Huntara Becek, Janji Pemerintah Ambles


author photo

23 Feb 2026 - 14.28 WIB


Lhokseumawe — Harapan korban banjir untuk memulai hidup baru kembali diuji. Setelah berminggu-minggu bertahan di tenda pengungsian, warga Desa Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, akhirnya dipindahkan ke Hunian Sementara (Huntara) yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Lhokseumawe menjelang Ramadhan. Senin (23/2/2026).

Seremoni berlangsung khidmat. Janji-janji pemulihan digemakan. Pemerintah seolah hadir membawa solusi.

Namun realitas di lapangan berkata lain.
Di depan Huntara, tanah berubah menjadi kubangan becek. Lumpur menganga tepat di akses masuk tempat tinggal yang disebut-sebut sebagai “hunian layak” bagi korban bencana.
 
Setiap langkah warga adalah perjuangan menghindari genangan dan licinnya tanah. Anak-anak, lansia, hingga ibu-ibu harus melintasi jalur yang jauh dari kata aman dan manusiawi.

Pertanyaannya sederhana layakkah fasilitas seperti ini disebut sebagai bentuk kepedulian?

Hunian sementara seharusnya menjadi simbol pemulihan martabat korban, bukan sekadar proyek cepat saji yang selesai di atas kertas. 

Ketika infrastruktur dasar seperti akses jalan saja terabaikan, publik berhak curiga apakah ini benar-benar solusi, atau sekadar formalitas jelang momentum tertentu?

Korban banjir tidak membutuhkan panggung dan seremoni. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang benar-benar layak, aman, dan manusiawi.

Jika Huntara berdiri di atas tanah yang tak siap, maka yang ikut tenggelam bukan hanya sepatu warga tetapi juga komitmen pemerintah itu sendiri.(A1)
Bagikan:
KOMENTAR