Resistensi Gen Z Melawan Depresi


author photo

3 Jul 2026 - 00.08 WIB




Oleh : Jihan Fadhilah S.T. (Pemerhati Kebijakan Publik)

Setiap generasi memiliki tantangan unik dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama, termasuk Islam. Gen Z tumbuh di era digital dengan akses informasi yang sangat luas, yang membawa dampak ganda. Di satu sisi memudahkan pembelajaran, di sisi lain memicu kebingungan akibat paparan konten yang beragam bahkan kontradiktif. 

Berbagai survey menyebutkan generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Berbagai faktor yang menyebabkan Gen Z mengalami gangguan mental, diantaranya 60% terdapat ketidakpastian terhadap karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global. Selanjutnya karena tekanan finansial 57%, serta ekspektasi sosial 42% sehingga ada perasaan tidak berdaya terhadap situasi dan kondisi yang berada di luar kendali 36% (data.goodstats, 08/04/2026).

Melihat data bahwa keuangan, lapangan kerja, dan karier menjadi tiga hulu utama kecemasan Gen Z, jelas ini bukanlah kegagalan personal, melainkan produk gagal sistemik dari peradaban sekuleristik-kapitalistik. Sistem kapitalisme hari ini memandang pemuda sebatas “mesin pencetak uang”. Nilai kemanusiaan mereka direduksi hanya seberapa produktif mereka menghasilkan materi bagi industri. Dari sinilah lahir budaya kerja paksa modern yang menguras fisik dan mental.

Dalam kondisi tertekan ini, negara kerap absen memberikan pengurusan (ri’ayah) yang nyata. Layanan kesehatan mental publik masih minim, tidak merata, dan sulit diakses. Di sisi lain, alih-alih dirangkul dan dibimbing, jeritan minta tolong Gen Z terkait kesehatan mental sering kali didepak oleh generasi tua dengan stigma sekadar “kurang ibadah”, “manja”, atau “lemah”. Gen Z dibiarkan bertarung sendiri di arena yang tidak adil. Di tengah abainya negara dan derasnya stigma negatif, muncul gelombang resistensi (perlawanan) dari anak-anak muda ini. Sebuah titik balik yang potensial membawa mereka bangkit dari depresi menuju perubahan hakiki.

Tanpa penanganan yang tepat, krisis mental ini akan menghambat masa depan dan visi Indonesia Emas. Agar gelombang resistensi Gen Z tidak berakhir sebagai riak kecil yang sesaat, gerakan ini membutuhkan jangkar yang kuat. Di sinilah mabda (ideologi) Islam hadir sebagai solusi fundamental atas krisis dunia hari ini, menawarkan tatanan yang membawa Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS. Ar-Ra’d: 11).

Dalam Islam, kemuliaan manusia diukur dari ketakwaannya, bukan materi atau isi dompet. Konsep ikhtiar maksimal yang dibarengi tawakal (berserah diri) adalah obat penawar terbaik bagi kecemasan masa depan. Rezeki telah diatur, sehingga pemuda tidak perlu depresi atau menghalalkan segala cara.

Islam melarang keras sistem riba dan spekulasi keuangan yang merupakan akar dari suburnya pinjol dan judi online yang merusak pemuda. Ekonomi Islam memastikan harta berputar merata (lewat zakat dan wakaf), membebaskan pemuda dari impitan ekonomi struktural.

Dalam Islam, politik adalah kepengurusan rakyat. Negara wajib menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas secara gratis atau terjangkau, layanan kesehatan (termasuk kesehatan jiwa), serta lapangan kerja yang luas tanpa mempersulit generasi muda.
Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Negara bertanggung jawab serta umat berperan dalam membentuk generasi pelopor generasi peradaban. 
Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR