Oleh : Ani Mujayanti
Kasus pengeroyokan terhadap seorang guru oleh tiga pelajar SMA akibat teguran karena diduga merokok dan mengenakan seragam sekolah menjadi cerminan buram dunia pendidikan kita hari ini. Teguran yang seharusnya dimaknai sebagai wujud kepedulian justru memicu amarah hingga berujung tindakan kriminal. Kini, ketiga pelajar tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. (Kaltim, Detik kaltim 27/07/2026) Sungguh memilukan. Peristiwa ini hanyalah satu dari sekian banyak fenomena serupa yang mencuat ke permukaan. Rasa hormat dan segan murid terhadap guru seakan kian meluntur. Saat kepedulian pengajar tak lagi diindahkan oleh mereka yang berstatus sebag ai penuntut ilmu, ada hal mendasar yang sedang rusak dalam proses pendidikan kita.
Pelajar yang seharusnya siap belajar dan dididik justru kehilangan kesadaran hakikinya. Menuntut ilmu bukan sekadar mengumpulkan tugas dan menaikkan angka di rapor, melainkan juga menanamkan rasa taat dan hormat kepada guru pahlawan tanpa tanda jasa. Sikap siap menerima koreksi dan menyadari kesalahan adalah bagian alami dari proses pembentukan diri yang kini kian langka ditemui.Kenyataan ini memberi sinyal kuat bahwa sistem pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Adab terhadap guru seolah tak lagi dianggap penting, kalah mentereng dibanding pencapaian akademik. Indikator keberhasilan peserta didik saat ini terlalu sering diukur dari nilai tinggi, deretan prestasi, dan status di mata masyarakat. Akhlak yang baik dan kesantunan seolah dipinggirkan jika tidak disertai keunggulan di atas kertas. “Asal unggul dan berprestasi, kamu aman” begitulah cara sistem membentuk generasi penerus.
Ketika pelajar dicetak sekadar untuk memenuhi kebutuhan target pasar, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin adab. Inilah konsekuensi logis dari penerapan sistem sekularisme yang memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan dan standar norma anak muda pun bergeser. Remaja yang tidak merokok justru dianggap aneh, dan mereka yang tidak mengikuti gim terkini dianggap tertinggal. Ketidakmampuan mengontrol emosi akibat dorongan ego yang tak terarah akhirnya melahirkan tindakan hedonis dan anarkis yang merugikan orang lain.
Dalam pandangan Islam, kecerdasan adalah buah dari proses, namun adab adalah fondasinya. Memuliakan guru merupakan prinsip utama yang ditanamkan sejak dini, sementara guru mendidik dengan keteladanan dan kasih sayang. Melalui sistem pendidikan yang terarah dan berlandaskan akidah, negara bertugas mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian Islami yang kokoh.
Sudah saatnya kita mengevaluasi arah pendidikan bangsa ini. Hanya dengan Sistem islam yang secara sistematis mengatur pendidikan dengan rapi dan tersusun dengan baik. Hingga menghasilkan generasi penerus peradaban dengan pemikiran yang cemerlang dan berkepribadian islam. Wallahua’lam