Oleh: Fina Siliyya, S.TPn.
Kenaikan harga kedelai impor kembali membuat para perajin tahu dan tempe di berbagai daerah kesulitan. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga kedelai naik dan biaya produksi semakin berat. Di saat yang sama, harga plastik kemasan juga ikut meningkat. Kondisi ini membuat usaha kecil semakin tertekan dan sulit bertahan.
Agar usaha tetap berjalan, banyak perajin memilih memperkecil ukuran tempe atau mengurangi jumlah produksi. Pilihan itu dilakukan karena mereka tidak ingin menaikkan harga terlalu tinggi dan kehilangan pembeli. Akibatnya, masyarakat tetap membeli dengan harga yang hampir sama, tetapi ukuran tempe yang didapat semakin kecil. Hal ini menjadi gambaran nyata tekanan ekonomi yang dirasakan rakyat kecil hari ini.
Kondisi tersebut menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi yang bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga bahan baku langsung naik dan usaha kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai juga menunjukkan lemahnya kemandirian pangan. Padahal tempe merupakan kebutuhan pangan yang dekat dengan masyarakat sehari-hari.
Dalam pandangan Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat dan menjaga agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Negara juga harus mendukung usaha kecil agar tetap bertahan dan tidak kalah oleh tekanan ekonomi. Karena itu, produksi pangan dalam negeri perlu diperkuat agar tidak terus bergantung pada impor dari luar.
Melalui sistem ekonomi Islam, negara bertanggung jawab mengelola sumber daya dan mendorong kemandirian pangan demi kepentingan rakyat. Dengan kebijakan yang berlandaskan syariat, kebutuhan masyarakat dapat terjaga dan usaha kecil lebih terlindungi. Dengan begitu, rakyat tidak terus dibebani gejolak harga, dan kebutuhan pangan tetap mudah dijangkau.