Oleh : A. Rafika Noor Adita (Pemerhati Sosial)
Dunia pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja, faktanya polisi telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap guru di Kalimantan Timur. Ketiga tersangka diamankan setelah penyelidikan atas kasus yang dipicu teguran korban kepada pelajar SMA yang merokok dan berseragam sekolah. Pelajar tersebut tidak terima dinasehati kemudian mereka mengeroyok korban.
Sebelumnya juga terjadi kasus serupa yakni guru yang dikeroyok murid sempat terjadi di SMKN 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada Januari 2026. Peristiwa ini dipicu ketegangan saat guru menegur siswa yang tidak sopan, lalu berujung adu fisik dan mediasi pihak kepolisian.
Kasus tersebut menjadi gambaran memudarnya penghormatan terhadap guru. Teguran yang seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab dalam mendidik justru berujung pengeroyokan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa saat ini hubungan guru dan peserta didik semakin bergeser. Guru tidak lagi dipandang sebagai sosok pendidik yang layak dihormati, sementara sebagian siswa kehilangan kesadaran bahwa menerima nasihat dan koreksi merupakan bagian penting dari proses menuntut ilmu.
Memudarnya adab kepada guru tidak dapat dilepaskan dari arah sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis dari pada pembentukan kepribadian. Pendidikan cenderung menempatkan keberhasilan pada aspek nilai, kompetensi, dan prestasi, sementara penanaman akhlak, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab moral sering kali tidak menjadi fokus utama. Akibatnya, lahirlah generasi yang memiliki pengetahuan, tetapi kurang memiliki adab dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk kepada guru.
Sistem tatanan kehidupan yang jauh dari agama membuat kebiasaan dan tingkat laku pemuda pun berubah. Mulai dari kebiasaan merokok yang merugikan diri sendiri dan sekitar, hingga emosi yang tidak dapat dikontrol sehingga menimbulkan kekerasan. Naluri mempertahankan diri memang fitrah, namun jika tidak disalurkan sesuai syariat justru akan merugikan orang lain, ditambah akan menimbulkan dosa apabila itu menyakiti.
Hal ini tentu berbeda dengan Islam yang notabene bukan hanya sekedar agama tetapi juga sistem kehidupan. Islam memandang pendidikan bukan hanya sekadar mencetak orang pintar secara akademis, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Dalam sistem pendidikan Islam bahwa adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang.
Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Negara dalam sistem Islam memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. Agar menjadi pribadi yang cerdas dan bertakwa. Wallahu’alam bishawab.