Dilema Pemberdayaan Perempuan: Antara Mandiri Finansial dan Kembalinya Fitrah Keluarga


author photo

2 Jul 2026 - 14.30 WIB



Oleh : Ferdina Kurniawati
Aktivis Dakwah Muslimah

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan mengambil Langkah nyata dalam memperkuat ekonomi keluarga melalui sector perempuan. Berkolaborasi dengan komisi IV DPRD Kota Balikpapan, instansi ini menggelar Kegiatan Pembinaan Kapasitas Perempuan melalui Pelatihan Kelas Buket dan Parcel.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 21 hingga 23 mei 2026 ini, didesain khusus sebagai wadah bagi para perempuan di Kota Balikpapan untuk meningkatkan keterampilan praktis yang bernilai ekonomi tinggi.
Pemilihan materi pelatihan berupa pembuatan buket dan parcel bukan tanpa alasan. Industri kreatif di bidang kado, hantaran, dan dekorasi saat ini sedang mengalami tren kenaikan yang pesat. Kebutuhan akan estetika dalam momen-momen special seperti wisuda, pernikahan, hari raya, hingga perayaan ulang tahun membuka ceruk pasar yang sangat luas.
Melalui kelas ini, para peserta diajak untuk menuangkan kreativitas dan mengasah kemampuan teknis mereka. Mulai dari pemilihan bahan, kombinasi warna, Teknik merangkai yang kokoh, hingga seni pembungkusan (wrapping) yang menarik perhatian konsumen.
Fokus utama dari kolaborasi antara DP3AKB dan komisi IV DPRD ini adalah kemandirian finansial. Keterampilan merangkai buket dan parcel dinilai sangat strategis karena memiliki modal awal yang relative terjangkau namun menawarkan margin keuntungan yang menjanjikan.
Keggiatan ini secara langsung mengedukasi para peserta bahwa keterampilan tangan yang tampak sederhana, jika ditekuni dengan standar kualitas yang baik, dapat bertransformasi menjadi peluang bisnis bernilai ekonomi tinggi.
Output jangka Panjang yang diharapkan dari pembinaan ini adalah lahirnya para pelaku usaha Mikro, Keci dan Menengah (UMKM) baru berbasis keluarga. Pelatihan ini memotivasi para perempuan hebat di Balikpapan agar tidak ragu memulai usaha mandiri dari rumah ( home based business).
Dengan menjalankan usaha ini dari rumah, para perempuan tetap dapat menjalankan peran domestic rumah tangga sekaligus menjadi pilar penguat ekonomi keluarga. Langkah awal yang diinisiasi melalui pelatihan tiga hari ini diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan kapasitas diri dan penumbuhan semangat berwirausaha yang berkelanjutan di Kota Balikpapan.

Paradigma Kapitalisme
Pandangan bahwa kemandirian perempuan selalu diukur dari kontribusi finansial tampaknya perlu ditinjau ulang secara mendasar. Saat ini, arus utama program pemberdayaan seolah menggiring opini bahwa perempuan baru dikatakan produktif dan berdaya jika mereka mampu menghasilkan uang atau membuka usaha. Paradigma ini secara tidak langsung mengaburkan peran yang jauh lebih strategis dan krusial, yaitu fungsi utama perempuan sebagai ibu, pendidik pertama anak,dan pengatur rumah tangga.
Ketika fokus peningkatan kapasitas ini melulu diarahkan pada sektor ekonomi, ada harga mahal yang harus dibayar. Waktu, energi, dan pikiran yang seharusnya dicurahkan untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas, berkarakter, dan siap membangun peradaban mulia, akhirnya terbagi atau tersita oleh tuntutan pasar.
Jika dibedah lebih dalam, desakan agar perempuan harus kreatif dan mandiri secar finansial sebenarnya merupakan respon defensif terhadap problem kesejahteraan yang sistemik. Sistem ekonomi kapitalis yang berjalan sast ini menciptakan jurang kemiskinan dan tingginya biaya hidup, sehingga memaksa semua ini termasuk para ibu untuk turun tangan mencari nafkah demi menyambung hidup keluarga.
Dalam konteks ini, berbagai program pembinaan ekonomi yang dibalut narasi “kesejahteraan perempuan” sering kali menjadi semacam obat penenang sesaat, bukan solusi tuntas. Alih-alih menyelesaikan akar masalah kemiskinan, formula ini justru menguntungkan roda kapitalisme dengan menyediakan tenaga kerja atau pelaku pasar baru. Dampak negatifnya justru Kembali pada internal keluarga fungsi pengasuhan anak menjadi longgar, suami kehilangan wibawa sebagai kepala keluarga, dan perempuan itu sendiri rentan mengalami beban ganda yang melelahkan.
Akar masalahnya bukan pada malas atau tidak kreatifnya perempuan, melainkan pada tata Kelola ekonomi yang timpang. Kesejahteraan yang hakiki harusnya bisa diraih oleh setiap keluarga tanpa harus mengorbankan peran krusial seorang ibu di dalam rumahnya.

Islam Menempatkan Perempuan pada Kedudukan Mulia
Narasi pemberdayaan perempuan sering kali menjebak perempuan dalam beban ganda yang melelahkan. Banyak perempuan terpaksa bertarung di sector public bukan untuk aktualisasi diri, melainkan karena tuntutan ekonomi demi bertahan hidup. Fenomena ini mengaburkan fungsi strategis mereka dalam keluarga.
Islam hadir dengan solusi sistematis yang menempatkan perempuan pada posisi mulia sebagai istri dan ibu (al ummu warabbatulbait). Guna menjaga fitrah tersebut islam membebaskan perempuan dari kewajiban mencari nafkah melalui jaminan berlapis, yaitu hak nafkah sepenuhnya berada di Pundak mahram (suami atau wali), dan jika mereka tidak mampu, negara wajib mengambil alih pemenuhan kebutuhan pokok melalui kas publik (Baitulmal). Dengan sistem ini, kebutuhan dasar perempuan memiliki kapasitas dan daya, ia diperbolehkan bekerja demi memanfaatkan keilmuan dan keahliannya bagi kemaslahatan umat. Namun, aktivitas ini wajib memenuhi koridor yang rigid. Perempuan hanya boleh mengisi industry yang sesuai fitrah kemanusiaan sepertisektor Pendidikan dan Kesehatan serta dilarang masuk ke industry yang mengeksploitasi fisik. Syarat lainnya adalah mengantongi izin suami/wali, tidak melalaikan urusan keluarga, serta menjaga batas pergaulandan aurat. Dalam hal ini negara bertindak sebagai pelindung mutlak dengan menyediakan lingkungan kerja yang aman, fasilitas publick ramah perempuan, dan sanksi tegas terhadap bentuk pelecehan.
Wallahualam bi shawab
Bagikan:
KOMENTAR