‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Harga Material Melambung, Revitalisasi Sekolah Lhokseumawe Tetap Dikebut, Progres Disebut Capai 63 Persen


author photo

30 Agu 2026 - 19.41 WIB


LHOKSEUMAWE — Lonjakan harga sejumlah material bangunan, mulai dari semen, pasir, batu bata hingga besi, tidak menyurutkan langkah Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk mengejar target penyelesaian program revitalisasi sekolah. Min (30 Agu 2026).

Di tengah tekanan harga material yang terus bergerak naik, pekerjaan revitalisasi di sejumlah satuan pendidikan di Kota Lhokseumawe disebut masih berjalan. Pemerintah daerah menegaskan komitmennya agar pekerjaan dapat dituntaskan sesuai target yang telah direncanakan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Yuswardi, S.K.M., M.S.M., saat dikonfirmasi media ini mengatakan bahwa perkembangan pekerjaan revitalisasi sekolah sejauh ini menunjukkan progres positif.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, kemajuan pekerjaan diperkirakan telah mencapai sekitar 63 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan telah memasuki tahap signifikan menuju penyelesaian.

“Kita terus berusaha mencapai hasil yang maksimal. Pekerjaan terus kita buru meskipun di tengah kondisi harga material yang mengalami kenaikan,” ujar Yuswardi.

Menurutnya, kenaikan harga bahan bangunan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kualitas maupun target penyelesaian.

Pemerintah Kota Lhokseumawe, kata dia, terus mendorong agar pelaksanaan revitalisasi berjalan sesuai rencana dengan tetap memperhatikan mutu pekerjaan.

Percepatan pekerjaan tersebut menjadi penting mengingat revitalisasi sekolah tidak sekadar menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga berkaitan langsung dengan tersedianya lingkungan belajar yang aman, layak dan representatif bagi peserta didik.

Meski demikian, progres 63 persen tersebut tetap perlu dibuktikan melalui capaian fisik yang terukur serta kesesuaian antara pekerjaan di lapangan, spesifikasi teknis, anggaran, dan jadwal pelaksanaan.

Publik pun memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa percepatan pekerjaan tidak dilakukan dengan mengorbankan kualitas konstruksi. Sebab, bangunan sekolah merupakan fasilitas publik yang digunakan dalam jangka panjang dan menyangkut keselamatan serta kenyamanan peserta didik dan tenaga pendidik.

Dengan demikian, tantangan kenaikan harga material seharusnya tidak hanya dijawab dengan mengejar progres, tetapi juga dengan memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan secara transparan, akuntabel dan sesuai ketentuan.(A1)
Bagikan:
KOMENTAR