BANDA ACEH — Sebanyak 15 siswa SMA Kartika XIV-I Unggul Berbasis Talenta digembleng menjadi kader kesehatan remaja melalui pelatihan TaKasi-SeRa (Taman Edukasi Kesehatan Remaja) yang digelar pada 5–6 Agustus 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan remaja dalam membangun budaya sekolah sehat. TaKasi-SeRa merupakan program unggulan Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) yang menempatkan remaja bukan sekadar sebagai penerima edukasi, tetapi sebagai agen perubahan dalam isu kesehatan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Pelatihan diselenggarakan Pengurus TaKasi-SeRa SMA Kartika XIV-I berkolaborasi dengan GEN-A dan LKC Dompet Dhuafa Aceh, sekaligus mendukung penguatan Gerakan Sekolah Sehat (GSS).
Sebanyak 15 siswa kelas X mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 10 laki-laki dan lima perempuan. Selama dua hari, mereka mendapat pembekalan mengenai peran edukator dan konselor sebaya, kesehatan mental remaja, teknik konseling KAP-GATHER, Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), pemenuhan kebutuhan air dan pemahaman informasi nilai gizi, teknik edukasi partisipatif, hingga manajemen organisasi dan penyusunan rencana aksi.
Materi tidak hanya disampaikan melalui metode ceramah. Peserta juga diajak mengikuti permainan edukatif, membuat puisi, storytelling, hingga simulasi konseling dengan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti bullying, kehilangan anggota keluarga, dan tekanan teman sebaya.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membentuk kemampuan komunikasi, empati, keberanian berbicara di depan publik, serta keterampilan memberikan dukungan awal kepada teman sebaya.
Urgensi penguatan kader kesehatan remaja dinilai semakin besar. Data kesehatan di Aceh mencatat sekitar 32 persen remaja usia 15–24 tahun mengalami anemia pada 2023, sementara hanya sekitar 45 persen yang rutin mengonsumsi tablet tambah darah.
Persoalan lain juga muncul pada aspek perlindungan anak dan perempuan. DPPPA Aceh mencatat 1.227 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, terdiri atas 656 kasus yang menimpa anak dan 571 kasus terhadap perempuan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi kesehatan, kemampuan perlindungan diri, serta dukungan sebaya menjadi kebutuhan penting di kalangan remaja.
Salah seorang peserta, Rasya Rino Pratama, mengaku mendapat banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.
«“Seru banget materi kemarin. Kami jadi lebih tahu banyak hal, dari kesehatan, lingkungan, dan menjadi public speaker. Sering-sering datang ya kakak-kakak GEN-A,” ujar Rasya.»
Trainer Farah Novilianti Irawan, S.Ked., yang membawakan materi P3LP, juga mengaku terkejut melihat antusiasme peserta.
“Awalnya saya kira topik ini tidak terlalu menarik bagi anak SMA, namun ternyata mereka sangat tertarik dan antusias,” kata Farah.
Menurut Farah, keberanian peserta untuk mencoba hal baru menjadi salah satu hal paling berkesan selama pelatihan.
“Mereka tidak takut untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal-hal baru, dan berani mengambil kesempatan untuk belajar dari pengalaman,” ujarnya.
Pelatihan tersebut kemudian ditutup dengan pelantikan seluruh peserta sebagai kader TaKasi-SeRa. Mereka menjadi angkatan kedua program tersebut di SMA Kartika XIV-I.
TaKasi-SeRa sebelumnya telah melahirkan angkatan pertama yang mendapatkan pembekalan dari GEN-A melalui program Good Game Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) pada Desember 2025.
Ketua TaKasi-SeRa SMA Kartika XIV-I, T.R. Raidul A.M., mengatakan organisasi tersebut telah menjalankan sejumlah kegiatan edukasi sejak dibentuk.
“Sejak dibentuk Desember lalu, kami sudah melakukan beberapa kegiatan edukasi, seperti sosialisasi di SMP Kartika, edukasi kesehatan pada kegiatan MPLS, serta edukasi kesehatan kepada seluruh masyarakat SMA Kartika sebanyak empat kali. Kami berharap TaKasi-SeRa bisa terus berkembang dan semakin banyak memberikan manfaat,” kata Raidul.
Wakil Direktur Pengembangan Internal GEN-A, Mina Shafira, mengapresiasi langkah SMA Kartika XIV-I yang melanjutkan program TaKasi-SeRa secara mandiri sekaligus mengembangkannya menjadi organisasi intra sekolah.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki atau sense of ownership terhadap program sekaligus menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan kaderisasi kesehatan remaja di lingkungan sekolah.
Setelah dilantik, para kader akan menjalankan sejumlah rencana aksi, termasuk edukasi kesehatan di SMA Kartika XIV-I, sekolah lain, hingga panti asuhan.
Pengembangan TaKasi-SeRa sebagai organisasi intra sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Para siswa didorong menjadi pelaku aktif dalam membangun budaya sekolah yang sehat serta ikut menjawab berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi remaja.
Kolaborasi SMA Kartika XIV-I, GEN-A, dan LKC Dompet Dhuafa Aceh diharapkan dapat memperluas ruang bagi remaja untuk belajar, berpraktik, dan mengambil peran nyata dalam mengedukasi lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang bagi lahirnya kader muda yang mampu berbicara, mendengar, dan bergerak menghadapi persoalan kesehatan remaja.(**)