Penulis: Rafika HM (Akademisi dan Aktivis Muslimah)
Mengutip dari presisi.co (4/2), Public Affairs Kedutaan Besar Amerika Serikat, John Slover berkesempatan mengunjungi sejumlah sekolah menengah atas (SMA) di Kota Samarinda. Ia mengaku terkesan dengan kualitas siswa maupun sekolah yang ada. Meski baru sebatas eksplorasi ide, namun ia berharap kegiatan ini dapat berlanjut menjadi program nyata yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Samarinda.
Dilihat dari luar, program ini seolah merupakan kesempatan emas. Selain membuka akses pendidikan global dan jaringan internasional, ini diproyeksikan akan menjadi peluang karier yang lebih luas. Narasi semacam ini tentu terdengar menjanjikan, terutama bagi generasi muda yang tengah merancang masa depan akademiknya. Aktualisasinya bisa beragam, misalnya pertukaran pelajar, summer school, beasiswa kuliah, dan lain sebagainya.
Namun di balik tawaran yang tampak akademis dan netral tersebut, penting untuk membaca realitas secara lebih kritis. Amerika Serikat bukan sekadar negara tujuan studi biasa, ia merupakan representasi kuat sistem kapitalisme global yang sarat nilai sekularisme dan liberalisme. Pendidikan di sana tidak dibangun dengan bebas nilai. Sebaliknya, justru dibangun di atas fondasi pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan menjadikan materi sebagai tolok ukur keberhasilan.
Ketika generasi muda—khususnya Muslim—terpikat untuk menimba ilmu dalam ekosistem yang demikian, pertanyaannya bukan sekadar “apa yang dipelajari”, tetapi juga “nilai apa yang diserap”. Sebab pendidikan hakikatnya bukan hanya transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values. Dalam konteks inilah, arah kompas hidup seseorang bisa bergeser. Standar benar dan salah, orientasi hidup, hingga visi peradaban rentan mengikuti arus dominan yang membentuk lingkungan akademiknya. Berangkat studi mungkin masih religius, pulang-pulang bisa jadi sekuler-liberal. Hanya sebagian kecil yang kuat bertahan.
Lebih jauh lagi, dukungan pendidikan lintas negara tidak bisa dilepaskan dari dimensi geopolitik. Pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa ekspansi pengaruh global kerap dilakukan melalui jalur lunak (soft power), termasuk pendidikan. Memberikan akses studi, beasiswa, dan pertukaran pelajar di tengah mahalnya biaya pendidikan bukan semata kunjungan ilmiah biasa, melainkan instrumen untuk membangun jejaring ideologis dan loyalitas intelektual. Lulusan yang terdidik dalam sistem tertentu berpotensi menjadi agen yang—disadari atau tidak—akan mereproduksi nilai dan paradigma yang ia serap.
Citra Amerika Serikat sebagai mercusuar pendidikan hari ini pun tidak terlepas dari konstruksi sistem kapitalisme global. Universitas-universitas elite diposisikan sebagai pusat inovasi dunia, sementara negara-negara lain ditempatkan sebagai konsumen ilmu dan teknologi. Dalam kerangka ini, dominasi ide akan tetap langgeng. Ketergantungan intelektual pada Barat menciptakan relasi yang timpang di mana umat menjadi pembebek, bukannya pioner peradaban. Karena itu, tawaran studi ke Barat jelas bukan perkara sederhana, malah berbahaya bagi umat.
Menuntut ilmu dalam perspektif Islam wajib bagi seluruh rakyat dan karenanya negara berkewajiban pula menjamin pemenuhannya. Hak dasar rakyat meliputi akses pendidikan formal mulai dasar hingga pendidikan tinggi. Ilmu pengetahuan bagaimanapun juga tidak selamanya bersifat netral. Karakteristik ilmu menjadi baik atau buruk bergantung pada orientasi dan sistem yang menaunginya. Ketika ilmu dilepaskan dari iman, ia mudah menjadi instrumen eksploitasi, komersialisasi, bahkan penjajahan modern.
Secara historis, Islam memiliki rekam jejak sebagai kiblat pendidikan dunia. Rasulullah ﷺ membangun generasi sahabat dengan fondasi akidah yang kokoh dan pemahaman syariah yang mendalam sebelum menugaskan mereka memimpin dunia. Para khalifah setelahnya melanjutkan pola sistem ini dengan menjadikan ilmu sebagai pilar peradaban. Kurikulum senantiasa bertumpu pada pembinaan akidah, penguasaan tsaqofah Islam, serta pengembangan ilmu kehidupan yang bermanfaat.
Pada masa Khilafah Umayyah dan Abbasiyah, institusi pendidikan berkembang pesat di bawah naungan sistem pemerintahan Islam. Negara bukan hanya menjamin keamanan dan stabilitas, tetapi juga memfasilitasi riset, penerjemahan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Keterbukaan terhadap perkembangan sains dan teknologi tetap berada dalam koridor seleksi ketat syar’i: yang selaras dengan akidah diambil, yang bertentangan ditolak. Hasilnya adalah sumber daya manusia yang unggul dunia dan akhirat—ilmuwan yang rendah hati, pemimpin yang adil, dan masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan komunal.
Di era Harun al-Rasyid dan Al-Ma'mun, berdiri pusat-pusat ilmu seperti Baitul Hikmah yang menjadi episentrum riset dunia. Para ilmuwan Muslim mengkaji matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat dengan landasan akidah yang kokoh. Negara mendukung penuh aktivitas ilmiah tanpa menjadikannya komoditas pasar. Ilmu diposisikan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban. Pendidikan dalam Islam tidak semata mencetak profesional, tetapi membentuk insan yang bersyakhsiyah islamiyah—kepribadian yang terikat pada akidah dan syariat.
Islam tidak anti ilmu, tidak pula menutup diri dari interaksi global. Namun Islam menempatkan akidah sebagai filter pertama dan syariat sebagai panduan. Inilah perbedaan mendasar antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler. Pendidikan Islam bertujuan membangun kesadaran bahwa ilmu adalah amanah dan sarana ibadah, bukan alat dominasi apalagi penjajahan.
Sudah saatnya umat menggantungkan harapan pada syariat Allah dalam membangun sistem pendidikan yang unggul secara totalitas. Mari kita awali dengan menjadi umat yang kritis dan ideologis memandang setiap permasalahan yang ada. Setiap tawaran program yang menggiurkan harus ditimbang dengan kacamata akidah.
Kegemilangan pendidikan Islam bukan utopia. Ia pernah nyata dalam naungan khilafah dan dapat kembali terwujud ketika umat menjadikan Islam sebagai fondasi sistem, bukan sekadar identitas. Mercusuar itu pernah menyinari dunia—dan ia akan kembali bersinar ketika umat berani menyalakan kembali cahayanya dari dalam.