‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Ekonomi Rungkad, Stunting Kembali Meningkat


author photo

11 Agu 2026 - 10.42 WIB



Oleh Ana Fitriani

              Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud turut menanggapi angka stunting di Balikpapan. Dari peninjauan yang telah dilakukan, ditemukan adanya kenaikan angka stunting. Fenomena ini, kata dia, disinyalir tak lepas dari meningkatnya angka penduduk yang datang dari luar daerah. Keluarga yang telah berpindah dan menetap, kemudian sang ibu bersalin di sini sehingga terdata sebagai warga kota.Terkait ini pun, lanjut dia, pihaknya terus melakukan koordinasi intens dengan dinas terkait. Seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), serta Dinas Kesehatan (DKK) Balikpapan. Selain itu, Nurlena juga mengaku turun ke lapangan langsung untuk melihat bagaimana pola asuh yang diterapkan keluarga. Dia menyebut soal kesadaran para orangtua untuk memberikan makanan dengan nutrisi yang lengkap bagi sang anak. Di mana saat ini cukup banyak orangtua yang abai akan hal itu. (kaltimpost, 30 Juli 2026)
               Benarkah peningkatan stunting ini semata mata karena faktor eksternal seperti pendatang dari luar daerah, dan kurangnya kesadaran orang tua dalam memberikan makanan dengan nutrisi lengkap. Padahal sudah menjadi hal yang kita ketahui bersama bahwa stunting menjadi profil kondisi ekonomi suatu wilayah. Akui saja, ada indikasi perekonomian masyarakat yang semakin melemah sehingga tidak mampu memenuhi makanan bergizi untuk keluarganya. Setiap orang tua pastinya ingin meja makannya tersedia makanan yang lengkap seperti nasi, sayuran, lauk pauk, hingga buah buahan dan susu, namun apa daya jika sang kepala keluarga hanya mampu membeli beras saja. jadi, edukasi tentang kesadaran akan makanan bernutrisi jika tidak didukung oleh kondisi ekonomi solid sama seperti memberikan air ke bejana yang bocor.
           Lagipula, pencegahan stunting dimulai dari 1000 hari kehidupan, saat janin masih dalam kandungan Ibunya. Maka perbaikan gizi dimulai dari sebelum sang ibu mengandung, jika selama kehamilan saja pemenuhan makanan bergizi sudah sulit dan pelayanan kesehatan juga terbatas hingga tak bisa diakses karena faktor ekonomi, faktor wilayah, atau faktor pengurusan BPJS yang terkendala kartu kependudukan, maka ketika edukasi dan perbaikan gizi baru dilakukan saat anak sudah lahir, usia balita, atau usia sekolah, rasanya tidak tepat dalam menanggulangi permasalahan stunting. terlebih lagi, banyak pihak yang mengatakan stunting juga bisa dikurangi melalu program MBG disekolah. 
            Sementara itu, di daerah Sanggau, Kalimantan Barat ditempat dimana MBG dijalankan selama satu tahun. Data Dinkes Sanggau mencatat angka stunting pada 2024 berada di level 21,48 persen. Angka tersebut sempat turun menjadi 20,50 persen pada 2025. Namun pada triwulan I 2026, prevalensi stunting kembali naik menjadi 21,82 persen atau meningkat 1,32 persen dibanding tahun sebelumnya. (Detik kalimantan, 09 Juni 2026)
         Keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih rentan dan berisiko mengalami stunting. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan pemenuhan gizi dan nutrisi seimbang bagi ibu dan bayi dengan harga terjangkau, akses dan layanan kesehatan, serta sanitasi yang layak dan air bersih. Seharusnya pemerintah mengutamakan kebijakan untuk meminimalkan atau menghilangkan kemiskinan bukan hanya mengutak atik standar angka kemiskinan. Namun, masalahnya sistem ekonomi kapitalisme ini justru meniscayakan kemiskinan terjadi karena negara lalai menjalankan fungsinya sebagai Ra’in (Pengurus rakyat).

         Sistem demokrasi kapitalisme yang menyebabkan kemiskinan menjadi tersistematis dan makin menjulang, pendapatan masyarakat rendah, lapangan kerja sempit dan tingginya kenaikan harga pangan bergizi bagi keluarga. Alhasil, kondisi ekonomi yang serba sulit mendorong peningkatan stunting dan gizi buruk. Oleh karena itu tidak bisa berharap pada program yang sifatnya berupa edukasi dan menambah pengetahuan saja. Sedangkan support sistemnya tidak mendukung, faktanya banyak keluarga atau calon orang tua atau ibu hamil sebenarnya mengerti apa saja makanan bergizi namun kondisi keuangan membatasi atau bahkan membuatnya tidak mampu memenuhi pangan bergizi, bahkan pangan dasar yang layak saja sulit.
 Menyelesaikan stunting haruslah dilakukan secara fundamental dan menyeluruh. Stunting tidak akan selesai tuntas dengan menyolusi masalah-masalah cabangnya saja. Misalnya pemberian tambahan makanan, susu gratis, atau makan siang gratis. Stunting ada karena ada masalah utama yang mendasarinya sehingga harus ditangani dengan mendasar juga. Sistem Islam yang pernah berdiri selama 14 abad lamanya, mencatat peradaban yang jauh dari kelaparan hingga stunting, hal ini karena Islam yang berisi seperangkat aturan untuk segala aspek kehidupan memiliki cara pencegahan dan solusi yang menyeluruh.

 Pertama, negara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Jika setiap kepala keluarga mudah mencari nafkah dengan kebijakan negara yang memberi kemudahan mendapat pekerjaan, para ayah tidak akan merasa waswas mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Tercukupinya nafkah memungkinkan bagi keluarga mendapat asupan gizi dan nutrisi yang cukup, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Mereka juga tidak akan kesulitan mengakses makanan bergizi yang harganya mahal, seperti sayuran dan buah-buahan. Bahkan, negara bisa menetapkan kebijakan harga pangan yang murah. 

          Kedua, negara menyediakan infrastruktur kesehatan yang memadai bagi seluruh warga. Tidak boleh ada pembatasan akses layanan kesehatan bagi siapa pun. Orang kaya maupun miskin berhak terjamin akan kesehatannya, terutama ibu hamil dan balita. Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), akses dan layanan kesehatan diberikan secara gratis, baik dalam rangka pemeriksaan, rawat jalan, perawatan intensif, pemberian nutrisi tambahan, ataupun vaksinasi.       

    Ketiga, negara memberikan edukasi terkait gizi pada masyarakat. Edukasi ini dapat berjalan efektif manakala faktor yang menjadi sebab terbatasnya akses makanan bergizi, seperti kemiskinan dapat terselesaikan dengan dua peran negara yang telah disebutkan sebelumnya. 

           Keempat, negara melakukan pengawasan dan pengontrolan berkala agar kebijakan negara seperti layanan kesehatan, akses pekerjaan, stabilitas harga pangan, hingga sistem pendidikan, serta penggunaan anggaran dapat berjalan secara amanah. 

            Kelima, sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola oleh negara dan tidak boleh diserahkan kepada swasta. Sehingga hasilnya bisa digunakan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berupa sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

 Maka mencegah stunting dengan penanganan yang tepat dibutuhkan support sistem yaitu sistem Islam, yang akan membuat kekayaan negara berkolerasi dengan kesejahteraan rakyatnya. Selain itu dalam peradaban Islam memiliki ciri khas yaitu masyarakat Islam yang berbeda dengan peradaban lain.

 Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah radhiya-Llahu ‘anhu, bahwa Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa Sallama, bersabda: “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim}

Wallahu’alam bishowab
Bagikan:
KOMENTAR