‎ ‎
‎ ‎

Perempuan mengalami Kekerasan Psikis, Kesehatan Mental jadi Terkikis


author photo

14 Jan 2026 - 22.30 WIB


Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Pemerhati Sosial)

Kekerasan psikis menjadi ancaman paling serius bagi perempuan di Kabupaten Paser sepanjang 2025. Tekanan emosional yang berkepanjangan tak hanya berdampak pada kondisi kejiwaan, tetapi juga berisiko memicu gangguan kesehatan fisik hingga berujung fatal jika tidak ditangani secara tepat. 

Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Paser, total laporan kekerasan terhadap perempuan selama 2025 mencapai 29 kasus. Dari jumlah tersebut, kekerasan psikis mendominasi dengan 18 kasus. Sementara kekerasan fisik tercatat sebanyak 5 kasus, kekerasan seksual 3 kasus, dan jenis kekerasan lainnya sebanyak 3 kasus. 

Menurut Kepala DP2KBP3A Kabupaten Paser kekerasan psikis sering luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat berbahaya. Meski angka laporan kekerasan tergolong tinggi, Amir menilai hal tersebut bukan sebagai kegagalan. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran dan keberanian perempuan di Paser untuk melaporkan kekerasan yang dialami. Menurutnya, perempuan kini semakin memahami hak-haknya serta mengetahui jalur pelaporan yang tersedia, baik untuk kekerasan fisik maupun psikis. (https://www.beritasatu.com/network/radarbontang/751501/kekerasan-psikis-dominasi-kasus-kekerasan-perempuan-di-paser)

Kekerasan Psikis Perempuan

Kekerasan perempuan khususnya psikis terjadi menandakan betapa kehidupan saat ini keras. Tuntutan kehidupan membuat perempuan jadi korban. Tidak hanya persoalan personal/ keluarga tapi sistemik yang memaksa berlaku keras kepada mereka perempuan. Semakin banyaknya kasus kekerasan khususnya kekerasan psikis perempuan. 

Hal ini semakin membuktikan bahwa kondisi saat ini tidak bisa memberikan perlindungan terhadap perempuan. Tidak ada ruang aman bagi perempuan di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Semua mengancam perempuan bahkan orang terdekat dan di rumah sekalipun.

Tingginya kekerasan menunjukkan kegagalan perlindungan negara. Angka yang terlapor pun sebenarnya masih tak seberapa. Artinya statemen terkait dengan tingginya laporan kekerasan bukan sebagai kegagalan tapi dilihat sebagai sinyal positif wajar dalam sistem kapitalis sekuler yang selalu melihat masalah hanya dipermukaan. 

Padahal ada hal yg mendasar yang harus diselesaikan bagaimana perempuan mendapatkan perlindungan dari semua kehidupan dan terbebas dari kasus kekerasan.
Survei I-NAMHS mengungkap temuan utama bahwa gangguan mental yang paling banyak dialami adalah gangguan kecemasan.

Gangguan kecemasan yakni gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh, dengan prevalensi sebesar 3,7%. Disusul gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), masing-masing sebesar 0,5%.

Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang memengaruhi kesehatan mental seseorang, antara lain perundungan, tekanan, relasi dengan keluarga, perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat, pengalaman yang traumatis, hingga keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Senada dengan itu, psikolog sekaligus pendidik Najeela Shihab menegaskan bahwa kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Sekretaris Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia, Dian Sudiono Putri, menyebut pemicu gangguan kesehatan mental yaitu, kecanduan gawai, trauma masa kecil, kekerasan dalam rumah tangga, dan tekanan sosial memunculkan gangguan mental, baik ringan maupun berat. 

Setiap orang, memiliki pencetus yang berbeda-beda. Dian juga menyebutkan bahwa kondisi ekonomi turut berpengaruh. Seseorang yang hidup di wilayah dengan tingkat sosial ekonomi rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental. Mereka rentan menjadi korban kekerasan fisik maupun emosional akibat stres pasangan yang kewalahan memenuhi kebutuhan hidup. Beban finansial, serta tekanan hidup sehari-hari turut menjadi pemicu tambahan.

Kegagalan Sistem

Berdasarkan berbagai pandangan para ahli, menjadi jelas bahwa persoalan kesehatan mental pada seseorang tidak berdiri sendiri. Masalah ini bukan semata isu medis atau persoalan individu, melainkan buah dari lingkungan dan sistem kehidupan yang membentuknya. Kita hidup dalam tatanan sosial yang sejak awal menanamkan tekanan, ketimpangan, dan krisis nilai. 

Di sinilah tampak bahwa sistem sekuler kapitalistik telah gagal membentuk masyarakat yang kuat secara mental maupun spiritual. Sistem ini secara sadar memisahkan agama dari urusan kehidupan. Agama dianggap cukup jika hadir di ruang privat, sementara urusan pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial dijalankan berdasarkan logika materi dan kepentingan pasar. 

Akibatnya, nilai-nilai spiritual dan moral tercerabut dari ruang publik tempat masyarakat dibentuk. Dalam kerangka kehidupan seperti ini, seseorang didorong untuk mengejar standar pencapaian duniawi, seperti nilai materi tinggi, karier gemilang, dan pencitraan sosial yang baik. 

Parahnya, semua itu tidak dibarengi dengan pemaknaan hidup yang utuh dan fondasi spiritual yang kokoh. Tidak sedikit dari mereka yang tumbuh menjadi pribadi kaya raya tetapi rapuh saat menghadapi tekanan, kegagalan, atau kehilangan. Tanpa panduan yang kuat tentang tujuan hidup, banyak dari mereka kehilangan arah ketika hidup tidak sesuai ekspektasi. 

Mereka mudah cemas, tertekan, bahkan terpuruk. Dalam dunia yang terus menuntut pencapaian tanpa memberi ruang untuk memahami makna hidup, banyak yang akhirnya merasa kosong, terasing, dan kehilangan pegangan. Sistem sekuler liberal membentuk masyarakat dengan identitas goyah, mudah menyerah, dan mencari pelarian instan saat menghadapi masalah.

Pada saat yang sama, sistem ekonomi kapitalistik telah menciptakan ketimpangan yang nyata. Kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat lebih banyak dikuasai segelintir elit. Mayoritas masyarakat harus membanting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Dalam kondisi seperti ini, banyak seseorang kehilangan waktu dan energi. Komunikasi yang keliru pun terjadi, bahkan memperburuk kondisi psikis pasangan. Sayang, negara tidak banyak hadir sebagai pelindung dan pengayom. Dalam sistem yang lebih mengutamakan mekanisme pasar, negara berperan lebih sebagai pengatur dan penyedia fasilitas, bukan sebagai pelayan penuh bagi rakyat. 

Pelayanan yang seharusnya menjadi hak dasar, seperti pendidikan dan kesehatan, kerap bergantung pada kemampuan bayar. Tidak heran, ketika kondisi ini terus dibiarkan, mental seorang istri kian rapuh. Bukan hal aneh jika kasus kriminalitas yang melibatkan suami atau istri semakin marak. 

Ada yang tega melakukan kekerasan terhadap istrinya atau sebaliknya, dari penganiayaan hingga pembunuhan. Ada pula kekerasan seksual yang berujung pada kematian. Tidak kalah mengkhawatirkan, pergaulan bebas serta kecanduan judi online dan narkoba juga makin meluas. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih bunuh diri. Sungguh, ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Jika kita serius ingin mengatasi darurat kesehatan mental masyarakat hari ini, tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan konseling atau terapi medis. Perlu perubahan mendasar pada sistem yang menjadi fondasi kehidupan kita hari ini. 

Selama nilai-nilai kehidupan sekuler, kapitalistik, individualistik, dan materialistik masih terus menjadi paradigma, krisis demi krisis akan terus bermunculan. 

Sudah waktunya mempertimbangkan sistem yang lebih manusiawi, adil, dan bermakna, yang mampu membentuk generasi kuat, sehat, dan tangguh. Kekerasan perempuan khususnya psikis mendera perempuan karena jauh dari Islam. Islam menyelematkan perempuan dari kekerasan.

Islam Solusi Tuntas

Islam sebagai sistem kehidupan yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Sempurna, menawarkan solusi mendasar bagi berbagai problematik kehidupan, termasuk masalah kesehatan mental. Dalam pandangan Islam, setiap manusia wajib diberi pemahaman sejak dini bahwa tujuan penciptaannya adalah menjadi hamba Allah dan menjalani hidup dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Kerangka berpikir ini membentuk cara pandang yang utuh terhadap kehidupan. Seorang muslim diajarkan untuk tidak menjadikan dunia dan pencapaian materi sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk meraih rida Allah. 

Ketika menghadapi kegagalan, kehilangan, atau musibah, mereka tidak larut dalam kesedihan, karena telah ditanamkan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang Allah dan peluang untuk meraih pahala. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS Al-Baqarah ayat 155—157, 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam sistem Islam, negara adalah raa’in (pengurus) bagi urusan rakyat. Negara bertanggung jawab membentuk kepribadian Islam melalui sistem pendidikan yang integral. Sistem ini tidak hanya membentuk individu yang bertakwa secara personal, tetapi juga mendorong mereka menjadi anggota masyarakat yang peduli dan saling menguatkan. 

Interaksi sosial dibangun atas dasar keimanan dan prinsip tolong-menolong dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 2).

Sistem Islam berperan membentuk masyarakat berkepribadian Islam, yaitu yang berpola pikir dan berpola sikap sesuai ajaran Islam. Sistem Islam juga menyiapkan masyarakat yang menjalankan peran sebagai penerus peradaban mulia. 

Negara akang membekali seseorang untuk siap menjadi suami istri, juga calon ayah dan ibu yang mampu memikul tanggung jawab dengan baik. Negara turut menjamin perlindungan bagi institusi keluarga serta memastikan suatu keluarga menjadi benteng yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, berkah, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi.

Negara juga wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam mengelola kekayaan alam secara amanah dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya segelintir orang. 

Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, tekanan hidup yang kerap menjadi pemicu stres dan kecemasan dapat diminimalkan. Para ibu pun dapat optimal menjalankan peran utamanya sebagai pengasuh dan pendidik generasi, tanpa dibebani tanggung jawab mencari nafkah.

Pada saat yang sama, negara berperan sebagai junnah (pelindung). Negara bertanggung jawab menjaga ketahanan moral dan mental masyarakat. Media dikontrol agar tidak merusak akhlak atau mendorong gaya hidup permisif. Jika terjadi pelanggaran, sistem sanksi ditegakkan secara adil dan tegas demi menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Dalam suasana seperti ini, yakni keberadaan individu yang bertakwa, kontrol sosial berjalan baik, serta sistem yang mendukung pendidikan nilai, pemenuhan kebutuhan, dan perlindungan akhlak, generasi akan tumbuh dengan karakter tangguh. 

Mereka siap menjalani peran sebagai suami istri yang sinergis, hingga orang tua yang bertanggung jawab. Inilah masyarakat yang lahir dari sistem yang sahih. Islam sebagai sistem hidup yang sempurna memberikan solusi menyeluruh. 

Ketika diterapkan secara kafah, sistem Islam mampu melahirkan individu berkepribadian kokoh dengan akidah sebagai fondasi kehidupan. Islam juga menjamin kebutuhan hidup serta menciptakan lingkungan yang sehat secara spiritual dan sosial. Inilah jalan satu-satunya kehidupan yang menjaga kemuliaan perempuan yaitu Islam. Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR