariat, pelindung akidah umat, dan institusi yang memastikan bahwa shalat tidak berdiri sendirian, tetapi ditopang oleh sistem hukum, ekonomi, dan sosial yang Islami.


Dalam sistem khilafah pendidikan membentuk kepribadian Islam, ekonomi bebas riba, hukum menutup pintu kemaksiatan, dan negara berfungsi sebagai ra‘in (pengurus), bukan sekadar regulator netral.

Dengan demikian, shalat benar-benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena lingkungan sosial dan negara tidak lagi memfasilitasi kemungkaran.

Isra Mi’raj seharusnya tidak berhenti pada tawa dan peringatan tahunan. Ia adalah momentum koreksi besar bahwa hubungan dengan Allah harus tercermin dalam tata kelola kehidupan. Selama Islam masih dipisahkan dari sistem negara, maka krisis ibadah dan moral akan terus berulang.

Sudah saatnya umat Islam tidak hanya merayakan Isra Mi’raj, tetapi mengambil konsekuensinya menjadikan Islam sebagai way of life, dan memperjuangkan penerapannya secara kaffah di bawah naungan khilafah, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw dan generasi terbaik umat ini.
Bagikan:
KOMENTAR