‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Maulid Nabi ﷺ: Di Mana Cahaya yang Diperjuangkan Rasulullah ﷺ?


author photo

25 Agu 2026 - 12.14 WIB




Oleh: Eva Herlina, S.T., M.T.

Kita semua mencintai Rasulullah ﷺ. Rasanya tidak ada seorang Muslim pun yang rela namanya direndahkan atau kisah perjuangannya dilupakan. Tetapi setiap kali Maulid tiba, kita kembali dihadapkan pada perbedaan. Ada yang mengatakan Maulid tidak perlu diperingati, ada yang memperingatinya dengan penuh suka cita, dengan shalawat, ceramah dan berbagai kegiatan, bahkan terkadang begitu meriah. Masing-masing tentu punya alasan. Namun di antara semua perdebatan itu, mungkin ada pertanyaan yang justru lebih penting untuk kita renungkan: sebenarnya, apa yang ingin kita tunjukkan melalui Maulid?

Apakah kita hanya ingin menunjukkan bahwa kita masih mengingat kelahiran Rasulullah ﷺ? Bahwa kita masih bershalawat dan masih menyebut nama beliau dengan penuh cinta? Tentu itu baik. Tetapi bukankah cinta kepada Rasulullah ﷺ seharusnya membawa kita lebih jauh? Allah berfirman, “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31). Jadi ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengingat. Ada keinginan untuk mengikuti. Ada kerinduan untuk hidup di atas jalan yang beliau tunjukkan.

Sebab kalau kita membaca kembali perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan bahwa perjuangan beliau bukanlah perjalanan yang ringan. Di Makkah beliau membina manusia dengan tauhid, menghadapi penghinaan, penolakan, pemboikotan, penyiksaan dan ancaman pembunuhan. Beliau kehilangan orang-orang yang dicintainya. Di Thaif, dakwahnya dibalas dengan lemparan batu. Tetapi beliau tidak berhenti. Setelah hijrah, perjuangan itu memasuki fase baru. Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat, memimpin umat dan menerapkan Islam dalam kehidupan. Beliau mengatur urusan rakyat, mengangkat pejabat dan hakim, mengelola zakat, menyelesaikan perselisihan, mengatur pertahanan dan hubungan dengan kelompok lain. Beliau tidak hanya mengajarkan Islam. Beliau membangun kehidupan berdasarkan Islam.

Karena itu, mungkin Maulid seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari perdebatan tentang bagaimana cara memperingatinya, lalu melihat Rasulullah ﷺ dengan lebih utuh. Kita tidak hanya mengenang hari kelahirannya, tetapi juga mengingat apa yang beliau perjuangkan sepanjang hidupnya. Kita tidak hanya menyebut beliau telah membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, tetapi berani bertanya kepada diri sendiri: setelah lebih dari empat belas abad, di manakah cahaya yang beliau perjuangkan itu dalam kehidupan kita hari ini?

Pertanyaan itu terasa semakin dalam ketika kita melihat keadaan umat. Kita masih shalat, masih berpuasa, masjid masih ramai, majelis masih berjalan, shalawat masih dilantunkan. Tetapi di sisi lain, zina, judi, narkoba dan pornografi semakin dekat dengan generasi. Keluarga semakin rapuh. Pendidikan kehilangan arah. Riba menjadi bagian dari kehidupan. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi amanah bagi rakyat diperebutkan oleh berbagai kepentingan. Hukum dibuat dan diubah oleh manusia, sementara hukum Allah yang semestinya menjadi pedoman kehidupan semakin tersisih. Umat pun terpecah dan sering kali tidak berdaya ketika saudaranya sendiri mengalami penderitaan.

Lalu kita bertanya: apakah Islam tidak memiliki jawaban?

Tidak.

Cahayanya tidak pernah padam. Al-Qur’an masih ada. Sunnah Rasulullah ﷺ masih ada. Syariat masih ada. Sejarah perjuangan beliau masih ada. Yang berubah adalah kehidupan kita yang semakin jauh dari cahaya itu.

Padahal Rasulullah ﷺ tidak datang hanya untuk mengajarkan shalat, puasa, zakat dan haji. Beliau membawa Islam sebagai risalah kehidupan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208). Islam memberikan pedoman bukan hanya dalam hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, masyarakat, ekonomi, pendidikan, hukum, keamanan, kepemimpinan hingga hubungan antarbangsa.

Allah telah memberikan petunjuk dalam berbagai persoalan kehidupan. Allah mengharamkan riba, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Allah mengingatkan agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Rasulullah ﷺ bersabda, “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Beliau juga bersabda, “Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semua ini menunjukkan bahwa Islam memiliki panduan bagi kehidupan manusia, bukan hanya untuk kesalehan pribadi, tetapi juga untuk mengatur urusan masyarakat.

Dalam hukum, persoalannya bukan hanya ketika hukum tebang pilih atau keadilan sulit dirasakan. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu ketika manusia mengambil alih kewenangan untuk membuat aturan kehidupan dan menyingkirkan hukum yang Allah turunkan. Padahal Allah menegaskan, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40). Maka ketika hukum Allah tidak lagi menjadi dasar dalam mengatur kehidupan, yang bergeser bukan sekadar sebuah aturan, tetapi Allah sebagai Al-Hakim, Zat yang berhak menetapkan hukum bagi manusia. Karena itu, kembali kepada syariat bukan hanya soal mencari hukum yang lebih adil, tetapi mengembalikan kehidupan kepada aturan yang berasal dari Allah.

Ketika syariat dipisahkan dari kehidupan, yang hilang bukan sekadar sejumlah hukum. Yang hilang adalah bangunan kehidupan yang dahulu pernah diwujudkan Rasulullah ﷺ. Kita mengambil Islam dalam sebagian ruang, tetapi membiarkan ruang kehidupan lainnya berjalan dengan aturan yang berbeda dari petunjuk wahyu. Allah telah mengingatkan, “Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85). Persoalannya bukan karena Islam tidak sempurna. Allah telah menegaskan, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3). Yang perlu kita renungkan adalah apakah kita mau kembali menjadikan kesempurnaan syariat itu hadir dalam kehidupan.

Sebab bagaimana mungkin seluruh kesempurnaan Islam diwujudkan jika syariat hanya dijalankan dalam ruang pribadi, sementara hukum, ekonomi, pendidikan, keamanan, pengelolaan kekayaan dan urusan masyarakat berjalan dengan aturan lain? Ada bagian dari syariat yang menjadi kewajiban individu, tetapi ada pula hukum-hukum yang pelaksanaannya membutuhkan kekuasaan dan institusi negara. Karena itu, kehidupan Islam secara menyeluruh tidak mungkin terwujud hanya dengan kesalehan individu dan aktivitas di masjid atau majelis. Dibutuhkan negara yang menjadikan syariat Allah sebagai dasar dan memiliki kekuasaan untuk menerapkannya dalam kehidupan. Rasulullah ﷺ telah mencontohkannya di Madinah.

Madinah bukan sekadar tempat hijrah. Di sanalah Rasulullah ﷺ mewujudkan kehidupan masyarakat yang berlandaskan wahyu. Beliau memimpin umat, mengatur urusan rakyat, menerapkan hukum, mengangkat para pejabat dan hakim, mengatur ekonomi, pertahanan dan hubungan dengan kelompok lain. Allah berfirman, “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” (QS. Al-Ma’idah: 49). Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan Islam. Beliau menerapkannya.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, kepemimpinan umat tidak berhenti. Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum melanjutkan kepemimpinan umat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Dalam hadis Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ juga menggambarkan fase pemerintahan umat hingga akhirnya bersabda, “Kemudian akan kembali Khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad).

Maka kenabian memang telah berakhir, tetapi risalah Islam tidak berakhir bersama wafatnya Rasulullah ﷺ. Yang kita rindukan bukan sekadar masa lalu. Yang kita rindukan adalah kembalinya kehidupan Islam. Kehidupan yang menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman, sebagaimana Rasulullah ﷺ dahulu mewujudkannya di Madinah.

Kita tidak sedang merindukan masa lalu karena romantisme sejarah. Kita merindukan masyarakat yang menjadikan halal dan haram sebagai pertimbangan, keluarga yang dibangun dengan iman, pendidikan yang melahirkan generasi bertakwa, ekonomi yang tidak menjadikan riba sebagai napas kehidupan, hukum yang bersumber dari wahyu, kekayaan yang dikelola untuk kemaslahatan rakyat dan kepemimpinan yang memandang kekuasaan sebagai amanah untuk mengurus umat.

Mungkin inilah yang sering luput ketika Maulid tiba. Kita begitu sibuk mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi belum cukup dalam mengenang perjuangannya. Kita mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, tetapi kemudian kita perlu bertanya dengan jujur: di mana cahaya itu sekarang?

Apakah cahaya itu hilang?

Tidak.

Al-Qur’an masih ada. Sunnah masih ada. Syariat masih ada. Jalan yang ditunjukkan Rasulullah ﷺ masih ada.

Cahayanya tidak padam. Kitalah yang harus kembali kepadanya.

Maka jika Maulid adalah momentum untuk menyatakan cinta kepada Rasulullah ﷺ, mungkin sudah waktunya kita bertanya lebih jujur: apakah kita hanya ingin mengenang kelahirannya, atau sungguh-sungguh ingin menghidupkan kembali risalah yang beliau perjuangkan?

Sebab Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan kita sekadar kenangan.

Beliau meninggalkan risalah.
Beliau meninggalkan jalan perjuangan.
Beliau meninggalkan cahaya.

Dan jika kita benar-benar merindukan Rasulullah ﷺ, jangan hanya rindukan pertemuan dengannya kelak.

Rindukan pula kembalinya kehidupan yang menjadikan risalah beliau sebagai pedoman.

Karena cahaya Islam bukan hanya untuk menerangi masjid. Bukan hanya untuk menerangi majelis. Bukan hanya untuk terdengar dalam lantunan shalawat.

Cahaya itu diturunkan untuk menerangi kehidupan manusia.

Dan mungkin, pada Maulid tahun ini, pertanyaan yang paling jujur untuk kita jawab adalah:

“Jika Rasulullah ﷺ melihat umatnya hari ini, apakah beliau akan melihat umat yang sekadar mengenang kelahirannya, atau umat yang sedang bersungguh-sungguh menghidupkan kembali risalahnya?”

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah ﷺ, kepada keluarga dan para sahabat beliau. Semoga Allah menjadikan cinta kita kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya sebagai ucapan, tetapi menjadi kesungguhan untuk mengikuti sunnah dan memperjuangkan risalah yang beliau bawa. Semoga Allah menghidupkan kembali cahaya Islam dalam kehidupan umat dan mempertemukan kita kelak bersama Baginda Rasulullah ﷺ dalam keadaan beliau ridha kepada kita.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Bagikan:
KOMENTAR