‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Hanya Kurikulum Berbasis Akidah Islam Solusi Problem Generasi


author photo

25 Agu 2026 - 12.22 WIB




Oleh Dinnar Fitriani Susanti 
Aktivis Muslimah Balikpapan

Bertempat di Hotel Grand Tiga Mustika Balikpapan, sebanyak 35 guru MAN Balikpapan mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Selasa (14/04/2026). Kegiatan strategis yang melibatkan total 95 guru Madrasah Aliyah se-Balikpapan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan, H. Masrivani, S.Ag., M.H.

Hadir mendampingi dalam pembukaan, Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Balikpapan, Sinta Ningsih, S.E.I., M.Pd., jajaran Pengawas Madrasah, serta seluruh Kepala Madrasah Aliyah se-Kota Balikpapan.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Balikpapan, H. Masrivani, S.Ag., M.H., membuka secara resmi acara tersebut sekaligus memberikan apresiasi penuh kepada Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) atas terselenggaranya workshop inovatif ini. Beliau berharap melalui Kurikulum Berbasis Cinta, guru-guru di Balikpapan dapat membangun kedekatan emosional yang lebih baik dengan siswa demi terciptanya suasana belajar yang harmonis.

Paradigma Sekuler Masih Ada dalam Kurikulum Berbasis Cinta

Bagaimana Kurikulum ini dibangun, maka kurikulum ini ada atas lima pilar utama atau Panca Cinta: Cinta kepada Tuhan: Memperkuat hubungan spiritual dan kesadaran ilahi (hablum minallah). Cinta kepada Diri dan Sesama: Membangun kecerdasan sosial-emosional, empati, dan resolusi konflik damai tanpa kekerasan (hablum minannas).

Cinta kepada Ilmu Pengetahuan: Menumbuhkan kegigihan dan rasa ingin tahu yang bermakna dalam belajar. Cinta kepada Lingkungan: Menanamkan kesadaran ekologis dan tanggung jawab menjaga alam (hablum bi'ah). Cinta kepada Bangsa dan Negeri: Membentuk nasionalisme yang moderat dan inklusif (hubbul wathan).

Konsep cinta pada kurikulum ini masih mengandung paradigma sekuler. Ketika kurikulum ini belum terintegrasi dengan konsep kehidupan dan integrasi kepada sistem pendidikan.

Sistem pendidikan saat ini sebenarnya menghadapi tantangan yang bukan hanya sekedar kurikulum saja. Namun paradigma sistem sekuler yang memisahkan agama dari konsep aturan kehidupanlah yang menjadi pokok permasalahannya.

Jika kurikulum cinta ini dibuat dalam rangka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan perundungan generasi, maka hal ini belum menyentuh ke persoalan sistemik. Karena persoalan generasi saat ini tidak sebatas perundungan namun juga berupaya gaya hidup, fasilitas dan visi misi kehidupan yang lebih baik.

Sehingga jelas akan mengalami tantangan yang begitu rumit, jika ingin mewujudkan generasi yang berkonsep cinta. Karena sekulerisme mengukur kehidupan sebatas materi saja.

Sistem Pendidikan Islam Solusinya

Generasi adalah pelanjut kehidupan, dan generasi saat ini penentu masa depan apakah lebih baik atau tidak. Islam adalah agama yang berkonsep mewujudkan generasi terbaik, khoiru ummah. 

Allah telah berfirman dalam QS surat Ali Imran ayat 110. Dengan konsep ini, maka Islam dengan visi misi nya menjadi asas akidah yang kokoh, serta aturan-aturannya yang menjadikan generasi menjadi yang terbaik. 

Sistem pendidikan Islam dipandang sebagai kebutuhan komunal yang wajib dipenuhi oleh negara sebagai bentuk riayah (pengurusan) setiap warga negaranya. Negara di dalam Islam memastikan agar setiap individu umatnya mendapatkan pendidikan terbaik. 

Fasilitas dan kualitas yang merata di seluruh umat wajib dipastikan terpenuhi. Dan selain sistem pendidikan, pelaksanaan kebutuhan komunal lainnya juga harus terikat dengan berbasis akidah dan syariah Islam. 

Inilah Islam, sebagai ideologi (Mabda) untuk mengatur seluruh manusia dan kehidupan. Yang pasti akan menyelesaikan persoalan generasi saat ini. Sehingga kualitas generasi tidak terbatasi dengan pergantian kurikulum atau terbatasi pada tanggung jawab satu institusi saja. Namun tanggung jawab pelaksanaan kehidupan masa kini dan akan datang adalah sebuah kewajiban bagi individu, umat dan negara.
Bagikan:
KOMENTAR