(Pemerhati Kebijakan Publik dan Generasi)
Tanggal gajian tiba. Notifikasi transer ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja mudah langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai di bincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan. Namun bagi banyak gen z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh.
Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologi? self reward dan healing setelah kewajiban, ternyata notifikasi gaji yang masuk ke rekening setiap akhir bulan selalu menjadi momen yang ditunggu Bella warga jakarta (28). "menurut aku membayar sewa hunian itu menjadi salah satu kebutuhan primer dan itu yang memang harus aku bayar lebih dahulu ketimbang aku investasi ataupun nabungnya," kata bela kepada kompas.com. Setelah urusan sewa selesai barulah ia menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai tabungan dan dana darurat. Sedangkan investasi, menurut Bella, hingga kini belum menjadi pilihan karena ia merasa penghasilannya belum cukup. "to be honnest aku nggak investasi, aku cuma nabung doang. Karena itulah ya duitku nggak seberapa untuk bisa sampai berinvestasi. Jadi menurutku yang penting aku masih punya tabungan," ujarnya.
Meski begitu bukan berarti Bella sama sekali tidak menikmati kerja kerasnya, sesekali yang membeli pakaian, makanan yang diinginankan, atau kosmetik. Ia bahkan mengaku memiliki penyakit yang cukup sering membuatnya tergoda membeli lipstik. Namun kebiasaan itu bukan berarti ia membeli apa saja tanpa berpikir, Bella mengaku selalu berusaha memastikan apakah barang yang ingin dibeli benar-benar dibutuhkan atau hanya sekedar memuaskan keinginan sesaat. karena aku sadar diri gajiku nggak seberapa jadi bentuk self reward pun harus aku rem," katanya. Kesadaran itu bahkan pernah membuatnya membatalkan pembelian sepatu yang sebenarnya sudah lama diincar. Keinginan membeli sepatu akhirnya urung karena ia merasa pengeluaran bulan tersebut sudah terlalu besar. Menurut Bella hidup sesuai kemampuan jauh lebih penting, daripada memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain. Ia mengaku tidak terlalu terpengaruh media sosial ketika melihat teman atau influencer bepergian ke luar negeri atau membeli barang-barang mahal, Bella tidak merasa harus melakukan hal yang sama. Baginya bentuk self reward, tidak harus selalu merupa perjalanan mewah atau barang mahal. Membaca buku di rumah, mendengarkan musik, membeli pakaian kerja baru, atau menikmati makanan favorit sudah cukup membuatnya merasa dihargai setelah bekerja keras selama sebulan.
Bella memilih mengerem keinginan membeli barang agar tabungannya tetap aman, Bayu (27) memiliki cara berbeda menikmati hasil kerjanya. Setiap menerima gaji, Bayu langsung mengalokasikan pendapatannya untuk membayar kebutuhan primer. Mulai dari sewa rumah hingga tagihan listrik, setelah itu sebagian penghasilannya langsung dipindahkan ke tabungan. Namun Bayu tetap menyisihkan uang untuk berlangganan spotify, menonton bioskop atau mencoba tempat makan baru, yang ditemuinya di media sosial. Menurut Bayu pengeluaran tersebut bukan sekedar memanjakan diri, melainkan cara menikmati hasil kerja sekaligus menjaga kesehatan mental. Ia mengatakan alasan utama melakukan self reward adalah mengurangi stres setelah bekerja. Meski demikian bayu menegaskan, bahwa ia tetap memikirkan masa depan dengan terus menyisikan sebagian penghasilannya untuk tabungan," saya tetap berpikir jangka panjang dengan cara menabung, tetapi juga tetap harus menikmati hasil kerja saat itu juga.
Di tengah kebiasaan tersebut, Bayu mengaku tetap dihantui kecemasan mengenai masa depan. Harga rumah yang terus naik membuatnya merasa tujuan memiliki hunian sendiri semakin sulit dicapai. Kondisi ekonomi sekarang tentu membuat saya cemas, contoh yang paling konkrit mungkin soal harga rumah yang kian melonjak, tak sebanding dengan upah yang didapat," katanya. Karena itu baginya memiliki tabungan tetap penting setidaknya sebagai dana darurat yang memberikan rasa aman, secara psikologis. Bayu juga mengakui media sosial ikut mempengaruhi kebiasaan konsumsi generasinya. Konten mengenai tempat makan baru, barang-barang menarik, hingga berbagai rekomendasi aktivitas kerap membuatnya penasaran untuk mencoba. Algoritma konten semacam ini terkadang memberikan dorongan rasa penasaran bagi saya, untuk mencoba hal-hal baru atau membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu urgent (penting),"ujarnya. Namun Bayu tidak sepakat, jika kebiasaan self reward selalu dipandang sebagai perilaku boros, menurut dia selama seorang menyisihkan tabungan lebih dahulu, sebelum membeli sesuatu untuk diri sendiri, bukanlah persoalan. Justru permasalahan mendasarnya adalah soal upah yang tidak lagi kompetitif, dengan kebutuhan yang ada,"katanya.
Self reward tidak selalu berarti boros, senior clinical psychologist sekaligus Direktur Personal Growth Ratih Ibrahim menilai kebiasaan memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja sebenarnya merupakan sesuatu yang sehat. Menurut Ratih, self reward dapat meningkatkan motivasi, rasa kompeten, sekaligus kesejahteraan psikologi seseorang. Namun yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan polanya self reward yang sehat dilakukan secara sadar terencana dan sesuai kemampuan finansial. Seorang menikmati hasil jari payahnya tanpa mengorbankan kebutuhan pokok maupun tujuan keuangan jangka panjang," kata Ratih. Sebaliknya, ketika belanja dijadikan pelarian dari stress, kecemasan, kesepian, atau kelelahan emosional, kepuasan yang muncul biasanya hanya berlangsung sesaat. Setelah itu rasa senang akibat pelepasan dopamin di otak, akan berganti menjadi penyesala, kecemasan terhadap kondisi keuangan, hingga akhirnya seorang kembali berbelanja ketika tekanan emosioner datang lagi. "Jadi pembeda utamanya bukan pada apa yang dibeli, melainkan pada motivasi kesadaran, serta dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan psikologi dan finansial,"ujarnya. Ratih juga melihat media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat kebiasaan tersebut. Paparan terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, atau lebih mapan, membuat banyak anak muda terdorong membandingkan dirinya, dengan orang lain (Social comparison). akibatnya," kata Ratih, keputusan membeli suatu barang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan, agar merasa setara atau diterima oleh lingkungan.
Di sisi lain Ratih menilai, pesimisme terhadap masa depan juga berpengaruh terhadap cara gen z, mengelola uang. Harga rumah yang terus meningkat dan ketidakpastian ekonomi membuat sebagian anak muda, merasa target keuangan besar semakin sulit dicapai. Kondisi tersebut mendorong munculnya present bias yaitu kecenderungan lebih menghargai kesenangan yang bisa dirasakan saat ini, dibandingkan manfaat yang baru akan diperoleh bertahun-tahun kemudian. Namun dia mengatakan kondisi ini bukan semata-mata menunjukkan kurangnya disiplin finansial, sebaliknya hal tersebut merupakan respons psikologis, terhadap ketidakpastian yang dihadapi generasi muda saat ini. Karena itu, sebelum menilai gen z , sebagai generasi yang boros. Pentingnya melihat konteks yang mereka hadapi tekanan biaya hidup yang meningkat, harga rumah yang terus melambung, tuntutan kerja, hingga derasnya arus media sosial menjadi realitas yang membentuk cara mereka memaknai uang. Kita perlu paham bahwa ini bukan semata-mata persoalan kurangnya disiplin diri, perasaan pesimis terhadap masa depan, sangat bisa mempengaruhi cara otak bekerja dan mengambil keputusan sehingga penghargaan yang langsung dirasakan seperti self reward, menjadi lebih menarik dibanding manfaat yang masih jauh," tandasnya. Kompas.com/12/08/2026.
Setiap generasi memiliki tantangan tersendiri dalam kehidupannya, eksistensi sistem kapitalisme yang berasaskan pada pemisahan agama dengan kehidupan, setelah banyak menciptakan tekanan ekonomi, yang himpitannya mulai dirasakan juga oleh gen z. Sebut saja biaya hidup yang terus naik sementara di sisi lain gaji tidak mengalami peningkatan atau stagnan. Harga-harga kebutuhan pokok terus melambung begitupun biaya sewa rumah. Generasi benar-benar bertarung dengan kerusakan sistem, mulai dari sistem pendidikan yang gagal mencetak generasi tangguh dalam mengarungi bahtera kehidupan, hingga sistem ekonomi amburadul. Sebagai contoh, setelah mereka menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, tidak ada jaminan mereka akan mudah mendapatkan pekerjaan, setelah pun mendapatkan pekerjaan, gaji yang diberikan ternyata jauh dari kata cukup, yang pada akhirnya juga akan dipotong oleh berbagai pajak-pajak berlapis. Seakan-akan tidak ada celah untuk mendapatkan penghidupan yang layak, dari pengaturan kehidupan sistem kapitalisme saat ini. Anak muda kita, seakan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya. padahal mereka memiliki hak atas sumber daya yang saat ini diserahkan kepengurusannya kepada negara, namun negara berselingkuh dengan para kapital. Untuk mengeruk sumber daya milik masyarakat untuk mereka nikmati sendiri, negara tidak benar-benar memahami terkait posisinya sebagai pengurus masyarakat, label pemerintahan yang melekat pada mereka, hanya dijadikan tameng untuk terus memanfaatkan hak-hak milik masyarakat untuk dinikmati bersama komplotannya.
Di sisi lain tekanan ekonomi yang dirasakan juga diperparah dengan diterapkannya gaya hidup sekuler-liberal, yang menjadikan self reward, healing dan konsumsi hedonis sebagai " solusi atau pelarian bagi mereka yang penat bekerja. Belum lagi ditambah dengan andilnya, media sosial yang terus mencokoki, dan mengarahkan generasi dengan tren populer, seperti makanan, fashion, konser, liburan, pakaian, hingga wahana wisata baru, dan banyak lagi lainnya yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif, tanpa pertimbangan yang matang.
Dibalik itu semua ada krisis yang lebih dalam, yakni gen z tidak memahami tujuan hidupnya, dalam kehidupannya mereka seakan-akan hanya mengulangi rutinitas kemarin, ke hari ini. Mereka hanya berputar pada aktivitas yang begitu-begitu saja, bekerja kemudian menghabiskan gaji, bekerja lagi, healing lagi, dan self reward. Ada ruang yang kosong yang tidak mereka isi, ada prinsip paling utama yang tidak benar-benar mereka pahami terkait kehidupan dan tujuan hidup. pola pikir yang tidak terarah akhirnya hanya mengukur kebahagiaan hanya pada kenikmatan materi sesaat bukan pada ridho Allah dan kemulian islam. Keadaan ini merupakan salah satu produk gagal sistem pendidikan hari ini.
Sistem kehidupan yang dirancang dan pernah diterapkan selama kurang lebih 1400 tahun lamanya, harusnya bisa dijadikan rujukan dalam mengatur urusan masyarakat dan umat. Pada perkara ini negara dalam bingkai khilafah, akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat, melalui pengelolaan sumber daya alam dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, serta upah yang mumpuni. Sehingga rakyat termasuk di antaranya gen z tidak akan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup yang berat sebagaimana hari ini. Tidak hanya itu sistem ekonomi yang diterapkan dalam daulah islam bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat seluruhnya. Pemerintahan akan benar-benar meriah masyarakat, bukan justru mengambil keuntungan dari mereka, pada pengelolaan sumber daya alam yang diamanahkan. Sehingga masyarakat benar-benar mendapatkan hak-haknya sebagaimana mestinya. Diantaranya pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, hingga keamanan terjamin. Tidak ada lagi kecemasan masa depan yang akan dirasakan oleh generasi kita.
Selain itu, islam akan menutup gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten rusak, sebagaimana sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk menjadi edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat kepada tuhannya, hidup dalam ketaatan sesuai dengan petunjuk yang pernah dicontohkan oleh rasul. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala seperti dalam Qs adz-dzariyat ayat 56, ( "Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-KU), dengan akidah yang kokoh generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban islam.
Wallahu'alam Bissawab