Herliani S.Pd
(Pemerhati Kebijakan Publik dan Generasi)
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/(BKKBN) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), memperkuat aksi dalam program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), guna memupuk kepercayaan diri pada anak sehingga bisa tumbuh menjadi generasi yang berkualitas. Program GATI terus digencarkan untuk menekan fenomena fatherless atau anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, akibat sibuk bekerja maupun sebab lain ujar kepala perwakilan kemendukbangga/BKKBN Kaltim, Sunarto di Samarinda, Jumat.
Berbagai aksi diperkuat dengan menggandeng instansi dan pihak terkait, baik di tingkat provinsi hingga kabupaten kota, seperti pendampingan dan penguatan kapasitas, memperkuat peran tim pendamping keluarga yang berasal dari unsur, bidan, kader KB dan PKK. Kemudian memperkuat jejaring melalui kombinasi program GATI dengan program Gerakan Ayah Asuh Cegah Stunting (Genting) dan lainnya yang melibatkan dunia usaha, kampanye dan menanamkan tentang pentingnya kasih sayang ayah. Ia menyebut dalam berbagai gerakan ini, Kemendukbangga/BKKBN Kaltim berperan sebagai fasilitator, pendamping, penghubung dan penggerak agar GATI berjalan efektif, terukur dan berkelanjutan.
melalui beberapa aksi yang rutin dilakukan, ia optimis target ayah maupun calon ayah yang terpapar GATI di Provinsi Kalimantan pada tahun 2026 yang sebanyak 15.959 orang bakal tercapai. Keyakinan ini setidaknya dapat dilihat dari bukti capaian dalam 5 bulan pertama tahun ini, yakni sejak Januari hingga Mei, sudah tercatat 8.171 orang atau sebanyak 51,2% berasal dari 10 kabupaten/kota. Rinciannya Kabupaten Paser mendapat target rekrut 1.286 orang tercapai 529 orang atau 41,14%. Kemudian Kutai Kartanegara target 3.100 orang dengan capaian 1.407 orang atau 48,20%, lalu Berau ditarget mengait 1.265 orang dengan capaian 1.082 orang atau 85,53% dan Kutai Barat dengan target 758 orang dengan capaian 620 orang atau 81,79%, sementara Kutai Timur pasang target 1.490 orang dengan capaian 679 orang atau 45,57% dan penajam Pasir Utara pasang target 843 orang dengan capaian 531 orang atau 62,99%. Mahakam Ulu pasang target 120 orang dengan capaian 14 orang atau 27,5% dan kota Balikpapan pasang target 3.226 orang dengan capaian 1.731 orang atau 43,96%. Kota Samarinda ditargetkan menggait 3.103 orang dengan capaian 1.731 orang atau 55,78% dan kota Bontang memiliki target 768 orang dengan capaian 51 orang atau baru 6,64% kata Sunarto. (AntaraKALTIM, jumat 19 Juni 2026)
Setiap generasi menghadapi tantangan sesuai dengan dinamika zaman mereka, generasi muda masa kini dihadapkan pada tantangan multidimensi, akibat percepatan digitalisasi dan ketidakpastian global. Kondisi demikian kemudian melahirkan hal baru di antaranya, maraknya problem yang terkait dengan kesehatan mental generasi, persaingan di dunia kerja, hingga ketergantungan teknologi dan banyak lagi masalah lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari skala individu hingga negara, salah satunya lahirlah program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sebagai respon terhadap banyaknya anak yang tumbuh dengan karakter yang buruk. Hanya saja jika ditelaah lebih jauh program ini tidak menyentuh pada akar persoalan generasi.
Bukan sebuah rahasia bahwasanya berbagi masalah dan tantangan generasi kita hari ini, tidak benar-benar tuntas diselesaikan. Ini merupakan wajah asli dari sistem hidup kapitalisme sekuler, kegagalan demi kegagalan yang ada, tidak serta merta dikoreksi, kemudian sistemnya ditinggalkan, tetapi justru semakin kuat mencengkram tiang kehidupan yang diterapkan di negeri ini. Bahkan berbagai problem hidup generasi yang coba selesaikan oleh negara, justru mengantarkan mereka pada gerbang-gerbang kehancuran, mereka seringkali terperosok makin dalam ke kubangan sistem kufur ini.
Fatalnya, pemangku kebijakan baru mengambil langkah ketika masalah sudah besar di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana fenomena fatherless yang kian marak, dampaknya banyak anak-anak yang tumbuh dengan karakter yang rusak dan merusak, dikarenakan waktu ayah yang habis di tempat kerja atau aktivitas lain, dan tidak mampu untuk membersamai pendidikan dan tumbuh kembang anak di rumah. Kondisi demikian bukanlah perkara yang disengaja oleh sebagian besar ayah melainkan ini adalah tuntutan sistem hari ini yang tidak dapat dielakkan.
Fenomena fatherless dalam keluarga ini memasuki fase darurat khususnya di Indonesia, seperti data berikut menunjukkan 25,8% anak Indonesia tumbuh dalam kondisi fatherless, artinya satu dari empat anak kehilangan peran ayah secara fisik maupun emosional baik akibat perceraian, perantauan maupun minimnya bonding. Survei terbaru dari BKKBN skala nasional sekitar 15,9 juta anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran figur ayah aktif. Dan berdasarkan laporan Global fatherhood indeks, Indonesia pernah dicatat sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless tertinggi yaitu di peringkat ketiga dunia, yang faktor utamanya, meliputi perceraian, ayah bekerja di luar kota atau Merantau, jam kerja berlebih, budaya patriarki dan broken home. Ternyata dampak yang diperoleh dari kekurangan figur ayah sangatlah krusial, disebutkan, bagi perkembangan anak dampak emosional dan psikologis yang sering muncul, meliputi gangguan pembentukan karakter, regulasi emosi dan kecerdasan sosial, selanjutnya menurunkan tingkat kepercayaan diri dan harga diri pada anak, yang ketiga kesulitan dalam membangun relasi yang aman saat dewasa karena anak terbiasa berjuang sendiri alih-alih bersandar pada sosok orang tua.
Sistem kapitalis-sekular yang diterapkan hari ini menunjukkan keberhasilannya, mengubah mindset seorang ayah yang seharusnya memimpin, mendidik dan melindungi keluarganya, bergeser ke pemahaman, bahwa tugas dan kewajiban seorang ayah hanya sekedar untuk mencari nafkah, untuk kebutuhan hidup rumah tangga. Bahkan yang lebih miris ketika tanggung jawab ayah, dibagi bahkan diserahkan kepada ibu, yang membuat ibu pun pada akhirnya lebih banyak di luar rumah ketimbang membersamai anaknya. pemahaman orang tua menjadi cacat dan bahkan beberapa peran dikaburkan oleh sistem yang tegak hari ini. Jika kita menengok ke belakang, kondisi banyak ayah hari ini tidak terlepas dari didikan sistem yang memang sudah lama bercokol di negara ini. Mereka yang hari ini adalah juga merupakan korban di masa sebelumnya. Ini menjadi acuan kita, bahwasanya untuk membentuk generasi yang berkarakter dan tangguh membutuhkan suporting sistem yang kuat dan berkualitas, tidak hanya sepenggal waktu melainkan sepanjang hidup anak, termasuk membentuk juga karakteristik ayah yang berkualitas untuk kemudian menjadi pemimpin, pendidik dan pelindung bagi keluarganya. Fenomena fatherless yang kian marak bukan hanya masalah individu, tetapi ini sudah masuk pada persoalan yang struktural, sistem kehidupan berbasis kapitalistik sekuler tak hanya membuat fatherless tetapi juga motherless. Sistem telah mengubah keluarga menjadi unit pertama yang merusak karakter seorang anak.
*Islam membentuk karakter yang tangguh*
Islam memandang permasalahan generasi merupakan persoalan yang sangat penting, islam yang juga merupakan sebuah mabda atau pandangan hidup, akan berperan penuh dalam rangka melejitkan peran para ayah, sistem islam senantiasa terdepan dalam membangun ketahanan keluarga dengan strategi utama, melanjutkan peran ayah serta menjaga peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Di samping itu negara islam (khilafah) akan menguatkan peran ibu selaku sahabat dan mitra ayah dalam mendidik generasi dan mengatur keluarga. Hakikatnya sebuah keluarga dikatakan mempunyai ketahanan tak kalah seorang ayah yang merupakan kepala keluarga maupun memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Kebutuhan disini mencakup naluri, fisik dan akal. terpenuhinya seluruh kebutuhan tersebut membawa pada suasana hidup keluarga yang harmonis, tentang dan tentram. Kita sama-sama sepakat bahwasanya di tangan para ibu lah terletak kunci ketahanan keluarga, namun di tangan para ayalah terletak pintu gerbang menuju tercapainya ketahanan tersebut. Dalam sekian abad tegaknya sistem islam di muka bumi, dari keluargalah lahir tokoh-tokoh besar islam, menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua ayah dan ibu namun juga disertai dengan suporting sistem, termasuk peran masyarakat dan negara dengan segala kebijakannya dalam berbagai bidang, penerapan islam kaffah meniscayakan terbentuknya generasi pelopor perubahan penerus risalah.
Wallahualam bissawab