‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Maulid, Momentum Meneladi Perjuangan Rasul


author photo

26 Agu 2026 - 18.11 WIB



Oleh: Nur Hayati. S. Pd.I

12 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan 25 Agustus 2026, umat Islam kembali menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah momentum yang bukan sekadar hari libur, melainkan pengingat akan hadirnya sosok teladan sepanjang zaman. Meski sebagian orang tidak merayakannya dengan ritual khusus, hampir semua sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah panutan, rujukan hidup bagi siapa pun yang beriman kepada Allah SWT. Dandapala.com

Setiap tahun umat Islam merayakan Maulid dengan pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Ada juga sekedar membuat acara dengan tradisi pawai tumpeng, dan membuat telur di hari Maulid. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam banyak dari teladan yang dibawa oleh Rasul yang patut kita teladani, bukan hanya perkara akhlak saja, tapi bagaimana cara Rasul menjadi seorang pemimpin yang disegani yang menjadi contoh bagi umatnya. 

Apalagi di tengah krisisnya kepimpinan yang dirasakan umat saat ini, sudah sepatutnya kita mengambil teladan kepeimpinan Rasul Muhammad. Pembahasan ittiba' kepada Nabi Saw. pada momentum Maulid belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah, penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu, menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah.

Tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul dikalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah Saw. Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, cinta kepada Rasulullah Saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.

Terlebih, umat juga kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Itulah yang sering membuat umat menjadi lupa akan sebenarnya pesan yang dibawa oleh Rasul Muhammad.

Tak hanya itu, sistem kapitalisme kini masih tetap menjadi primadona bagi umat. Demi mempertahankan eksistensinya, akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. Kapitalisme dan para anteknya akan selalu berjuang menekan kebangkitan Islam, tapi mereka tidak bisa menghentikan kebangkitan Islam karena itu janji Allah sendiri.

Sudah sepatutnya dimomentum Maulid ini kita mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi Saw, bukan sekadar ritual. Sesuai dengan firman Allah dalam QS Ali Imran: 31
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah) sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah. Adapun metode perjuangan Rasulullah Saw, ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah): tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya : 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya:"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." Wallahu a'lam bisowab
Bagikan:
KOMENTAR