PEMAGAB Pasang Badan Tolak Tambang Emas di Tanoh Gayo: "Jangan Tukar Hutan Dengan Lubang Tambang"


author photo

2 Jul 2026 - 23.03 WIB



BIREUEN — Persatuan Mahasiswa Gayo Bireuen (PEMAGAB) secara terbuka menyatakan penolakan terhadap rencana eksploitasi tambang emas di wilayah Tanoh Gayo. Organisasi mahasiswa tersebut menilai aktivitas pertambangan berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, sumber mata pencaharian masyarakat, serta masa depan kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil Kopi Arabika Gayo. Kamis (02 Jul 2026).

Pernyataan sikap itu disampaikan Ketua Umum PEMAGAB, Mulya Fitrah, yang menegaskan bahwa Tanoh Gayo tidak boleh dijadikan wilayah eksploitasi sumber daya mineral dengan mengorbankan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

"Kami menolak rencana eksploitasi tambang emas di Tanoh Gayo karena kami meyakini bahwa kekayaan terbesar Gayo bukanlah emas yang berada di dalam perut bumi, melainkan hutan yang tetap hijau, air yang tetap mengalir, tanah yang tetap subur, serta masyarakat yang hidup dari hasil alam secara berkelanjutan," kata Mulya dalam keterangan resminya.

Menurut PEMAGAB, mencuatnya isu aktivitas pertambangan di wilayah Gayo telah memicu keresahan di tengah masyarakat. Organisasi tersebut menyebut berbagai informasi mengenai perkembangan aktivitas yang dikaitkan dengan PT Linge Mineral Resources (LMR) menjadi perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan maupun ruang hidup masyarakat di masa mendatang.

PEMAGAB berpandangan bahwa Tanoh Gayo memiliki fungsi ekologis yang strategis sebagai kawasan hutan, daerah tangkapan air, serta wilayah pertanian yang menjadi penyangga ekonomi masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi mengubah bentang alam kawasan dinilai harus dikaji secara cermat dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan.

"Kami tidak anti terhadap investasi maupun pembangunan. Namun kami menolak segala bentuk pembangunan yang berpotensi mengancam kelestarian lingkungan dan mengorbankan kepentingan masyarakat. Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, dan kesejahteraan rakyat," ujar Mulya.

Organisasi tersebut juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, hingga organisasi kepemudaan untuk mengawal kebijakan pengelolaan sumber daya alam di Tanoh Gayo agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

PEMAGAB menegaskan komitmennya untuk mengawal setiap kebijakan terkait pengelolaan sumber daya alam melalui jalur konstitusional, damai, dan berbasis kajian ilmiah.

"Tanoh Gayo bukan untuk tambang. Tanoh Gayo adalah warisan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Apa yang kita putuskan hari ini akan menentukan masa depan anak cucu kita kelak," tutup Mulya.(**)
Bagikan:
KOMENTAR