Oleh: Faiz Zahra
Pernah kah kita bertanya, mengapa angka stunting terus naik dan menjadi persoalan berulang? Belum lama ini, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, turut menanggapi kondisi stunting di Kota Balikpapan. Dari peninjauan yang dilakukan, ditemukan bahwa angka stunting kembali mengalami kenaikan. Padahal, sebelumnya angka tersebut sempat turun drastis hingga mencapai 17 persen.
Menurutnya, kenaikan tersebut salah satunya disinyalir berkaitan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang datang dari luar daerah. Keluarga yang berpindah dan menetap di Balikpapan kemudian melahirkan di wilayah tersebut sehingga anak mereka tercatat sebagai bagian dari penduduk kota.
https://share.google/xajq5jPt6aECmH4Yp
Namun, jika kenaikan angka stunting hanya dijelaskan dari faktor perpindahan penduduk, apakah persoalannya benar-benar selesai? Justru di sinilah sistem perlu dikaji ulang. Sebab, stunting tidak berdiri sendiri. Ada berbagai kondisi yang dapat memengaruhinya, mulai dari ekonomi, kesehatan, pendidikan, pola asuh, hingga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar.
Mari kita lihat kehidupan keluarga hari ini. Pengeluaran rumah tangga terus berjalan: listrik, air, pajak, pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, kemampuan ekonomi setiap keluarga tentu berbeda. Ketika pendapatan terbatas sementara kebutuhan semakin banyak, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi salah satu hal yang ikut terdampak. Makanan bergizi tentu membutuhkan biaya. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk menyediakan makanan dengan kualitas dan jumlah yang cukup bagi anak-anak mereka.
Maka, bagaimana mungkin keluarga diminta memenuhi kebutuhan gizi dengan baik jika kemampuan ekonominya terus tertekan? Pertanyaan inilah yang membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi yang diterapkan saat ini, yaitu kapitalisme yang membuat pemenuhan berbagai kebutuhan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kemampuan daya beli.
Kebutuhan dasar seperti makanan bergizi dan kesehatan sering kali bergantung pada kemampuan masing-masing keluarga. Padahal, kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar bukan sekadar persoalan individu. Di sinilah negara seharusnya hadir dan mengambil tanggung jawab.
Islam memiliki pandangan yang berbeda. Dalam Islam, pemimpin bukan sekadar orang yang memiliki kekuasaan. Ia adalah pengurus dan pelindung rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas masyarakat yang dipimpinnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi sebuah amanah. Karena itu, negara dalam Islam tidak boleh hanya hadir ketika masyarakat sudah mengalami masalah. Negara harus membangun sistem yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat sejak awal. Termasuk dalam persoalan stunting.
Jika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, keluarga memiliki kondisi ekonomi yang layak, akses kesehatan mudah didapatkan, dan pendidikan tersedia dengan baik, maka berbagai faktor yang dapat memicu stunting dapat dicegah secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, Islam tidak hanya berusaha mengobati masalah setelah terjadi, tetapi juga membangun sistem yang mampu mencegah masalah sejak dari akarnya.
Stunting bukan sekadar persoalan angka yang naik atau turun. Di balik angka tersebut ada anak-anak yang sedang tumbuh, keluarga yang sedang berjuang, dan masa depan generasi yang sedang dipertaruhkan. Karena itu, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan program kesehatan atau imbauan kepada orang tua. Persoalannya perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk dari sisi ekonomi dan tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat.
Jadi kalau kita ingin melahirkan generasi yang sehat dan kuat, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan hanya programnya, tetapi juga sistem yang menjadi fondasinya. Ayo kita perjuangkan Islam!