‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Budaya Self Reward dan Gaya Hidup Hedonis Gen-Z in this Economy


author photo

7 Sep 2026 - 16.55 WIB




Generasi-Z merupakan generasi yang tumbuh besar di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat. Mereka memiliki tuntutan untuk hidup mandiri, produktif, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, kondisi ekonomi hari ini semakin menghimpit para pemuda ini. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan bahwa mereka tidak merasa aman secara finansial.

Berbicara soal finansial, Gen-Z memiliki gaya hidup yang cukup berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Mereka rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk self-reward atau "hadiah" dengan membeli sesuatu sebagai bentuk apresiasi terhadap diri mereka sendiri atas sesuatu yang telah dicapai (Kompas.com, 12/8/2026). Selain itu "healing" atau jalan-jalan ke suatu tempat sebagai bentuk penyegaran dari aktivitas sehari-hari yang padat juga menjadi budaya mayoritas Gen-Z yang tentunya juga turut menguras kantong mereka. 

Meski kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, faktanya alokasi belanja Gen-Z untuk self-reward dan gaya hidup justru terus meningkat. Namun pengeluaran tersebut tidak dipandang sebagai suatu kemewahan, tetapi dianggap sebagai kebutuhan emosional untuk menjaga diri tetap "waras" dan bahagia.

Namun, ada pertanyaan besar dibalik fenomena ini. Mengapa generasi muda hari ini berada dalam tekanan ekonomi dan senantiasa mencari kebahagiaan melalui perilaku konsumsi?
Dalam sistem kapitalisme, ekonomi dijalankan atas asas keuntungan bukan berdasarkan halal-haram. Para pengusaha bekerjasama dengan penguasa demi melegalisasi kepentingannya untuk bisa meraup untung sebanyak-banyaknya. Distribusi ekonomi yang tidak sesuai dan hanya berputar pada sekelompok elit semakin menghimpit masyarakat.

Biaya hidup terus meningkat, sementara pendapatan dan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak sangatlah kecil. Generasi muda akhirnya dipaksa untuk berjuang sendirian. Mereka berlomba-lomba meningkatkan skill, mencari pekerjaan tambahan, hingga memutar otak untuk menciptakan sumber penghasilan sendiri.

Mirisnya, negara tidak hadir untuk menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. Sumber daya alam yang melimpah di negeri ini seharusnya lebih dari cukup untuk menjadikan sumber yang menyejahterakan masyarakat jika dikelola dengan benar. Dengan demikian, masalah finansial Gen Z bukanlah soal individu yang tidak cakap dalam mengatur keuangan. Namun, ada sistem ekonomi yang turut menciptakan kondisi tersebut.

Malangnya, tekanan ekonomi ini dibersamai dengan kehidupan sekuler-liberal yang memisahkan aturan agama dari kehidupan dan kebebasan jadi sesuatu yang dielu-elukan. Media sosial setiap waktu menyuguhi kaum muda dengan beragam barang viral, tempat nongkrong, sampai tren-tren tertentu yang seakan wajib diikuti. Hingga munculah istilah FOMO (Fear of Missing Out) alias takut tertinggal tren. Belanja pun bukan sekadar membeli sesuatu, tetapi jadi simbol pencapaian dan bentuk apresiasi kepada diri sendiri. 

Gambaran kehidupan generasi muda yang seperti ini mengindikasikan kaburnya pemahaman mereka terhadap tujuan hidupnya. Jika melihat pada sudut pandang Islam, tujuan hidup manusia telah Allah Swt. jelaskan dalam firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
(Q.S. Az-Zariyat [51] :56)

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan manusia murni untuk beribadah kepada Nya. Maka standar hidup yang dipegang yaitu mengikuti segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah Swt. sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah. Bukan mengikuti standar manusia yang senantiasa berubah-ubah setiap masanya. 

Adapun pengaturan sistem ekonomi dalam Islam, negara bertanggung jawab mengelola sumber daya alam sebagai kepemilikan umum yang hasilnya akan dikembalikan lagi untuk kemaslahatan masyarakat. Negara juga berkewajiban menjamin kebutuhan dasar dan menyediakan kondisi yang memungkinkan rakyatnya memperoleh pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Selain itu, negara dalam Islam juga memiliki tanggung jawab menjaga masyarakatnya dari budaya merusak. Media sosial tidak akan dibiarkan mendorong perilaku konsumtif dan menyuguhi tren unfaedah. Namun, media sosial dijadikan wadah untuk menyebarluaskan konten-konten yang semakin membangun ketakwaan, menguatkan aqidah, dan membentuk generasi yang memiliki pemikiran Islam. Dengan begitu, generasi muda akan memahami misi mulianya sebagai pembangun peradaban Islam. 

Wallahua'lam bishshawwab
Bagikan:
KOMENTAR