MEUREUDU – Aula Pendopo Bupati Pidie Jaya mendadak hangat pada Jumat malam (22/05/2026). Di bawah sorotan lampu dan aroma hidangan makan malam, Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, mengumpulkan 35 insan media dalam sebuah acara bertajuk "Silaturahmi Perdana". Namun, di balik ramah tamah tersebut, terselip pesan krusial: Apakah ini awal dari transparansi sejati, atau sekadar upaya merangkul media agar "suara sumbang" sedikit mereda?
Kritik di Balik Meja Makan
Meski dibalut suasana santai, pertemuan ini menjadi panggung bagi para jurnalis untuk menumpahkan keluh kesah yang selama ini tersumbat di dinding-dinding birokrasi. Beberapa poin krusial yang mencuat antara lain:
• Akses Informasi yang 'Macet': Media menyoroti sulitnya menembus barikade informasi di beberapa SKPK (Satuan Kerja Perangkat Kabupaten).
• Aparatur yang Gagap Tupoksi: Adanya desakan agar aparatur pemerintah lebih paham tugas pokoknya dan tidak "buang badan" saat dimintai konfirmasi.
• Verifikasi Data: Pentingnya akurasi data pemerintah agar tidak terjadi simpang siur informasi di tengah masyarakat.
Bupati: "Pemerintah Tak Bisa Kerja Sendiri" (Tapi Butuh Dikontrol?)
Dalam arahannya, Bupati Sibral Malasyi mengakui bahwa pemerintah memiliki keterbatasan jangkauan. Ia menyebut media sebagai mitra strategis untuk mengawal isu-isu sensitif seperti pemulihan pascabencana banjir dan lumpur hingga kedisiplinan ASN yang sering kali menjadi rapor merah di mata publik.
"Kami membutuhkan dukungan, doa, kritik dan masukan yang membangun... Pemerintah membutuhkan kontrol agar pembangunan daerah mendapat perhatian lebih luas," ujar Bupati Sibral.
Pernyataan ini seolah menjadi angin segar, namun sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah. Kritik yang "membangun" sering kali menjadi tameng birokrasi untuk menolak kritik yang "menyakitkan" namun faktual. Publik tentu menunggu apakah komitmen keterbukaan informasi ini akan mempermudah akses jurnalis ke dinas-dinas terkait, atau justru berakhir sebagai formalitas di atas meja makan.
PR Besar: Dari Anggaran Hingga Disiplin ASN
Bupati juga tak menampik adanya tantangan klasik: Keterbatasan Anggaran. Namun, ia berjanji akan tetap memaksimalkan program yang berpihak pada rakyat, termasuk perhatian pada pendidikan anak usia dini dan tata kelola pemerintahan yang lebih responsif.
Poin Penting Komitmen Pemkab:
Fokus Utama : Transparansi
Janji Pemerintah : Memperkuat keterbukaan informasi publik dan koordinasi lintas perangkat daerah.
Responsivitas : Mendorong aparatur agar lebih sigap memberikan informasi sesuai kewenangan.
Infrastruktur : Percepatan pemulihan pascabencana banjir dan lumpur.
SDM : Peningkatan disiplin ASN yang selama ini menjadi sorotan.
Catatan Penutup:
Menanti Bukti Nyata
Silaturahmi ini memang ditutup dengan harapan akan lahirnya pemberitaan yang akurat dan berimbang. Namun, keseimbangan berita hanya bisa tercipta jika sumber informasi di Pemkab Pidie Jaya tidak lagi "alergi" terhadap konfirmasi wartawan.
Jangan sampai jargon "Sinergi dan Kolaborasi" hanya menjadi kata manis untuk membungkam daya kritis pers. Masyarakat Pidie Jaya tidak butuh sekadar tontonan makan bersama, melainkan hasil nyata dari pembangunan yang diawasi secara ketat oleh media yang independen.
Akankah pintu-pintu dinas terbuka lebar setelah malam ini? Kita lihat saja.(Gg)