Oleh : Ummu Aiman
Terdapat beberapa kasus viral terkait perundungan (bullying) salah satunya yang melibatkan nakes dan juga pasien BPJS yakni Yurizal asal Kabupaten Bogor yang menuliskan di akun Threads-nya mengeluh tak kunjung mendapat ruangan rawat meski sudah menunggu 8 jam lamanya. Alih-alih mendapat komentar positif, ia malah mendapat komentar nirempati dari beberapa oknum nakes dan kasus ini pun memicu kemarahan publik, apalagi pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 2026 (kompas.id/artikel)
Kasus bullying di Indonesia sudah sangat sering terjadi di lingkungan umum, pendidikan, bahkan sampai di lingkungan kesehatan. Kasus bullying terus berulang dengan wajah yang berbeda, apalagi di zaman yang canggih ini kasus bullying yang ada di media sosial juga tak kalah memprihatinkan. Fakta ini menunjukkan bagaimana dampak dari lemahnya ketakwaan individu, kurangnya rasa empati terhadap sesama, sistem pendidikan yang rusak dan jauh dari beramar ma'ruf nahi mungkar.
Menyinggung soal kesehatan, bisa dilihat bahwa nasib rakyat di sistem kapitalis saat ini tak lagi menjadi prioritas. Penanganan pasien justru bergantung pada jelas atau tidaknya biaya, administrasi dan lainnya. Wajar jika hal ini terus terjadi meskipun RS yang menangani adalah rumah sakit besar dan didukung oleh canggihnya alat kesehatan, karena kapitalisme inilah yang membuat semuanya berperinsip materialisme. Negara pun juga demikian, sangat absen dalam mengurus rakyat, ia tidak memikul tanggungjawab kesehatan dan keselamatan rakyat secara adil. Dalam hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam, kesehatan adalah hak dasar yang wajib disediakan oleh negara secara langsung dan tidak dijadikan ladang investasi. Pelayanan kesehatan negara Islam diberikan gratis kepada rakyat tanpa syarat apapun, dan pasien pun akan dilayani berdasarkan kebutuhan bukan karena mampu atau tidak.