LGBT Perusak Generasi, Menolak LGBT Menyelamatkan Generasi


author photo

13 Agu 2026 - 08.08 WIB




Yuliana S.Sos (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Angka kasus Human Immunodeficiency Virus ( HIV) di Kota Samarinda menembus lebih dari 4.000 kasus hingga 2026. Kondisi itu mendorong DRPD Samarinda mendesak Pemerintah Kota mengambil langkah yang lebih tegas untuk menekan laju penyebaran penyakit tersebut. 

Ketua Pansus IV Raperda Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti mengatakan tingginya kasus HIV menjadi salah satu pertimbangan utama dalam percepatan pembahasan utama dalam percepatan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penanggulangan TB dan HIV/AIDS. Menurut dia, berdasarkan data yang diterima DPRD, dari lebih 4.000 sekitar 2.000 penderita telah menjalani pengobatan. 

Sementara sisanya masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi upaya pengendalian penularan. "Kami mendorong pemerintah kota agar LGBT tidak diberi ruang di Samarinda. Jangan sampai terjadi normalisasi yang menurut kami dapat berdampak buruk terhadap karakter generasi ke depan, "ujarnya.

Adanya HIV AIDS tembus 4.000 kasus dengan penyumbang tertinggi kaum boti alias LGBT. Hal ini berbahaya bagi generasi dan kehidupan masyarakat kedepan. Masyarakat tidak boleh mendiamkan apalagi menormalisasi kemungkaran ini. 

Namun, adanya dorongan Raperda Penanggulangan HIV AIDS, MUI, dan penolakan LGBT nyatanya tidak mampu memberantas tanpa negara sebagai peran utama. Ada dua kubu yaitu penolakan dan dukungan. Ini menggambarkan masyarakat terpecah. Kehidupan Kapitalisme Sekuler hari ini membuat beda dalam memaknai, menyikapi dan mensolusikannya. 

Atas nama HAM dan kebebasan, mereka masih diberi ruang. Meskipun sudah jelas memberikan penyimpangan bahkan menyebarankan penyakit. Maka, butuh penyelesaian sistemik untuk menghentikan LGBT, HIV AIDS. Sistem kehidupan yang memiliki pandangan jelas dalam melihat permasalahan umat hari ini, termasuklah salah satunya penyimpangan seksual, memiliki perlindungan berlapis untuk masyarakat dan sanksi yang tegas.

Jika, Islam menjadi dasar kehidupan. Maka, kehidupan manusia akan terarah. Setiap permasalahan hidup akan ada solusi tuntas. Negara dalam Islam mempunyai fungsi untuk mencegah dan memberikan solusi yang menyeluruh dalam kasus HIV AIDS pada generasi dan masyarakat secara umum. 

Dalam Islam, pergaulan akan diatur. Dimana interaksi antara lawan jenis tidak dibiarkan bebas, bahkan syariat mengatur pergaulan sesama wanita dan sesama lelaki. Begitupun dengan sistem pendidikan akan diterapkan pendidikan berbasis aqidah Islam sehingga terbentuk generasi yang memiliki karakter islam sebagai perwujudan dari agama Islam. Ditambah lagi sistem sanksi hukum yang saling support sehingga menjaga remaja jauh dari penyakit HIV AIDS dan fenomena LGBT. Serta tiga pilar yang semakin kuat dalam penjagaan baik individu, masyarakat dan aturan negara. 

Maka, sudah saat nya kita menyadari dan mendukung penuh generasi dalam mengkaji Islam, mengamalkan Islam dalam kehidupan dan menyiarkan Islam serta ikut memperjuangkan Islam agar kebangkitan Islam segera tegak. Sehingga permasalahan umat hari ini tergantikan dengan kesejahteraan.
Bagikan:
KOMENTAR